www.bisnistoday.co.id
Minggu , 10 Mei 2026
Home OPINI Gagasan Bahasa Indonesia: Diplomasi Yang Tumbuh dari Kelas-Kelas Kecil
Gagasan

Bahasa Indonesia: Diplomasi Yang Tumbuh dari Kelas-Kelas Kecil

Devi Virhana
PEGIAT Bahasa Indonesia, Devi Virhana./
Social Media

DITENGAH hiruk pikuk globalisasi, orang sering membayangkan diplomasi berlangsung di meja perundingan, ruang konferensi, atau kantor kedutaan. Padahal, ada bentuk diplomasi lain yang jauh lebih halus lahir dari ruang kelas sederhana, tawa yang canggung, dan percakapan sehari-hari: diplomasi bahasa.

Bahasa Indonesia hari ini tidak lagi hanya menjadi simbol identitas nasional, tetapi juga jembatan perjumpaan lintas budaya. Semakin banyak warga dunia yang tertarik mempelajarinya. Mereka datang bukan sekadar ingin tahu arti kata terima kasih atau selamat pagi, melainkan ingin memahami Indonesia melalui bahasanya: bagaimana orang Indonesia bercanda, meminta maaf, menolak dengan sopan, atau menunjukkan rasa hormat.

Namun di sinilah persoalan muncul. Masih ada anggapan bahwa pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) adalah ruang eksklusif hanya untuk lulusan jurusan tertentu. Cara pandang sempit ini secara tidak langsung menutup pintu bagi orang-orang yang sebenarnya memiliki kepedulian, energi, dan keterampilan komunikasi yang kuat.Padahal, inti dari pengajaran bahasa bukanlah sekadar hafalan kaidah. Ia adalah seni membangun kedekatan.

Seorang pengajar BIPA, misalnya, bukan hanya menjelaskan mana imbuhan yang tepat. Ia juga menjadi fasilitator budaya: menjelaskan kapan suatu kata pantas diucapkan, mengapa sebuah candaan dianggap sopan di satu tempat tetapi tidak di tempat lain, serta bagaimana menjaga rasa aman dalam proses belajar. Di titik ini, latar belakang komunikasi, psikologi, media, hingga hubungan internasional menemukan relevansinya.

Hidup Dalam Keberagaman Budaya

Ketika pengajar datang dari disiplin ilmu berbeda, pengalaman belajar menjadi lebih kaya. Bahasa Indonesia tidak lagi hadir sebagai rumus kaku, melainkan sebagai pengalaman: ia didengar, dirasakan, dipraktikkan, lalu dipahami secara manusiawi.

Lebih jauh, diplomasi bahasa bekerja perlahan bukan lewat spanduk dan slogan, melainkan lewat hubungan. Seorang pemelajar asing yang merasa diterima, dihargai, dan bebas bertanya, akan membawa pulang cerita baik tentang Indonesia. Dari sanalah citra bangsa tumbuh: dari hal-hal kecil yang tulus.

Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan lagi: “Kamu dari jurusan apa?” Melainkan: “Seberapa besar kemauanmu belajar, berbagi, dan bertumbuh bersama bahasa?”

Mereka yang belajar bahasa Indonesia hari ini bukan sekadar murid. Banyak di antara mereka kemudian menjadi penutur aktif, pembuat konten, peneliti, bahkan juru bicara tak resmi Indonesia di forum internasional. Mereka adalah mitra. Mereka adalah kawan seperjalanan.

Jika ruang BIPA dibiarkan tertutup, kita kehilangan kesempatan membangun jejaring global yang alami. Tetapi jika ia dikelola secara inklusif membuka diri bagi siapa saja yang peduli, disiplin, dan mau belajar maka bahasa Indonesia akan menemukan kekuatan diplomasi paling lembutnya: kedekatan manusia.

Pada akhirnya, bahasa selalu tumbuh dari hati. Siapa pun yang memeliharanya dengan kesungguhan, berhak menjadi bagian dari perjalanan itu.

Jakarta, Desember 2025

Oleh : Devi Virhana, pegiat bahasa Indonesia bagi penutur asing. Aktif sebagai relawan diplomasi bahasa bagi pemelajar dari lebih dari 15 negara serta pendiri BIPA Pertiwi (Wadah belajar bahasa Indonesia gratis bagi penutur asing).

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Annisa Utami Kusumanegara
Gagasan

Indonesia 2030: SDGs Jangan Berhenti Menjadi Sekadar Slogan

MENJELANG  tahun 2030, Indonesia dihadapkan pada satu pertanyaan besar: apakah target Sustainable...

Kopdes Merah Putih
Gagasan

Barang Subsidi Mesti Didistribusikan Melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih

DALAM perspektif teori ekonomi, barang bersubsidi pada hakikatnya merupakan bagian dari barang...

Selat Hormuz
Gagasan

Setelah Hormuz, Ketegangan Geopolitik Bakal Beralih ke Selat Malaka

DINAMIKA geopolitik global tengah bergeser dari Teluk Hormuz menuju Selat Malaka. Kegagalan...

Aktifitas Tambang
Gagasan

Harga Komoditas Mulai Melonjak, Indonesia Butuh” Windfall Tax” Agar Penerimaan Tidak Terlewat

JAKARTA, Bisnistoday – Pemerintah sebaiknya segera mengevaluasi ulang serta memberlakukan aturan baru...