www.bisnistoday.co.id
Selasa , 28 Juli 2026
Home GLOBAL Tudingan Deforestasi Industri Kelapa Sawit Dinilai Provokatif
GLOBALKawasan GlobalLingkunganNASIONAL & POLITIK

Tudingan Deforestasi Industri Kelapa Sawit Dinilai Provokatif

tudingan deforestasi
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Data yang baru-baru ini dirilis Global Forest Watch (GFW) yang merupakan data dari global land analysis and discovery, University of Marryland bahwa Indonesia tercatat negara yang memperlihatkan laju deforestasi yang tinggi, dipandang sebagai provokatif. 

Direktur Inventarisasi dan Pemantauan Sumber Daya Hutan, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Belinda Arunawati Margono dalam seminar online #INApalmoil Talkshow bertajuk “Palm oil and Neocolonialism Agenda” yang diadakan oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) pada Rabu (15/7)) menegaskan, data global semestinya tidak digunakan untuk level dibawahnya atau dikenal dengan multistage monitoring system. Data Global tidak dapat melihat secara lebih akurat. 

“Metodologi dan terminologi yang digunakan untuk mendefinisikan deforestasi di ranah global berbeda dengan skala nasional sehingga dapat menghasilkan data yang rancu dan mendorong interpretasi keliru terhadap sebuah informasi yang dipublikasikan.”

Belinda Arunawati Margono

Selain itu, menurut Belinda, terdapat perbedaan istilah serta tidak dijelaskan duduk perkara dari kondisi lapangan maupun metodologinya data global sehingga kerapkali menimbulkan kerancuan dan perbedaan interpretasi. 

“Data yang digunakan pada skala global tidak dapat digunakan secara langsung dikarenakan metodologi sistem pemantauan level atau skala tertentu yang tidak dapat disamakan pada skala yang berbeda. Jika pemantauan dilakukan secara global, dibutuhkan kalibrasi data dan informasi untuk menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada pada skala nasional,” ungkap Belinda.

Belinda menuturkan, dengan menggunakan informasi tutupan lahan, GFW mengkategorikan hutan primer sebagai area dengan kerapatan tutupan pohon minimum 30%. “Metode yang digunakan adalah metode biophysical sehingga tidak dapat membedakan jenis hutan secara umum. Sensor dari citra satelit yang digunakan tidak dapat mengetahui apakah hutan yang dipantau adalah savanah, hutan kerdil ataupun lumut. Bahkan hutan tanam dan alam diidentifikasi sebagai hutan yang sama,” tegas Belinda.

Timbulkan Mispersepsi

Belinda mengatakan, data GFW menimbulkan misinterpretasi informasi ini menyebankan dampak kerugian pada berbagai sektor di Indonesia, salah satunya industri kelapa sawit. Dikatakan, kerap kalo tudingan deforestasi di Indonesia terjadi akibat pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit. 

Padahal Guru Besar Institute Pertanian Bogor (IPB) Yanto Santosa mengutip data Matthew pada tahun 1983 menyebutkan periode 1600 – 1980 merupakan awal mula deforestasi hutan dunia yang mencapai 701 juta ha yang terdiri dari hutan non tropis seluas 653 juta ha dan hutan tropis 48 juta ha.

Lebih lanjut, Yanto menyebut, puncak deforestasi di Indonesia adalah periode 1950-1985 dan 1985-2000 dimana ekspansi lahan untuk kelapa sawit hanya 1 juta dan 3 juta hektar dalam periode yang sama. Selain itu, dalam Penelitian Petrus Gunarso, Konversi lahan perkebunan sawit di Indonesia bermula dari penanaman kelapa sawit pada lahan yang terlebih dahulu terdegradrasi akibat kegiatan industri lain seperti kegiatan penebangan dan karet. 

Fakta Ironis

Data yang disampaikan oleh Yanto Santosa (2018) mengungkapkan 22% lahan sawit berasal dari hutan sekunder dan 72% berasal dari semak belukar, rawa, lahan terbuka, bekas perkebunan lain, bahkan dari bekas lokasi penambangan.

Fakta menarik lainnya, lanjut Yanto Santoso, awal pendirian perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara pada tahun 1863 dilakukan di area perkebunan tembakau yang kala itu pembukaan lahan dilakukan oleh negara eropa karena tembakau merupakan komoditas utama di pasar Eropa. 

“Ironisnya, saat ini Uni Eropa mengkategorikan kelapa sawit sebagai penyebab deforestasi utama dalam kebijakan Renewable Energy Directive II (RED) yang mengakibatkan terjadinya hambatan perdagangan bagi industri kelapa sawit ke Eropa,” tambahnya.

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Seorang petugas pemadam kebakaran menyemprotkan air ke hutan yang terbakar di wilayah Lege-Cap-Ferret, Prancis barat, pada 24 Juli 2026 [Caroline Blumberg/AP]
GLOBAL

Ribuan Orang Dievakuasi akibat Karhutla di Spanyol dan Prancis

JAKARTA, Bisnistoday - Lebih dari 267.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat...

Kapal Tanker (Ilustrasi/dok:unsplash/scott-tobin)
EnergiGLOBAL

Konflik Saudi dan Houthi Berpotensi Ganggu Pasokan Energi

JAKARTA, Bisnistoday - Arab Saudi dan pejuang militan Houthi yang pro-Iran saling...

Presiden AS Donald J Trump.
EKONOMIKawasan Global

Trump akan Terapkan Tarif Baru pada Lebih dari 80 Negara

JAKARTA, Bisnistoday – Amerika Serikat akan mengenakan tarif antara 10% atau 12,5%...

Gelombang panas pengaruhi Lahan pertanian di Eropa (dok:Unsplash/Hannah Shedrow)
Ekonomi RakyatLingkungan

Gelombang Panas Pengaruhi Harga Pangan di Eropa

JAKARTA, Bisnistoday - Gelombang panas yang melanda Eropa pada Juni lalu diperkirakan...