www.bisnistoday.co.id
Kamis , 7 Mei 2026
Home BURSA & KORPORASI Bursa IHSG Ditutup Melemah, Kurs Rupiah Menguat
Bursa

IHSG Ditutup Melemah, Kurs Rupiah Menguat

ihsg melemah
IHSG pada perdagangan Rabu (24/07) ditutup melemah
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (19/06) ditutup melemah 7,91 poin ke posisi 6.726,91. Sementara indeks LQ45 turun 1,13 poin ke posisi 844,36. Pelemahan dipimpin oleh saham-saham sektor barang konsumsi nonpriper.

“Bursa regional Asia cenderung menguat, pasar tampaknya mengikuti kenaikan bursa Eropa dan Amerika Serikat (AS). Pasar memiliki pandangan pasca penjualan ritel AS sepanjang Mei lalu, naik 0,1 persen Mei di bawah ekspektasi pertumbuhan 0,3 persen, karena data penjualan ritel AS yang lebih lemah dari perkiraan bahwa Federal Reserve harus segera menurunkan suku bunganya,” tulis Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam kajiannya, di Jakarta, Rabu (19/06).

Hal tersebut menunjukkan lemahnya daya beli konsumen, sehingga kembali pasar dibayangi spekulasi kemungkinan pemangkasan suku bunga The Fed akhir tahun ini.

Pelaku pasar juga menyambut baik data yang menunjukkan ekspor Jepang tumbuh lebih baik, dimana ekspor Jepang melonjak 13,5 persen (yoy) menjadi 8,276.63 miliar Yuan Jepang pada Mei 2024, melebihi perkiraan pasar sebesar 13 persen dan meningkat dari kenaikan 8,3 persen pada April 2024.

Anggota Bank of Japan berpandangan respons kebijakan moneter akan diperlukan jika ada perubahan dalam prospek aktivitas ekonomi dan harga akibat pergerakan yen, yang memberikan indikasi bagaimana bank sentral mencermati perkembangan ekonomi global, artinya pergerakan nilai tukar mata uang asing berdampak pada ekspektasi inflasi jangka menengah hingga panjang dan perilaku perusahaan, hal ini akan meningkatkan risiko harga terpengaruh, sehingga diperlukan respons kebijakan.

Dari dalam negeri, surplus neraca perdagangan Indonesia Mei 2024 tentunya menopang katalis positif untuk IHSG, menyusul Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan meskipun posisi neraca perdagangan Indonesia sebesar 2,93 miliar dolar AS pada Mei 2024 atau apabila turun dibandingkan April 2024 yang mencapai 3,56 miliar dolar AS, namun demikian tetap membukukan neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus.

Dibuka menguat, IHSG betah di teritori positif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG bergerak ke zona merah hingga penutupan perdagangan saham.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tiga sektor menguat yaitu dipimpin sektor infrastruktur yang naik 0,84 persen, diikuti sektor energi dan sektor industri yang naik masing- masing sebesar 0,80 persen dan 0,07 persen.

Sedangkan, delapan sektor turun yaitu sektor barang konsumen nonprimer turun paling dalam minus 1,94 persen, diikuti sektor transportasi dan keuangan dan sektor properti yang masing- masing turun sebesar 1,60 persen dan 1,52 persen.

Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar, yaitu BTEK, TOPS, ACST, KOKA dan BELL. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar, yakni ARTI, ASLC, CGAS, PTPP, dan MAYA.

Baca juga: IHSG Melemah, Kurs Rupiah Menguat

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.015.872 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 24,56 miliar lembar saham senilai Rp10,10 triliun. Sebanyak 188 saham naik, 394 saham menurun, dan 202 tidak bergerak nilainya.

Bursa saham regional Asia Rabu sore ini, antara lain indeks Nikkei menguat 88,69 poin atau 0,23 persen ke 38.570,80, indeks Hang Seng menguat 514,83 poin atau 2,87 persen ke 18.430,39, indeks Shanghai melemah 12,19 poin atau 0,40 persen ke 3.018,05, dan indeks Strait Times melemah 2,21 poin atau 0,07 persen ke 3.304,00.

Rupiah Menguat

Sementara itu, kurs rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat di tengah menurunnya imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS). Pada akhir perdagangan, rupiah menguat 47 poin atau 0,29 persen menjadi Rp16.365 per dolar AS dari penutupan perdagangan sebelumnya pada Jumat (14/6) sebesar Rp16.412 per dolar AS.

“Rupiah menguat dipengaruhi oleh faktor eksternal menurunnya yield obligasi AS 10 tahun, optimisme penurunan bunga oleh The Fed di triwulan IV-2024 sementara pelaku pasar masih menunggu data-data ekonomi AS yang akan rilis minggu ini,” kata analis Bank Woori Saudara Rully Nova seperti dikutif Antara. Ia menambahkan, imbal hasil (yield) obligasi AS 10 tahun menjadi 4,22 persen.
Dari domestik hari ini, Bank Indonesia (BI) memulai rapat dewan gubernur (RDG) dan akan mengumumkan hasil rapat pada Kamis (20/6). Terkait hasil RDG, BI diperkirakan akan tetap menahan suku bunga BI-Rate di 6,25 persen.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Rabu naik ke level Rp16.368 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.374 per dolar AS./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

TRADE EXPO INDONESIA 2026

<?php echo adrotate_ad(13); ?>

Related Articles

GEDUNG BEI
BursaHEADLINE NEWS

PDB Lampaui Ekspektasi, Mirae Asset Prediksi Rupiah Jadi Kunci Arah IHSG

JAKARTA, Bisnistoday – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pasar keuangan domestik...

GEDUNG BEI
Bursa

Pasar Masih Dinamis, Tunggu Kebijakan Moneter Yang Meyakinkan

JAKARTA, Bisnistoday – Aset berisiko Indonesia kembali berada dibawah tekanan. IHSG pada...

Gedung BEI
BursaHEADLINE NEWS

Mirae Asset Sekuritas: Reformasi Pasar Modal Jadi Penentu di Tengah Tekanan MSCI

JAKARTA, Bisnistoday - Pasar modal Indonesia kembali menghadapi tekanan setelah Morgan Stanley...

BursaBURSA & KORPORASIHEADLINE NEWS

Astra Tebar Deviden Fantastis Rp15,6 Triliun, Pemegang Saham Perseoran Raup Rp292 Per Saham

JAKARTA, Bisnistoday - PT Astra International Tbk  (Astra) berhasil mencetak laba bersih...