SEMARANG, Bisnistoday – Asosiasi Jalan Tol Indonesia (ATI) menilai penerapan transaksi tanpa henti (Multi Line Free FLow) di Jalan Tol memerlukan waktu untuk membentuk ekosistem yang mapan. Selain itu, pelaksanaan MLFF masih menunggu payung hukum sebagai perubahan atas PP Jalan Tol.
“Pelaksanaanya saya pikir masih membutuhkan suatu ekosistem jalan tol yang mapan. Bagaimana alat tersebut mendeteksi serta pelaksanaanya tidak sesederhana, makanya butuh kesesuaian,” ungkap Sekjen ATI, Kris Ade Sudiyono, saat ditemui di Semarang, Sabtu (18/2).
Pelaksanaan MLFF ini, seperti yang pernah dikasih, bagaimana sistem On Board Unit (OBU) ini berkerja. Apakah sudah berjalan sesuai dengan harapan secara teknis. Misalnya, bagaimana kendaraan bisa didebet apakah kendaraan itu berada di jalan tol atau jalan diluar tol. “Nah itulah, alat itu deteksi kendaraan, dan bagaimana bisa didebet di luar tol,” ucapnya.
Mudik Lebaran
Sementara, mengenai persiapan menjelang mudik lebaran, Kris Ade mengutarakan, perlunya semua terlibat dalam mengatur keberangkatan saat mudik lebaran. Sebab, apapun persiapan dari operator jalan tol bakal tidak mampu melayani pemudik jika keberangkatanya berbarengan.
“Intinya pengaturan terhadap lalulintas keberangkatan para pemudik. Semua, baik pemerintah, pemda sampai tokoh masyarakat, pak RW Pak RT juga ikut menyosialisasikan bahwa berangkat jangan bersamaan,” ujar Kris Ade.
Menurutnya, peran pemerintah untuk mengatur waktu libur lebaran semestinya diseleraskan terhadap keseluruh kegiatan masyarakat. Demikian juga, sosialisasi kepada masyarakat yang bekerja di sektor informal juga harus gencar.
“Jadi pengelola jalan tol tidak bisa berkerja sendiri karena bakal tidak mampu membendung laju lalulintas jika mereka berangkat bersamaan. Ya Kalau memang sudah libur bisa jauh hari melakukan mudik.” tuturnya./








































