www.bisnistoday.co.id
Kamis , 17 September 2026
Home HEADLINE NEWS The Fed Tahan Suku Bunga, Rupiah Menguat: Indonesia Tetap Percaya Diri di Tengah Gejolak Global
HEADLINE NEWS

The Fed Tahan Suku Bunga, Rupiah Menguat: Indonesia Tetap Percaya Diri di Tengah Gejolak Global

Gedung The Fed di Wahington DC.
The Federal Reserve di Washington, AS.
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday –  Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) kembali menahan suku bunga acuannya di kisaran 3,5–3,75 persen, sebuah keputusan yang dinilai mencerminkan kehati-hatian di tengah ekonomi AS yang masih menunjukkan ketahanan. Di sisi lain, keputusan ini justru membawa angin segar bagi pasar keuangan Indonesia, ditandai dengan penguatan nilai tukar rupiah dan stabilnya pasar obligasi negara.

Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa, menilai kebijakan The Fed sudah sejalan dengan ekspektasi pasar. Aktivitas ekonomi AS masih relatif kuat, sementara pasar tenaga kerja mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. “Pertumbuhan lapangan kerja memang melambat, tetapi tingkat pengangguran justru sedikit menurun. Ini memberi ruang bagi The Fed untuk menahan suku bunga dan mengevaluasi dampak pemangkasan yang telah dilakukan sebelumnya,” ujarnya.

Seperti diungkapkan di media, bahwa Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa ketegangan antara target inflasi dan ketenagakerjaan kini mulai mereda dibandingkan periode sebelumnya. Kondisi ini memungkinkan bank sentral AS untuk bersikap lebih sabar, meskipun tekanan politik untuk memangkas suku bunga secara agresif kembali menguat.

Powell juga menekankan pentingnya independensi bank sentral, terutama di tengah meningkatnya sorotan politik dan isu hukum yang mengemuka. Menurutnya, kredibilitas kebijakan moneter hanya bisa dijaga jika keputusan diambil secara berbasis data dan bebas dari intervensi politik. “Independensi bank sentral adalah fondasi yang sangat sulit dipulihkan jika hilang,” tegas Powell dalam pernyataannya.

Dampak Positif ke Pasar Indonesia

Di tengah dinamika global tersebut, pasar keuangan Indonesia justru menunjukkan ketahanan. Nilai tukar rupiah menguat ke level Rp16.706 per dolar AS, meski sempat terjadi penghentian sementara perdagangan saham. Penguatan ini ditopang oleh pelemahan dolar AS, dengan indeks dolar (DXY) mendekati level 96.

Tak hanya itu, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun bertahan stabil di kisaran 6,37 persen, sejalan dengan imbal hasil US Treasury 10 tahun di level 4,24 persen. Kondisi ini menjaga selisih imbal hasil (spread) di atas 210 basis poin, yang dinilai masih sangat menarik bagi investor asing.

Sementara itu, Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun sedikit naik ke level 74 basis poin. Namun, angka ini masih tergolong rendah secara historis dan mencerminkan persepsi risiko kedaulatan Indonesia yang tetap terjaga.

“Stabilitas imbal hasil obligasi, pelemahan dolar global, dan indikator risiko yang terkendali memberi sinyal bahwa rupiah relatif stabil dalam jangka pendek,” kata Jessica. Ia menambahkan, di tengah ketidakpastian global, SBN tenor pendek hingga menengah masih menjadi instrumen yang menarik bagi investor.

Pemerintah Perkuat Fondasi Fiskal

Dari dalam negeri, pemerintah juga menunjukkan langkah konsolidasi kebijakan yang dinilai positif oleh pasar. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengisyaratkan bahwa Juda Agung menjadi kandidat kuat untuk posisi Wakil Menteri Keuangan. Langkah ini dinilai memperkuat kesinambungan dan kredibilitas kepemimpinan fiskal nasional.

Selain itu, pelantikan 22 pejabat eselon tinggi di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) mencerminkan komitmen pemerintah dalam memperkuat institusi dan administrasi penerimaan negara. Reformasi birokrasi ini diharapkan meningkatkan efektivitas pengelolaan fiskal di tengah tantangan global yang semakin kompleks.

Konsumsi Domestik Jadi Andalan

Menurut Jessica, di tengah risiko geopolitik dan volatilitas pasar keuangan global, pemerintah tetap mengandalkan permintaan domestiksebagai penopang utama perekonomian. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap solid, masing-masing 5,1 persen pada 2025 dan 5,3 persen pada 2026.

Pertumbuhan tersebut didukung oleh stimulus fiskal yang lebih terarah, terutama untuk memperkuat konsumsi rumah tangga kelas menengah, yang menyumbang sekitar 80 persen dari total konsumsi nasional. Kelompok ini dinilai menjadi kunci keberlanjutan momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Namun demikian, para pelaku pasar mengingatkan bahwa sensitivitas terhadap sinyal kebijakan masih tinggi. Oleh karena itu, komunikasi kebijakan yang jelas, konsisten, dan tepat waktu menjadi faktor krusial untuk menjaga kepercayaan investor dan menambatkan ekspektasi pasar.Di tengah dunia yang terus diliputi ketidakpastian, stabilitas makroekonomi dan kredibilitas kebijakan menjadi modal utama Indonesia untuk tetap melaju dengan percaya diri.//

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

GEDUNG BEI
HEADLINE NEWS

Ganti Menteri Keuangan, Pengamat Soroti Kredibilitas Fiskal

JAKARTA, Bisnistoday– Pasar keuangan Indonesia memasuki fase yang menuntut investor semakin selektif...

Wamen Ossy
HEADLINE NEWS

Wamen Ossy: Kementerian ATR/BPN Hormati Proses Hukum dan Pastikan Layanan Pertanahan Tetap Berjalan

JAKARTA, Bisnistoday - Menanggapi pertanyaan wartawan terkait isu yang saat ini berkembang,...

Menteri Suahasil
HEADLINE NEWS

Presiden Prabowo Lantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan

JAKARTA, Bisnistoday -Presiden Prabowo Subianto melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan Kabinet...

Gedung Balaikota DKI
HEADLINE NEWS

Kontroversi Obligasi Daerah Jakarta, Pakar Ingatkan Risiko Gagal Bayar

JAKARTA, Bisnistoday -  Rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerbitkan obligasi daerah menuai...