www.bisnistoday.co.id
Minggu , 19 April 2026
Home GLOBAL IMF Koreksi Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global
GLOBAL

IMF Koreksi Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global

EKONOMI GLOBAL : Wakil Direktur Pelaksana Pertama Gita Gopinath, pada suatu kesempatan, belum lama ini. IMF mengoreksi prediksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 4,4% atau turun 0,5 poin dari perkiraan sebelumnya.
Social Media

WASHINGTON, Bisnistoday – Didalam laporan  World Economic Outlook yang telah diperbaharui dari Dana Moneter internasional (IMF), memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global sedikit mengalami penurunan dari proyeksi pada Oktober lalu turun 0,5 poin menjadi sebesar 4,4%. Berbagai persoalan yang mengganggu ketidakstabilan pasokan dan suplay masih menghantui. 

Wakil Direktur Pelaksana Pertama Gita Gopinath mengatakan pada konferensi pers virtual, kemarin menyatakan, pertumbuhan melambat karena ekonomi masih bergulat dengan gangguan pasokan, inflasi yang lebih tinggi, rekor utang dan ketidakpastian yang terus-menerus. 

“Penyebaran varian Omicron yang cepat telah menyebabkan pembatasan mobilitas baru di banyak negara dan meningkatkan kekurangan tenaga kerja,” kata Gopinath, yang sebelumnya adalah Kepala Ekonom IMF.

Dia menambahkan bahwa sementara Omicron akan membebani aktivitas pada kuartal pertama tahun 2022, efek ini akan memudar mulai kuartal kedua.

“Gangguan pasokan masih membebani aktivitas dan berkontribusi pada inflasi yang lebih tinggi, menambah tekanan dari permintaan yang kuat dan kenaikan harga makanan dan energi,” kata Gopinath.

Selama tahun 2022, diasumsikan ketidakseimbangan pasokan-permintaan sesuai ekspektasi industri akan peningkatan pasokan, karena permintaan secara bertahap menyeimbangkan kembali dari barang ke jasa, dan dukungan kebijakan yang luar biasa ditarik.

Inflasi Tinggi

Didalam laporannya, IMF telah merevisi perkiraan inflasi 2022 untuk pasar negara maju dan emerging market dan negara berkembang, dengan tekanan harga yang tinggi diperkirakan akan bertahan lebih lama. Dengan asumsi ekspektasi inflasi tetap terjaga, inflasi diperkirakan akan mereda pada 2023.

‘Namun perkiraan tersebut mengikuti ketidakpastian yang tinggi dan risiko secara keseluruhan mengarah ke sisi penurunan, termasuk munculnya varian yang lebih mematikan,” kata Gopinath.

Dengan kenaikan suku bunga, negara-negara berpenghasilan rendah, di mana 60 persennya sudah berada dalam atau berisiko tinggi mengalami kesulitan utang, akan merasa semakin sulit untuk membayar utang mereka. Dia mengingatkan, untuk menyerukan perubahan Kerangka Umum G20 untuk memberikan restrukturisasi utang dengan lebih cepat.

Menurutnya, IMF telah berulang kali menekankan perbedaan dalam prospek di seluruh negara. “Sementara ekonomi maju diproyeksikan untuk kembali ke tren pra-pandemi tahun ini, beberapa negara emerging market dan negara berkembang diproyeksikan memiliki kerugian output yang cukup besar dalam jangka menengah,” kata Gopinath.

Sampai sekarang hanya 4 persen dari populasi negara-negara berpenghasilan rendah yang divaksinasi penuh dibandingkan 70 persen di negara-negara berpenghasilan tinggi, menurut pemberi pinjaman multilateral itu.

Ada kebutuhan “mendesak” untuk menutup kesenjangan pembiayaan 23,4 miliar dolar AS untuk Access to COVID-19 Tools Accelerator, sebuah platform global yang dipimpin oleh Organisasi Kesehatan Dunia, dan untuk mendorong transfer teknologi guna membantu mempercepat diversifikasi produksi global alat-alat medis penting, terutama di Afrika, kata Gopinath.

Kebijakan Nasional

Di tingkat nasional, katanya, kebijakan harus tetap disesuaikan dengan keadaan spesifik negara termasuk tingkat pemulihan, tekanan inflasi yang mendasari dan ruang kebijakan yang tersedia.

Gopinath mencatat bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk memastikan kerugian dapat dikendalikan dan untuk mengurangi kesenjangan yang lebar dalam prospek pemulihan di seluruh negara. Inisiatif kebijakan, katanya, diperlukan untuk mengembalikan kerugian belajar yang dialami anak-anak, terutama di negara berkembang.

 Ditengah iklim dukungan positif ini, untuk mencapai emisi karbon nol bersih pada 2050, dengan mekanisme penetapan harga karbon, investasi infrastruktur hijau, subsidi penelitian, dan inisiatif pembiayaan.

“Pembuat kebijakan harus waspada memantau peta luas data ekonomi yang masuk, mempersiapkan kontinjensi, dan siap untuk berkomunikasi dan melaksanakan perubahan kebijakan dalam waktu singkat,” katanya. “Secara paralel, kerja sama internasional yang berani, dan efektif harus memastikan bahwa ini adalah tahun di mana dunia lepas dari cengkeraman pandemi.”/Ant

Arsip

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

PERTAMINA IS THE ENERGY

TRADE EXPO INDONESIA 2025

SOROTAN BISNISTODAY

Beritasatu Network

Related Articles

EKONOMIGLOBALKawasan Global

Dampak Konflik Timur Tengah Bayangi Pertemuan IMF

JAKARTA, Bisnistoday - Perang antara AS dan Israel dengan Iran menjadi topik...

Perang Iran Israel
GLOBALHEADLINE NEWSKawasan Global

Pakistan Terus Upayakan Perdamaian di Timur Tengah

JAKARTA, Bisnistoday – Amerika Serikat dan Iran masih membahas rencana perundingan kedua...

Bendera Libanon (dok:Unsplash/charbel-karam)
GLOBALKawasan Global

Gencatan Senjata Israel-Libanon Ditanggapi Pesimis

JAKARTA, Bisnistoday – Pasukan Israel sepakat melakukan gencatan senjata dengan Hizbullah, milisi...

Presiden AS Donald J Trump.
GLOBALKawasan Global

Parlemen AS Kembali Gagal Hentikan Ambisi Donald Trump

JAKARTA, Bisnistoday – Kongres (Parlemen) Amerika Serikat kembali gagal mengeluarkan resolusi untuk...