JAKARTA, Bisnistoday – Partai oposisi Tisza pimpinan Peter Magyar berhasil memenangkan pemilihan umum di Hungaria. Hasil itu mengakhiri kekuasaan Viktor Orban, pimpinan pemerintahan populis sayap kanan yang telah berkuasa selama 16 tahun.
Hasil ini kemungkinan juga akan mengubah peta politik Hungaria dan membentuk kembali hubungan negara itu dengan Uni Eropa.
Kurang dari tiga jam setelah penutupan pemungutan suara pada hari Minggu (12/4), Orban mengakui kekalahannya. Ia menggambarkannya sebagai hasil pemilihan yang menyakitkan.
“Saya mengucapkan selamat kepada partai yang menang,” kata Orban kepada para pendukungnya di Budapest. “Kita akan melayani bangsa Hungaria dan Tanah Air kita sebagai pihak oposisi.”
Tiga puluh menit sebelum penutupan pemungutan suara , 77,8% pemilih di negara itu (sekitar tujuh poin persentase di atas rekor sebelumnya pada tahun 2002) telah mendatangi bilik suara di seluruh negara Eropa tengah tersebut.
Sepanjang kampanye yang sengit, Orban dan pemerintahan populis sayap kanannya secara konsisten tertinggal dalam jajak pendapat.
Dari 72% suara yang telah dihitung, hasil proyeksi menunjukkan kemenangan 138 kursi di parlemen yang beranggotakan 199 kursi untuk partai oposisi utama, Tisza, yang dipimpin oleh Magyar, mantan anggota partai Fidesz Orban yang memisahkan diri pada tahun 2024.
Pemilu ini mendapat banyak perhatian di berbagai negara di seluruh dunia. Banyak yang melihatnya sebagai ujian ketahanan gerakan Maga dan sayap kanan global, yang selama ini menganggap Orban sebagai inspirasi dan berusaha mengikuti strateginya.
Saat Orban tertinggal dalam jajak pendapat, para pemimpin sayap kanan dari seluruh dunia berupaya untuk membesarkan hatinya. JD Vance, Wakil Presiden AS, pekan lalu datang ke Budapest untuk kunjungan dua hari.
Kepada wartawan ia mengatakan kunjungannya adalah untuk ‘membantu’ Orban agar memenangkan Pemilu. Presiden AS, Donald Trump juga berulang kali terag-terangan mendukung Orban. Jumat lalu, ia memposting: “Saya bersama dia (Orban) sepenuhnya!”
Pada Januari lalu, para pemimpin sayap kanan termasuk Giorgia Meloni dari Italia dan Benjamin Netanyahu dari Israel, juga menyatakan dukungan mereka kepada Orban.
Sejak 2010, Orban – pemimpin Uni Eropa yang paling lama menjabat – telah berupaya menjadikan Hongaria sebagai pelopor illiberalisme. Tujuannya adalah untuk membela nilai-nilai keluarga Kristen tradisional dari apa yang dilihatnya sebagai serangan liberalisme dan multikulturalisme Barat.
Pemerintahan populis sayap kanannya menggunakan masa jabatannya untuk secara bertahap mengurangi mekanisme pengawasan dan keseimbangan yang membatasi kekuasaannya: mengubah undang-undang pemilihan untuk keuntungannya sendiri, bermanuver untuk menempatkan loyalis dalam kendali sekitar 80% media negara, dan mengubah sistem peradilan.
Strategi Kampanye
Pada pemilu kali ini Orbán berusaha meyakinkan para pemilih bahwa Hungaria berisiko terseret perang di Ukraina, sementara Magyar fokus pada isu-isu domestik. Ia berjanji untuk memberantas korupsi, memperbaiki hubungan antagonis Orbán dengan Uni Eropa, dan menyalurkan dana ke layanan publik.
Kedua kandidat tetap pada pesan mereka saat memberikan suara pada Minggu pagi. Magyar menyerukan kepada warga Hungaria bahwa ini merupakan pemilu yang menentukan, “Malam ini mimpi buruk yang telah kita alami selama beberapa tahun terakhir akan berakhir.”
Orban berulangkali mengingatkan tentang “krisis besar” yang menanti Eropa dan menyatakan bahwa pemerintahannya adalah pihak yang paling tepat untuk menangani masa-masa sulit. “Untungnya kita memiliki banyak teman di dunia. Dari Amerika hingga Tiongkok hingga Rusia dan dunia Turki,” katanya kepada wartawan setelah memberikan suara pada Minggu.//




