JAKARTA, Bisnistoday – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan kurs rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan akhir pekan, Jumat (03/05) ditutup menguat.
IHSG ditutup menguat 17,30 poin ke posisi 7.134,72, sementara indeks LQ45 naik 4,58 poin ke posisi 903,33. Penguatan IHSG didorong oleh naiknya sejumlah sahan sektor kesehatan.
“Saat ini, investor tampak mengesampingkan kekhawatiran mengenai suku bunga dan fokus pada rilis laporan keuangan korporasi, serta mengantisipasi rilis data pasar tenaga kerja (Non-Farm Payrolls) Amerika Serikat (AS),” sebut Tim Riset Phillip Sekuritas Indonesia dalam kajiannya di Jakarta, Jumat (03/05).
Pada pekan ini, bank sentral AS The Fed pada Rabu (01/05) mempertahankan suku bunga acuan Federal Funds Rate (FFR) di kisaran 5,25 5,50 persen dan menyebut bahwa memerlukan waktu dan data yang lebih panjang sebelum memperoleh keyakinan bahwa inflasi akan segera kembali ke target 2 persen.
Di balik sikap tegas tersebut investor menemukan alasan untuk tetap merasa bullish dengan melihat komentar ketua The Fed Jerome Powell yang menolak kenaikan suku bunga lebih lanjut ditambah lagi dengan keputusan Federal Reserve mengurangi jumlah penjualan US Treasuries yang dipegang dalam Neracanya ke pasar sekunder.
Dibuka menguat, IHSG betah di teritori positif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, lima sektor menguat dipimpin sektor kesehatan yang naik 1,71 persen, diikuti sektor teknologi dan sektor barang konsumen primer yang masing-masing turun sebesar 1,08 persen dan 0,41 persen.
Sementara itu enam terkoreksi yaitu dipimpin sektor barang baku yang minus 0,58 persen, diikuti sektor transportasi & logistik dan sektor barang industri yang masing-masing turun sebesar 0,29 persen dan 0,24 persen.
Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu LABA, RAAM, NASI, ACRO dan CLEO. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni ATLA, SURI, MHKI, MANG, dan PYFA.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 964.832 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 20,99 miliar lembar saham senilai Rp11,80 triliun. Sebanyak 254 saham naik, 288 saham menurun, dan 231 tidak bergerak nilainya.
Baca juga: Pasar Merespon Positif Kebijakan BI Menahan Suku Bunga, IHSG Menguat
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Hang Seng menguat 366,61 poin atau 2,12 persen ke 17.651,15, dan indeks Strait Times melemah 12,88 poin atau 0,39 persen ke 3.274,86.
Sementara itu, indeks Nikkei (Jepang) dan indeks Shanghai (China) libur memperingati hari libur masing- masing negara tersebut.
Rupiah Kembali Menguat
Sementara itu, di pasar uang, kurs rupiah kembali menguat sebesar 102 poin atau 0,63 persen menjadi Rp16.083 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.185 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Jumat turut menguat ke level Rp16.094 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.202 per dolar AS.
Pengamat Pasar Uang, Ariston Tjendra menilai data inflasi Indonesia pada bulan April 2024 yang baru dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Kamis (2/5) yang masih terjaga di kisaran target Bank Indonesia (BI) sebesar 3,0 persen memberikan sentimen positif untuk rupiah.
Untuk malam ini, data Non-Farm Payroll (NFP) dan tenaga kerja lainnya akan dipublikasikan. Jika menguat, lanjutnya, maka dolar AS turut akan menguat.
Sebelumnya, data tenaga kerja AS yang dirilis hari Rabu (1/5) dan Kamis (2/5) menunjukkan datanya masih bagus. Misalnya data Automatic Data Processing (ADP) Non Farm Payrolls yang sebesar 192 ribu dari prediksi 179 ribu.
“Data malam nanti bisa memberikan sentimen baru untuk pergerakan rupiah pekan depan. Data dari AS masih menjadi anchor pergerakan USD-IDR,” kata Ariston seperti dikutit Antara.
Pada pekan depan, terdapat pula data Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan data neraca perdagangan China. “Ini bisa memberikan sentimen positif (terhadap rupiah) kalau datanya bagus,” ujar dia./



