BANDUNG, Bisnistoday – Kesadaran masyarakat terhadap produk ramah lingkungan perlahan terus meningkat. Di tengah tren tersebut, usaha lokal Balad Bumi hadir membawa konsep produk alami sekaligus gaya hidup minim sampah.
Berawal dari kebutuhan pribadi, usaha ini kini berkembang menjadi salah satu UMKM yang konsisten mengusung konsep keberlanjutan dalam kesehariannya.
Pendiri Balad Bumi, Linda Rosmellia, menceritakan bahwa awal mula usahanya lahir dari pengalaman pribadi yang tidak cocok menggunakan produk pabrikan.
Dari situ, ia mulai melakukan riset dan mencoba membuat produk alami untuk kebutuhan rumah tangga sendiri.
Baca juga: Pedangdut Ucie Sucita Bisnis Kuliner Tahu Sumedang Si Neng
“Awalnya saya buat untuk kebutuhan pribadi di rumah karena punya masalah dengan produk pabrikan. Ternyata teman-teman penasaran dan ingin mencoba. Setelah dicoba mereka suka, akhirnya saya didorong untuk memproduksinya lebih serius,” ujarnya, saat ditemui Bisnis Today, Sabtu (9/5/2026).
Tidak instan tentunya, Linda sudah mulai sejak tahun 2013, dimana awalnya hanya untuk kebutuhan pribadi.
Hingga akhirnya mantap melahirkan merek Balad Bumi yang berkembang menjadi usaha pada tahun 2020.
“Proses pengembangan produknya lumayan ngabisin waktu cukup panjang, karena ingin memastikan bahan yang digunakan aman sekaligus tetap ramah lingkungan,” jelas Linda.
Saat ini Balad Bumi memproduksi berbagai produk alami seperti sabun lerak dan deodoran alami yang menjadi produk paling diminati pelanggan.
Ke depan, Linda berencana mengembangkan produk perawatan tubuh sederhana seperti lotion dan skincare.
Sebagai informasi seluruh produk Balad Bumi diproduksi sendiri dari rumah. Meski begitu, Linda tetap membuka peluang kolaborasi dengan UMKM lain.
Salah satunya dengan menghadirkan produk dari usaha lain di etalase Balad Bumi sebagai bentuk dukungan sesama pelaku usaha kecil.
Menurut Linda, menjalankan usaha berbasis ramah lingkungan memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam memperluas pasar.
Ia menyebut produk-produk seperti ini masih sangat segmented sehingga membutuhkan edukasi kepada konsumen sebelum akhirnya tertarik membeli.
“Pasarnya memang segmented banget. Jadi biasanya kami pendekatan dulu dan mengenalkan produknya. Orang juga belum tentu langsung beli karena memang harus cocok dengan kebutuhan masing-masing,” katanya.
Selain fokus pada produk alami, Balad Bumi juga berusaha menerapkan prinsip ramah lingkungan dalam operasional sehari-hari.
Untuk pengemasan, misalnya, mereka sebisa mungkin meminimalkan penggunaan kemasan baru dengan memanfaatkan kembali dus bekas yang masih layak pakai.
Naik kelas dengan Digitalisasi
Pemanfaatan digitalisasi dan dukungan pembinaan dari BRI menjadi salah satu faktor yang membantu Balad Bumi berkembang sebagai UMKM berbasis ramah lingkungan.
Melalui sistem pembayaran cashless, pelatihan usaha, hingga penguatan pemasaran digital, Balad Bumi perlahan memperluas pasar sekaligus mempertahankan konsep bisnis berkelanjutan yang diusungnya.
“QRIS BRI sangat membantu proses transaksi karena pembayaran dapat langsung diterima secara real time dan notifikasinya cepat muncul,” kata Linda.
Menurutnya, sistem pembayaran digital juga membuat pencatatan keuangan menjadi lebih praktis.
Apalagi saat ini mayoritas pelanggan kini lebih memilih transaksi cashless menggunakan QRIS dibanding transfer manual ataupun uang tunai.
“Saya tetap pakai pencatatan manual dan digital. Untuk digital masih menggunakan komputer dan Excel, tapi sangat membantu mengelola arus kas,” ujarnya.
Tidak hanya memudahkan transaksi, sistem cashless juga dianggap lebih sejalan dengan konsep usaha ramah lingkungan karena mengurangi penggunaan struk kertas, ditambah sebagian bukti pembayaran langsung dikirim melalui WhatsApp sehingga sekaligus membantu membangun database pelanggan.
Di balik perkembangan usahanya, Linda mengaku banyak mendapatkan manfaat dari pelatihan yang diadakan Rumah BUMN BRI Bandung.
Ia sudah mengikuti program tersebut sejak 2016, bahkan sebelum Balad Bumi berdiri dan saat dirinya masih fokus menjalankan usaha kuliner.
Sementara itu Administrasi sekaligus Koordinator Rumah BUMN Bandung, Rani Parindra, menjelaskan bahwa Rumah BUMN hadir sebagai wadah pendampingan UMKM binaan BRI agar mampu naik kelas melalui pelatihan dan penguatan digitalisasi usaha.
“Pelatihannya mulai dari digital marketing, pengelolaan keuangan, public speaking, pembuatan konten, sampai business coaching. Semua pelatihan di sini gratis,” katanya.
Menurut Rani, tantangan terbesar UMKM saat ini adalah adaptasi digital, terutama dalam pemanfaatan media sosial dan marketplace.
Karena itu, Rumah BUMN Bandung rutin menghadirkan berbagai pelatihan bersama praktisi dan narasumber berpengalaman.
Ke depan, Linda berharap dukungan terhadap UMKM hijau dapat semakin diperkuat, baik melalui pelatihan tematik maupun akses permodalan khusus bagi usaha berbasis ramah lingkungan.
“Saya rasa UMKM hijau cukup banyak dan potensial. Akan bagus kalau ada dukungan yang lebih spesifik untuk usaha-usaha seperti ini,” pungkasnya.E2


