JAKARTA, Bisnistoday – Berdasarkan survei calon pembeli rumah di Kota Jakarta, para kaum milenial cenderung memiliki hunian ramah hijau dan hemat energi. Survei calon pembeli rumah melibatnya sebanyak 360 responden yang berada di kawasan urban utama Indonesia.
“Semakin positif penilaian mereka (calon pembeli muda) terhadap kebijakan hunian hijau, semakin tinggi pula minat dan keterlibatan mereka terhadap rumah hijau. Kebijakan di sini bukan hanya sekadar aturan teknis, tapi juga mencakup sosialisasi, program, dan sinyal bahwa negara serius mendorong hunian yang lebih berkelanjutan,” ungkap Ardra Teja Bhaswara, Direktur PT Pulo Mas Jaya, Wakil Ketua DPD REI DKI Jakarta, Kamis (9/4).
Ardra mengutarakan, konsep yang disebut sebagai Green Perceived Value menjelaskan hal ini. Bagi calon pembeli, rumah hijau akan tertarik jika merasakan beberapa hal seperti, biaya jangka panjang lebih hemat, rumah lebih sehat dan nyaman, serta ada kebanggaan tersendiri karena bisa berkontribusi pada lingkungan.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa hampir separuh pengaruh kebijakan terhadap minat beli ternyata berjalan melalui jalur persepsi nilai ini. Regulasi yang baik namun tidak mampu menjawab pertanyaan sederhana, seberapa manfaat bagi pembeli maka akan sulit regulasi ini diterapkan secara efektif.
Hal serupa, lanjut Ardra, bahwa insentif seperti potongan pajak, subsidi, atau skema kredit khusus tidak banyak direspon, karena tidak semua orang menempatkan insentif di urutan teratas. “Bagi sebagian anak muda kota, alasan kualitas hidup, kesehatan, dan nilai jangka panjang justru lebih penting dibanding potongan biaya jangka pendek.”
Menurut Ardra Tedja Baswara, apabila regulasi, persepsi nilai, insentif, dan pengaruh sosial ini bisa dijahit menjadi satu, hunian hijau bukan lagi sekadar jargon dalam dokumen resmi. “Mereka bisa menjelma menjadi rumah-rumah nyata yang lebih hemat, lebih sehat, dan lebih bersahabat dengan bumi.”/


