www.bisnistoday.co.id
Senin , 16 Maret 2026
Home HEADLINE NEWS BI Diprediksi Tahan Suku Bunga Acuan, Pasar Tunggu Sinyal dari The Fed
HEADLINE NEWS

BI Diprediksi Tahan Suku Bunga Acuan, Pasar Tunggu Sinyal dari The Fed

Logo BI
LOGO Bank Indonesia, belum lama ini./ant
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday  – Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan menahan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar Selasa (17/9). Keputusan ini dinilai sebagai langkah jeda setelah sebelumnya BI cukup agresif menurunkan suku bunga.

Ekonom Senior dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Ryan Kiryanto, mengatakan penahanan BI Rate dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas.

“Bertahannya BI Rate di level 5% tetap mengindikasikan stance kebijakan bank sentral yang pro pertumbuhan, tanpa mengendurkan stance pro stabilitas,” ujar Ryan di Jakarta, Selasa (16/9).

Ia menambahkan, faktor lain yang menjadi pertimbangan adalah stabilitas nilai tukar rupiah, inflasi yang masih dalam target 2,5% ±1, serta kemungkinan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) menahan atau bahkan menurunkan suku bunga acuan.

Ryan menilai, keputusan ini bisa menjadi masa jeda (pausing period) sebelum kemungkinan penurunan lanjutan.

“BI berpeluang menurunkan satu kali lagi BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 4,75% hingga akhir tahun, sekiranya data makroekonomi dan moneter mendukung,” jelasnya.

Dari sisi global, pasar juga tengah menantikan keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) pekan ini. Kepala Riset & Ekonom PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menyebut probabilitas penurunan suku bunga Fed sebesar 25 bps pada 17 September mencapai 96,4% berdasarkan indikator CME FedWatch.

“Ekspektasi pemotongan FFR yang agak agresif terutama didorong oleh pelemahan data pasar tenaga kerja AS. Non-farm payrolls hanya naik 22.000 pada Agustus, jauh di bawah konsensus 75.000,” terang Rully.

Meski demikian, ia mengingatkan adanya ancaman stagflasi di Amerika Serikat, yakni inflasi yang naik bersamaan dengan meningkatnya pengangguran. Kondisi ini, lanjutnya, turut melemahkan dolar AS dan memberi tekanan pada rupiah yang juga dipengaruhi dinamika politik domestik.

Pasar kini menunggu apakah BI akan konsisten menjaga suku bunga di level 5% atau memberi kejutan lanjutan menjelang akhir tahun.//

Arsip

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

PERTAMINA IS THE ENERGY

TRADE EXPO INDONESIA 2025

SOROTAN BISNISTODAY

Beritasatu Network

Related Articles

Menhub
HEADLINE NEWS

Pemudik Diimbau Antisipasi Cuaca Ekstrem Saat Penyeberangan Jawa – Sumatra

SERANG, Bisnistoday  - Pemudik yang melintasi Pelabuhan Penyeberangan Merak – Bakahueni serta...

Emas Batangan
HEADLINE NEWS

Permintaan Global Meningkat, Picu Kenaikan HPE Konsentrat Tembaga dan Emas Periode Kedua Maret 2026

JAKARTA, Bisnistoday - Harga Patokan Ekspor (HPE) komoditas konsentrat tembaga (Cu ≥...

Trafik Tol Cikampek
HEADLINE NEWS

Ratusan Ribu Kendaraan Meninggalkan Jabotabek, Jasa Marga Berlakukan Diskon Tarif Tol 30% Mulai 15 Maret 2026

JAKARTA, Bisnistoday- PT Jasa Marga mencatat terjadi peningkatan arus lalu lintas meninggalkan...

GEDUNG BEI
HEADLINE NEWS

Gejolak Geopolitik dan Perang Dagang Bayangi Pasar Global, Investor Beralih ke Aset Aman

JAKARTA, Bisnistoday - Ketidakpastian ekonomi global kembali meningkat. Kombinasi ketegangan geopolitik, konflik...