www.bisnistoday.co.id
Minggu , 19 April 2026
Home OPINI Gagasan Kocok Ulang dalam Bimbang
Gagasan

Kocok Ulang dalam Bimbang

Social Media

Akhirnya, Presiden Prabowo Subianto mengetuk palu reshuffle kabinet. Senin (8/9). Sebuah peristiwa politik yang dinantikan hampir seluruh lapisan masyarakat sejak hari pertama Prabowo mengumumkan susunan kabinetnya usai dilantik Oktober tahun lalu.

Publik pun ribut, media sibuk, pasar politik bergetar. Lima kursi menteri berganti penghuni. Ada yang lega, ada yang kecewa, ada juga yang menganggapnya biasa-biasa saja.”

Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Kementerian Keuangan, Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, Kementerian Koperasi, hingga Kementerian Pemuda dan Olahraga menjadi “korban” perombakan. Nama-nama seperti Budi Gunawan, Sri Mulyani, Abdul Kadir Karding, Budi Arie Setiadi, dan Dito Ariotedjo resmi dilepas.

Deretan nama itu bukan sembarang nama. Mereka adalah figur yang dalam perjalanan politik negeri ini kerap dibaca publik sebagai orang-orang yang mewarisi jejak kesetiaan kepada presiden sebelumnya, Joko Widodo. Tidak heran bila banyak yang menafsir reshuffle kali ini bukan sekadar rotasi birokrasi. Pertanyaan pun muncul: apakah ini sekadar rotasi teknis, atau sebuah operasi bersih-bersih dengan label “dejokowisasi”?

Sayangnya, jawabannya tak sederhana. Kalau benar ini pembersihan, mengapa wajah-wajah yang tak kalah identik dengan lingkaran Solo masih duduk manis di meja kekuasaan? Masih ada Bahlil Lahadalia, Tito Karnavian, Erick Thohir, Budi Gunadi Sadikin, dan beberapa nama lain yang tak perlu repot kita sebut lagi.

Mereka masih tegak di kursi empuk kabinet, menjaga pengaruhnya, bahkan memperluas jejaring hingga ke level komisaris BUMN yang selama ini dituding menjadi beban keuangan negara. Seolah-olah bayangan Jokowi masih berdiam di balik tirai pemerintahan, meski orkestra kini dipimpin oleh tangan yang lain.

Di sinilah kebimbangan itu terasa. Apakah sang jenderal tengah setengah hati melangkah, menimbang antara loyalitas lama dan gairah baru? Ataukah dia mungkin tengah memainkan catur dengan tempo lambat. Bidak digeser perlahan, tapi raja di seberang papan tetap berdiri tegak.

Namun rakyat tidak menunggu strategi, rakyat menunggu hasil. Reshuffle setengah hati hanya akan dibaca sebagai kebimbangan, bukan keberanian. Dan di negeri dengan ingatan publik yang pendek, kebimbangan bisa lebih mematikan daripada kesalahan.

Jangan lupa, kursi presiden bukan kursi belajar. Bukan tempat ujicoba keberanian. Apalagi hanya untuk menimbang perasaan kawan lama. Kalau benar ingin keluar dari bayang-bayang Jokowi, Prabowo harus melangkah lebih jauh, lebih tegas. Kalau tidak, reshuffle hanya akan jadi kosmetik politik, mengubah wajah, tapi tidak menyentuh isi kepala.

Pada akhirnya, rakyat akan menilai sendiri. Apakah Prabowo benar-benar pemimpin yang menakhodai kapal, atau sekadar juru mudi yang masih terikat tali lama.

Penulis : Dhany Bagja (Wartawan Senior)

Arsip

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

PERTAMINA IS THE ENERGY

TRADE EXPO INDONESIA 2025

SOROTAN BISNISTODAY

Beritasatu Network

Related Articles

Selat Hormuz
Gagasan

Setelah Hormuz, Ketegangan Geopolitik Bakal Beralih ke Selat Malaka

DINAMIKA geopolitik global tengah bergeser dari Teluk Hormuz menuju Selat Malaka. Kegagalan...

Aktifitas Tambang
Gagasan

Harga Komoditas Mulai Melonjak, Indonesia Butuh” Windfall Tax” Agar Penerimaan Tidak Terlewat

JAKARTA, Bisnistoday – Pemerintah sebaiknya segera mengevaluasi ulang serta memberlakukan aturan baru...

Tambang Batubara
Gagasan

Memanfaatkan Krisis Harga Minyak sebagai Momentum Penguatan Ekonomi Nasional

KENAIKAN harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik global kembali memunculkan kekhawatiran terhadap...

Hunian Hijau
Gagasan

Hunian Hijau : Apakah Kebutuhan Atau Sekadar Penuhi Gengsi

INDONESIA sudah menyatakan komitmen menurunkan emisi melalui target nasional hingga 2030. Di...