JAKARTA, Bisnistoday- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Jumat (10/12) kembali ditutup menguat 8,99 poin ke posisi 6.652,92, sementara indeks LQ45 turun 3,9 poin ke posisi 948,61.
Tim Riset Ajaib Sekuritas dalam ulasannya menyebutkan, pelaku pasar global masih wait and see akan rilis data inflasi AS. Sedangkan sentimen dalam negeri berupa seputar Presidensi Indonesia G20.
Di tengah kembalinya pengetatan kebijakan moneter, Bank Indonesia dan juga Kementerian Keuangan sepakat bahwa Indonesia telah siap melakukan sinkronisasi kebijakan dan tetap menjaga momentum pemulihan ekonomi dalam negeri. Hal itu membawa optimisme bagi pelaku pasar domestik.
Dibuka melemah, IHSG terus berada di zona merah hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih tak mampu beranjak dari teritori negatif namun bergerak naik jelang penutupan bursa saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, delapan sektor meningkat dimana sektor barang konsumen nonprimer naik paling tinggi yaitu 2,17 persen, diikuti sektor transportasi & logistik dan sektor energi masing-masing 1,59 persen dan 0,87 persen.
Sedangkan tiga sektor terkoreksi dimana sektor properti turun paling dalam yaitu minus 0,33 persen, diikuti sektor keuangan dan sektor barang baku masing-masing minus 2,05 persen dan minus 1,64 persen.
Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi jual saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah jual bersih asing di seluruh pasar sebesar Rp721,39 miliar.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.349.564 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 27,59 miliar lembar saham senilai Rp13,14 triliun. Sebanyak 252 saham naik, 260 saham menurun, dan 164 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei melemah 287,7 poin atau 1 persen ke 28.437,77, indeks Hang Seng turun 259,14 poin atau 1,07 persen ke 23.995,72, dan indeks Straits Times terkoreksi 6,84 atau 0,22 persen ke 3.135,61.
Rupiah Melemah
Sementara itu, nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta ditutup melemah 4 poin ke posisi Rp14.371 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.367 per dolar AS.
“Pelaku pasar bertaruh bahwa angka inflasi yang lebih tinggi dan pasar tenaga kerja yang ketat dapat memacu The Fed untuk mempercepat pengurangan aset dan menaikkan suku bunga lebih awal dari yang diperkirakan,” kata analis sekaligus Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi.
Data inflasi konsumen AS sudah berada di atas lima persen selama enam bulan terakhir, jauh di atas target inflasi The Fed di dua persen.
Ekonom berpendapat bahwa laju tahunan di AS akan meningkat dan terus naik hingga mendekati tujuh persen pada awal tahun baru.
Sementara itu, data yang dirilis pada Kamis (9/12) menunjukkan sebanyak 184.000 klaim pengangguran awal diajukan sepanjang minggu, jumlah terendah dalam lebih dari 52 tahun.
Tim Riset Monex Investindo Futures dalam kajiannya menyebutkan bahwa pelaku pasar menantikan kebijakan suku bunga dari beberapa bank sentral dunia pada pekan depan, termasuk The Federal Reserve, European Central Bank, dan Bank of England.
Fokus pasar pada kebijakan moneter dari bank sentral terkait kondisi ekonomi global yang terhambat oleh wabah Covid-19. The Fed telah memberikan outlook yang hawkish pada kebijakan moneternya untuk 2022 mendatang. Rupiah pada pagi hari dibuka melemah ke posisi Rp14.383 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp14.364 per dolar AS hingga Rp14.385 per dolar AS.
Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Jumat ditutup melemah ke posisi Rp14.378 per dolar AS dibandingkan posisi hari sebelumnya Rp14.351 per dolar AS./



