JAKARTA, Bisnistoday – Bangladesh memang tidak ikut serta di Piala Dunia 2026, namun negara itu kecipratan rezeki dari perhelatan empat tahunan tersebut berkat penjualan jersey (seragam) sepak bola, baik yang replika maupun resmi.
Area Gulistan, dekat Stadion Hoki Nasional, menjadi salah satu pusat penjualan pakaian olahraga yang cukup ramai di Bangladesh. Ratusan toko yang biasanya menjual replika seragam klub-klub besar Eropa, kini mengalihkan perhatian mereka selama Piala dunia ke kaus tim nasional.
“Pada hari biasa, kami menjual sekitar 150 kaus. Tetapi menjelang Piala Dunia, penjualan harian kami melonjak menjadi sekitar 5.000,” kata Mohammad Shoaib, seorang penjual jersey di Star Sports, kepada kantor berita Spanyol, EFE, seperti dilansir Mundo Deportivo.
Kompleks tersebut menampung sekitar 800 toko, sebagian besar di antaranya dikhususkan selama Piala Dunia untuk menjual kaus sepak bola. Setidaknya ada tiga pasar terdekat lainnya, yang biasanya menjual barang-barang konsumsi umum, kini juga ikut-ikutan jualan jersey.
Selama Piala Dunia, ribuan orang berkumpul di depan layar raksasa, termasuk di universitas. Mereka mengenakan warna tim favorit mereka.
Shoaib mengatakan tahun ini permintaan jersey Iran dan Maroko meningkat, bersama dengan kaos tim nasional tim Eropa seperti Jerman, Spanyol, dan Prancis.
“Dulu kami kebanyakan menjual kaos Argentina dan Brasil. Sekarang tim lain juga banyak yang cari. Orang-orang bahkan meminta kaos Bangladesh, meskipun negara kami tidak ikut serta dalam Piala Dunia. Tapi, ini bagus untuk bisnis,” ujarnya.
Kualitas pakaian yang ada di pasar-pasar ini tentu tidak sama dengan kaos resmi berlisensi dari merek global seperti Adidas, Puma, dan Nike, yang tersedia di mal.
Menurut Shoaib, warga umumnya tidak mampu membeli kaos resmi, sehingga para pedagang mencari replika yang lebih murah dari pabrik lokal atau mengimpornya dari Tiongkok, dengan harga berkisar antara 300 hingga 1.000 taka, atau antara US$2,44 dan US$8,13 (antara Rp40.000 – Rp110.000)
Kekuatan ekspor
Namun, Bangladesh jauh lebih dari sekadar pasar untuk replika murah. Negara ini merupakan pengekspor pakaian terbesar kedua di dunia dan memproduksi beberapa kaos untuk pemain dan penggemar di Piala Dunia di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.
Di antara tim yang mengenakan perlengkapan buatan Bangladesh adalah Cape Verde, yang kaos resminya diproduksi oleh Garments Manufacturing and Assembling Ltd (GMA) yang berbasis di Dhaka. Mereka menyuplainya untuk merek Capelli Sport dari New York.
“Kami memasok baik versi pemain maupun versi penggemar,” ujar Direktur Pelaksana GMA, Mushtaque Ahmed Khan.
Mashook Chowdhury, perwakilan dari produsen tekstil DBL Group, mengatakan, perusahaannya adalah pemasok tetap untuk Puma, merek yang menyediakan perlengkapan untuk beberapa tim nasional Piala Dunia. “Pesanan meningkat setiap ada Piala Dunia,” katanya.
Menurut Biro Promosi Ekspor, Bangladesh mengekspor kaos rajut katun senilai US$2,1 miliar, kaos serat sintetis senilai US$1,304 miliar, dan pakaian rajut non-katun senilai US$155 juta selama sembilan bulan pertama tahun fiskal 2025-2026, dari Juli hingga Maret.
Jurnalis Textile Today, Amzad Hossain Monir, mengatakan angka-angka ini akan meningkat setelah pengiriman April dan Mei di mana banyak pesanan terkait Piala Dunia.
“Pakaian olahraga buatan Bangladesh sangat diminati secara internasional karena kualitas dan harganya. Piala Dunia hanya memperkuat hal itu,” katanya.
Ekspor garmen jadi Bangladesh mencapai US$39,35 miliar pada tahun fiskal 2024-2025, menurut Biro Promosi Ekspor, sementara penjualan produk rajutan meningkat sebesar 9,73% menjadi US$21,16 miliar.//








































