DEPOK, Bisnistoday — Universitas Indonesia melalui UI Halal Center resmi membuka UI Halal Expo 2025, gelaran perdana yang menghadirkan pameran, diskusi, dan kolaborasi ekosistem halal nasional. Acara berlangsung pada 25–27 November 2025 di Balairung UI Depok, mengangkat tema besar “Halal Lifestyle for a Better World.”
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, expo ini menghadirkan Talkshow 1 yang digelar pada Selasa, (25/11/2025), menghadirkan lima tokoh penting dalam pengembangan industri halal nasional. Talkshow bertema “Sinergi & Kolaborasi Mewujudkan Indonesia Sebagai Pusat Halal Dunia” ini menjadi forum strategis yang membahas tantangan dan masa depan ekosistem halal Indonesia.
Dalam sesi pembuka, Umar Aditiawarman, Ph.D., Deputi Direktur Rantai Nilai Halal KNEKS, menegaskan bahwa kampus memiliki peran fundamental dalam penguatan industri halal. Ia menyoroti pentingnya riset lintas fakultas dan pengembangan teknologi untuk jaminan produk halal di masa depan. “Inovasi makanan dan minuman berkembang sangat cepat. Untuk mendeteksi bahan nonhalal, kita memerlukan teknologi tinggi, dan itu hanya bisa tercipta dari kolaborasi fakultas teknik, sains, dan bisnis,” ujarnya.
Senada dengan itu, Rifki Ismail, Ph.D., Deputi Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, menyampaikan harapan agar UI Halal Center tidak hanya menjadi pusat riset halal di lingkungan UI, tetapi juga motor penggerak halal center di kampus-kampus seluruh Indonesia. “UI Halal Center harus menjadi lokomotif. Jika UI bermitra dengan KNEKS dan kementerian, akan muncul gerakan kolaboratif yang membuat kampus lain memiliki concern halal yang sama. Dampaknya akan masif,” jelasnya.
Sementara itu, H. Muhammad Fuad Nasar, S.Sos., M.Sc., Direktur Jaminan Produk Halal Kementerian Agama, menekankan pentingnya percepatan kolaborasi antar-fakultas agar kampus mampu menjawab kebutuhan industri halal nasional yang semakin kompleks. Ia memberikan contoh konkret mengenai kebutuhan teknologi traceability halal yang saat ini masih dilakukan secara manual. “Domain bisnisnya ada di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, tetapi bagaimana cara membuat sistem ketertelusuran halal digital ada di Fakultas Ilmu Komputer. Ini harus jadi agenda strategis,” katanya.
Selain membahas peran institusi besar, para pembicara juga menyoroti urgensi literasi halal bagi generasi muda. Umar Aditiawarman menegaskan bahwa transformasi industri halal tidak akan berjalan tanpa kesiapan SDM. “Kita tidak hanya butuh teknologi, tetapi juga anak muda yang paham halal dari hulu ke hilir. Kampus adalah pabriknya sumber daya manusia halal,” ucapnya menambahkan.
Rifki Ismail juga menilai bahwa mahasiswa kini memegang peranan sebagai agen perubahan yang mampu mengakselerasi ekosistem halal nasional. Ia bahkan mendorong UI Halal Center untuk memperkuat jejaring komunitas halal berbasis mahasiswa. “Kalau mahasiswa UI bergerak, kampus lain pasti ikut. Kita butuh gerakan kolektif yang lahir dari mahasiswa,” katanya.
Dari sisi regulasi, Fuad Nasar mengungkapkan bahwa Kementerian Agama terus memperbarui layanan sertifikasi halal agar lebih ramah bagi pelaku usaha, terutama UMKM. Ia menyebut bahwa kerja sama dengan perguruan tinggi dapat mempercepat proses edukasi publik terkait pentingnya sertifikasi halal. “UI memiliki jejaring sosial dan akademik yang kuat. Ini bisa menjadi jembatan agar edukasi halal lebih cepat sampai ke masyarakat,” ujarnya.
Afdhal Aliasar juga menambahkan bahwa Indonesia membutuhkan pusat penelitian halal yang benar-benar terintegrasi, bukan sekadar program jangka pendek. Menurutnya, expo seperti ini adalah langkah awal yang sangat baik, tetapi membutuhkan kesinambungan. “Riset halal tidak boleh sporadis. Harus ada roadmap jangka panjang yang disusun kampus dan dieksekusi bersama industri,” paparnya.
Para narasumber menekankan bahwa kolaborasi kampus–industri–regulator menjadi fondasi besar dalam mewujudkan Indonesia sebagai pusat halal dunia. Mereka menilai bahwa UI memiliki posisi strategis sebagai kampus riset terbesar di Indonesia, sehingga mampu menjadi jembatan antara kebijakan pusat, kebutuhan industri, dan inovasi akademik.
Moderator talkshow, Afdhal Aliasar, S.T., MBA, MIFP, Senior Partner Dinar Standard, menutup sesi dengan apresiasi terhadap peran UI sebagai inisiator expo halal terbesar di lingkungan pendidikan tinggi. “Harapan kami, Universitas Indonesia dapat terus mendorong berkembangnya industri halal dan ekonomi syariah di republik ini. Ini langkah penting untuk masa depan ekosistem halal nasional,” ujarnya.
Keberadaan UI Halal Expo 2025 juga mendapat apresiasi dari peserta yang hadir, terutama pelaku UMKM dan mahasiswa. Banyak di antara mereka yang mengaku baru memahami betapa luasnya industri halal, mulai dari sektor pangan, kosmetik, farmasi, hingga keuangan. “Saya kira halal hanya soal makanan. Ternyata ekosistemnya jauh lebih besar. Expo ini membuka wawasan saya,” ujar Adita Maharani, salah satu mahasiswa Farmasi, Universitas Indonesia yang mengunjungi Halal Expo 2025.
UI Halal Expo 2025 yang terbuka untuk umum ini juga menghadirkan pameran UMKM halal, workshop sertifikasi halal, konsultasi bisnis syariah, serta area edukasi gaya hidup halal yang diikuti berbagai lembaga, kementerian, dan mitra industri. Dengan kehadiran expo ini, UI Halal Center berharap dapat memperkuat integrasi antara riset, inovasi, regulasi, dan edukasi publik.
Gelaran perdana ini diharapkan menjadi pondasi bagi UI dan seluruh mitra strategis untuk melahirkan jaringan halal center nasional. Hal ini dapat memperluas dampak riset halal lintas disiplin, sekaligus mendukung agenda besar Indonesia menuju pusat halal dunia pada 2029. (E2-Khaylila Safitri).




