JAKARTA, Bisnistoday- Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu (14/12) ditutup menguat 64 poin ke posisi Rp15.593 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan hari sebelumnya di posisi Rp15.657 per dolar AS. Penguatan kali ini ditopang ekspektasi berkurangnya agrevitas bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed usai rilis data inflasi AS.
Analis Monex Investimendo Futures, Faisyal dalam kajiannya di Jakarta, Rabu (14/12) menyebutkan pada perdagangan hari ini dolar AS melemah dipicu rilis data inflasi konsumen AS yang lebih rendah dari estimasi yang memperkuat ekspektasi bahwa The Fed dalam pertemuannya yang hasilnya diumumkan tengah malam nanti akan memberikan keputusan yang tidak agresif.
Dolar AS terkoreksi dibalik pasar yang mempertimbangkan rilis data inflasi konsumen AS yang turun lebih lanjut pada November, yang mengindikasikan bahwa tekanan harga di AS telah mencapai puncaknya dan kemungkinan akan menurun.
Baca juga: Pasar Nantikan Hasil Pertemuan The Fed, Rupiah Menguat Tipis
Data menunjukkan bahwa inflasi konsumen AS turun lebih besar dari perkiraan untuk menjadi 7,1 persen (yoy) pada November pada tingkat tahunan, yang disebabkan oleh kebijakan moneter yang ketat, penurunan harga bahan bakar, dan pertumbuhan ekonomi yang melambat di AS. Angka inflasi tersebut juga menjadi yang terendah dalam setahun terakhir.
Fokus pasar saat ini tertuju ke kesimpulan dari pertemuan The Fed terakhir pada tahun ini yang hasilnya diumumkan pada Kamis dini hari nanti. Bank sentral AS itu diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin (bps).
Setelah itu pasar juga akan menantikan pidato dari Ketua The Fed Jerome Powell untuk melihat apakah bank sentral berpikir inflasi telah cukup mereda untuk mulai memangkas laju kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Rupiah pada pagi hari dibuka menguat ke posisi Rp15.556 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp15.555 per dolar AS hingga Rp15.648 per dolar AS.
Sementara itu kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Rabu menguat ke posisi Rp15.619 per dolar AS dibandingkan posisi hari sebelumnya Rp15.661 per dolar
Jaga Stabilitas Rupiah
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menyampaikan kebijakan yang diterapkan oleh Bank Indonesia (BI) dapat menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, khususnya pada 2023.
Dia menjelaskan kebijakan tersebut di antaranya triple intervention, yaitu upaya intervensi pada pasar spot valuta asing (valas), Domestic Non-Delivery Forward (DNDF), dan pasar Surat Berharga Negara (SBN).
Kemudian, implementasi Local Currency Settlement (LCS), yaitu mendorong negara di kawasan Asia untuk menggunakan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi, agar tidak bergantung pada dolar Amerika Serikat (AS).
Selain itu, disiplin devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam (SDA), dengan mendorong para pelaku eksportir untuk lebih lama memarkir devisa hasil ekspornya ke domestik, sehingga nilai tukar rupiah akan relatif lebih stabil.
Menurutnya, sebenarnya kondisi fundamental perekonomian Indonesia cenderung solid, yang ditunjukkan dengan surplus neraca perdagangan selama 30 bulan berturut turut .
Ditambah, neraca transaksi berjalan juga surplus selama lima triwulan berturut-turut sejak triwulan III-2021.
Namun demikian, sentimen pasar keuangan di tingkat global yang dipicu oleh agresivitas The Federal Reservemembuat mata uang dolar AS menguat terhadap mata uang negara lain, termasuk Garuda.
“Yang perlu diperhatikan, kondisi yang terjadi bukan rupiah satu satunya mata uang yang melemah terhadap dolar AS, tetapi dolar AS yang menguat terhadap mata uang di seluruh dunia, termasuk mata uang negara maju,” kata Josua seperti dikutif Antara. Namun demikian, menurutnya, adanya perkirakan bahwa The Fed tidak akan seagresif tahun ini, akan membuat tekanan dolar AS terhadap nilai mata uang Asia, termasuk Indonesia akan relatif terbatas pada tahun depan./


