www.bisnistoday.co.id
Jumat , 10 April 2026
Home OPINI Indepth BRICS atau OECD, Pilih Yang Mana atau Keduanya?
Indepth

BRICS atau OECD, Pilih Yang Mana atau Keduanya?

BRICS
BRICS atau OECD./
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Situasi geopolitik bergerak dinamis sejalan dengan perubahan geoekonomi global yang semakin cenderung mengkristal dan mulai sedikit banyak terjadi gesekan pengaruh antar kawasan global. Kahadiran, BRICS (Brazil, Russia, India, China, South Africa) tentu membuat juga tidak nyaman yang selama ini banyak negara telah bergabung di OCCD-Organization for Economic Co-operation and Development (grup G7) .

Jadi, pilih mana bergabung di BRICS atau OECD, dan juga berpeluang ikut kedua-duanya, mana yang menguntungkan. Hal ini menjadi topik hangat dalam  Webinar : “BRICS vs OECD: Indonesia Pilih yang Mana?” pada Rabu (30/10), yang diinisiasi oleh Univ. Paramadina.

Prof Dr Didik J Rachbini, Rektor Univ. Paramadina berpandagan, bahwa fenomena BRICS telah mengubah geopolitik dan ekonomi globnal sebagai satu kelompok baru dalam dekade terakhir. Peranannya dalam bidang ekonomi dan politik internasional, dan juga hendak mendobrak dominasi USA.

“BRICS juga sudah mempunyai bank yang tidak akan tergantung lagi kepada USA dan Eropa. Inggris saja kini sangat bermasalah, banyak penyandang masalah sosial seperti gelandangan. Rusia dan China belum lama ini sudah menyatakan bahwa BRICS lebih besar dari OECD. Dengan pasar yang luas dan populasi besar dan berkembang,” urai Didik.

Sementara, Wijayanto Samirin, Ekonom Senior Univ Paramadina menjelaskan lebih detail, tentang fenomena BRICS dan OECD. Sejarahnya silam, bahwa Dominasi US Dollar (USD) dimulai pada 1944 ketika ada konferensi Bretton Wood di USA. Pada pertemuan tersebut disepakati pada dunia baru andai USA memenangkan perang, maka USD merupakan mata uang global. Akan didirikan IMF, World bank yang bermarkas di Washington DC.

“Status istimewa bagi US Dollar itu semacam hadiah bagi USA atas kemenangan pada perang dunia II. Oleh karena itu, USA akan berusaha keras mempertahankan status istimewa bagi USD tersebut.”

Kini, lanjut Wijayanto, mata uang USD betul-betul dominan. 88% transaski forex dunia melibatkan currency USD sekitar 80% transaksi minyak dilakukan dalam USD. Arab Saudi yang mulai mendaftar jadi anggota BRICS dicegah keras oleh USA. itu karena posisi sebagai negara petrodolar amat penting bagi G7.

“Selain itu, 35 mata uang dunia amat tergantung kepada kepada USD. Itu sekligus menjelaskan poissi ekonomi dunia terhadap USA.”

Wijayanto mengatakan, namun kini ekonomi USA terus menerus alami defisit. Defisit terakhir USA adalah 7% dari APBN USA/GDP. Tahun lalu 6,3 % GDP. Akibatnya, USA juga keranjingan menerbitkan surat utang. Surat utang USA sekira 124% dari PDB nya. Pemerintah USA telah kecanduan terhadap utang.

“Gali lubang tutup lubang dengan menerbitkan surat utang. Tapi akibatnya hal itu merugikan negara-negara yang memegang mata uang USD untuk transaksinya.Saat ini mulai banyak negara mencari alternatif karena ending dari USD sendiri masih belum jelas apabila tabiat fiskal USA tidak diakhiri.”

Menurutnya, sekarang sudah ada 80 negara yang menggunakan local currency. Seperti yang dilakukan Indonesia dengan Thailand, contohnya. Terakhir, sudah 34 negara berminat untuk bergabung dengan BRICS. China dan Rusia sendiri sudah mulai menggunakan mata uang mereka dalam bertransaksi.

Kepentingan Indonesia

Wijayanto mengatakan, bagi Indonesia, saat ini hanya ada 3 kepentingan dalam menyikapi fenomena BRICS dan G7/OECD. Pertama, BRICS akan membuka jalur eskport yang semakin luas bagi Indonesia. kedua, dengan BRICS, FDI diperkirakan akan lebih banyak masuk serta ketiga, mata uang Rupiah menjadi lebih stabil dan tidak terombang ambing dalam penggunaan mata uang USD.

Di sisi lain, katanya, Populasi BRICS hampir 4 kali lipat dibanding populasi G7. Trend pertumbuhan populasi BRICS juga lebih tinggi. Pertimbagan lainnya, market power BRICS lebih menjanjikan, meski dua negara BRICS sedang mengalami penurunan pertumbuhan penduduk.

“JIka dibandingkan, pada 2006 -2024 GDP BRICS tercatat lebih tinggi dibanding negara-negara G7/OECD.  IMF juga memperkirakan GDP BRICS akan lebih maju ke depan.”

Beberapa pilihan bagi Indonesia, menurut Wijayanto Samirin, bahwa BRICS lebih mempromosikan negara-negara yang egaliter dan multilateralisme ekonomi. Sementara negara-negara G7 lebih tidak egaliter dengan dominasi dari negara-negara tertentu. BRICS juga akan mendorong pemanfaatan local currency bagi Indonesia.

“Begitupun, BRICS akan menorong kolaborasi global. BRICS juga mempunyai GDP lebih besar dengan pertumbuhan dan population growth lebih tinggi. Proses keanggotaanya relatif lebih sederhana dan tidak sesulit OECD/G7.”

Wijayanto juga mengingatkan, namun ada kelemahn BRICS antara lain belum punya guidance yang fix, dan belum punya satu goal yang sama. Relatisionship dengan USA akan sedikit bermasalah “Sementara jika bergabung dengan OECD, pertama punya potensi transfer of teknologi, ada komunitas anggota yang lebih besar. Iklim democary, human right, dan good governance.”

Beberapa Opsi Menarik

Menurut Wijayanto, OPSI bagi Indonesia ada beberapa opsi yang seharusnya diambil. Pertama, lebih tepat untuk bergabung dengan keduanya (BRICS dan OECD/G7). Sampai kini tidak ada larangan formal untuk bergabung ke keduanya. Thailand juga mengikuti kedua-duanya. Turki adalah angota OECD tpi juga apply ke BRICS. Brazil sendiri sebagai salah satu pencetus BRICS, juga bergabung ke OECD.

“Pilihan lain, memilih bergabung ke  salah satu. Mana yang paling mudah, paling cepat dan menguntungkan dan Pilihan terakhir adalah tidak memutuskan bergabung ke BRICS atau OECD seperti 10 tahun terakhir, tapi jika begini terus maka kita akan kehilangan opportunity dan terlambat. Sehingga tidak punya peran optimal dalam membentuk platform dan arah organisasi tersebut.”/

Arsip

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

PERTAMINA IS THE ENERGY

TRADE EXPO INDONESIA 2025

SOROTAN BISNISTODAY

Beritasatu Network

Related Articles

Kelapa Sawit
Indepth

Menimbang Arah Industri Sawit di Tengah Gejolak Energi dan Geopolitik

INDUSTRI kelapa sawit Indonesia kembali berada di persimpangan strategis. Proyeksi lonjakan harga...

Kendaraan Listrik
Indepth

Gejolak Energi Global dan Peringatan bagi Indonesia: Saatnya Mempercepat Transisi Energi

JAKARTA, Bisnistoday - Ketegangan geopolitik dunia kembali memberikan peringatan keras bagi sistem...

Truk Kelebihan Beban dan Muatan.
Indepth

Zero ODOL 2027, Ujian Serius Negara Menata Logistik dan Keselamatan Jalan

JAKARTA, Bisnistoday - Target ambisius pemerintah mewujudkan kebijakan Zero Over Dimension Over...

Ilustrasi Oposisi
Indepth

Kesepakatan Dagang atau Konsesi Sepihak?

JAKARTA, Bisnistoday - Kesepakatan Agreement on Reciprocal Tariff (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat memantik perdebatan tajam di...