WASHINGTON, Bisnistoday- Menurut IMF negara-negara emerging market dan berkembang dengan utang yang tinggi semakin berisiko. Sejumlah negara itu, dilandar terus meningkatnya nilai tukar dollar AS, biaya pinjaman lebih tinggi serta arus keluar modal.
“Dalam lingkungan ini, kita juga harus mendukung negara emerging market dan berkembang yang rentan,” kata Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva pada konferensi pers selama pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia, Kamis (13/10).
Didalam keterangan IMF, bahwa lebih dari 60% negara berpenghasilan rendah berada dalam tekanan dan berisiko tinggi. Lebih dari seperempat negara berkembang gagal atau mendapat kesulitan dalam memperdagangkan obligasi.
IMF mengutarakan, berbagai guncangan ekonomi global menimbulkan pengaruh besar terhadap negara berkembang.”Apakah kita mengalami pergeseran ekonomi mendasar dalam ekonomi dunia, dari dunia yang relatif dapat diprediksi dan stabil, ke ketidakpastian dan volatilitas yang lebih besar?”
Menurut IMF, saat ini merupakan moment yang tepat sekaligus masa sulit bagi pengambil kebijakan yang memperhatikan berbagai kebijakan komplek.”Peluang kesalahan langkah kebijakan, terjadinya komunikasi yang buruk tentang niat kebijakan, sangat tinggi.”
Sementara, Ketua IMF mendesak para pembuat kebijakan untuk menurunkan inflasi, menerapkan kebijakan fiskal yang bertanggung jawab, dan menjaga stabilitas keuangan.
“Jika kita ingin membantu orang dan melawan inflasi, kita harus memastikan bahwa kebijakan fiskal dan moneter berjalan beriringan. Ketika kebijakan moneter mengerem, kebijakan fiskal tidak boleh menginjak pedal gas. Itu akan membuat perjalanan yang sangat berbahaya,”dalam keteranganya.
Dukungan Pembiayaan
Selama pandemi dimulai, IMF telah memberikan 260 miliar dolar AS dalam bentuk dukungan keuangan kepada 93 negara. Sejak perang Rusia-Ukraina, ia telah mendukung 18 program baru dan tambahan dengan hampir 90 miliar dolar AS.
“Dan kami sekarang memiliki 28 negara tambahan yang menyatakan minatnya untuk menerima dukungan dari IMF,” kata Georgieva.
Ketua IMF juga menyerukan upaya yang lebih kuat untuk menghadapi kerawanan pangan, mencatat bahwa 345 juta orang sangat rawan pangan. Sekitar 48 negara sangat terpengaruh oleh kerawanan pangan, sebagian besar berada di sub-Sahara Afrika.
IMF baru-baru ini mengumumkan kebijakan baru mengenai pangan, sebuah mekanisme yang memberikan pinjaman darurat untuk membantu negara-negara rentan mengatasi kekurangan pangan dan kenaikan biaya akibat perang Rusia-Ukraina./Ant






































