JAKARTA, Bisnistoday – Meningkatnya kasus kejahatan siber, khususnya penipuan dengan metode rekayasa sosial seperti phishing, mendorong PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Danamon) untuk semakin gencar mengedukasi masyarakat. Melalui kampanye #JanganKasihCelah, Danamon berkomitmen melindungi nasabah dari berbagai bentuk penipuan digital yang berpotensi merugikan secara finansial.
Perkembangan teknologi yang memudahkan aktivitas sehari-hari, mulai dari bertukar informasi hingga transaksi keuangan, ternyata juga diikuti dengan maraknya serangan siber. Menurut data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), sepanjang 2024 terdapat lebih dari 26,7 juta aktivitas phishing yang terdeteksi di Indonesia. Modusnya pun beragam, mulai dari SMS palsu, WhatsApp, e-mail, hingga website tiruan yang dibuat menyerupai sistem resmi.
“Melalui kampanye #JanganKasihCelah, kami ingin mengajak masyarakat untuk lebih waspada terhadap berbagai bentuk phishing. Saat ini, pelaku bisa melakukan aksinya bahkan dengan menggunakan nomor asli dari perusahaan ternama melalui perangkat fake Base Transceiver Station (BTS). Karena itu, penting sekali untuk membaca isi pesan dengan teliti dan tidak sembarangan mengakses tautan,” ujar Andreas Kurniawan, Chief Digital Officer Danamon.
Danamon menegaskan pihaknya tidak pernah meminta data rahasia nasabah, seperti kode OTP, PIN, atau CVV/CVC, melalui kanal komunikasi apa pun. Nasabah juga diimbau segera mengganti password dan PIN apabila terlanjur memberikan data ke pihak mencurigakan, serta memanfaatkan fitur keamanan seperti biometrik pada aplikasi D-Bank PRO.
“Kami menghimbau nasabah untuk segera memblokir kartu melalui aplikasi atau menghubungi Hello Danamon jika menemukan kendala. Kewaspadaan adalah kunci untuk mencegah kerugian akibat serangan siber,” tambah Andreas.
Dengan kampanye ini, Danamon berharap masyarakat dapat lebih mengenali modus penipuan digital, sehingga dapat melindungi diri sekaligus mendukung ekosistem keuangan yang lebih aman di Indonesia.//


