JAKARTA, Bisnistoday – Pasar saham Indonesia membuka awal 2026 dengan euforia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa di level 9.075,4, didorong oleh kombinasi aksi beli agresif investor asing dan meningkatnya partisipasi investor ritel. Di balik reli tersebut, tersimpan paradoks ekonomi: Rupiah justru terus tertekan, sementara pasar obligasi pemerintah belum sepenuhnya pulih.
Analis Senior PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menyebutkan penguatan IHSG sepanjang pekan lalu mencapai sekitar 1,6%, ditopang beli bersih asing sekitar Rp4,2 triliun. “Minat investor terhadap pasar saham terlihat jauh lebih kuat dibandingkan instrumen pendapatan tetap,” ujarnya
Sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi motor penggerak indeks, antara lain DSSA, TLKM, BBRI, dan BMRI. Namun sejak awal tahun, kontribusi terbesar terhadap penguatan IHSG datang dari PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang menyumbang sekitar 48,6 poin, seiring kenaikan harga sahamnya 24,9% secara year to date (YTD) hingga pertengahan Januari 2026
SBN Kehilangan Daya Tarik
Di saat pasar saham berpesta, nilai tukar Rupiah justru bergerak sebaliknya. Pada akhir pekan lalu, Rupiah ditutup melemah di kisaran Rp16.855 per dolar AS, sementara imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik ke level 6,2–6,3%.
Pelemahan Rupiah ini dinilai berkorelasi erat dengan pasar obligasi, terutama karena meningkatnya persepsi risiko fiskal. Kepemilikan asing di SBN hingga kini masih tertahan di kisaran 13–14%, belum menunjukkan tanda-tanda arus masuk yang signifikan. Kondisi ini mempertegas pergeseran preferensi investor global yang saat ini lebih memilih saham dibandingkan obligasi pemerintah Indonesia
Tekanan Global dari Kebijakan Trump
Tekanan terhadap Rupiah juga datang dari faktor eksternal. Analis Mirae Asset lainnya, Jessica Tasijawa, menyoroti meningkatnya hambatan global seiring rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengenakan tarif impor 10% terhadap enam negara Uni Eropa, Inggris, dan Norwegia mulai 1 Februari 2026, yang berpotensi naik menjadi 25% pada Juni
Langkah tersebut dinilai sejalan dengan agenda kampanye Trump yang mengedepankan tarif sebagai instrumen ekonomi dan geopolitik. AS tercatat mengalami defisit perdagangan gabungan sekitar USD5,5 miliar dengan negara-negara tersebut pada 2024. Sebagai respons, Uni Eropa dilaporkan tengah menyiapkan langkah balasan berupa tarif terhadap produk AS senilai hingga EUR93 miliar atau setara USD107,7 miliar, memicu risiko perang dagang transatlantik baru
Ketegangan geopolitik ini mendorong penguatan indeks dolar AS (DXY) ke atas level 99, yang semakin menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Indonesia vs Korea Selatan: Dua Cerita yang Berbeda
Hingga pertengahan Januari 2026, Rupiah tercatat melemah 1,7% YTD ke level Rp16.942 per dolar AS, menjadikannya mata uang dengan kinerja terburuk kedua di kawasan, setelah won Korea Selatan (KRW) yang turun 2,3% YTD
Namun, menurut Jessica, pelemahan mata uang di Indonesia dan Korea Selatan memiliki karakter yang sangat berbeda. Di Korea, depresiasi won justru didukung fundamental ekspor yang kuat, tercermin dari lonjakan surplus neraca perdagangan hingga 87,7% secara tahunan. Kondisi tersebut memungkinkan indeks KOSPI tetap menguat, meski nilai tukar melemah.
Sebaliknya, ketahanan IHSG di tengah depresiasi Rupiah lebih banyak ditopang faktor likuiditas, bukan kekuatan fundamental struktural. Indonesia dinilai masih bergantung pada arus modal asing, dengan kerangka kebijakan yang sensitif terhadap pergerakan nilai tukar. Akibatnya, pelemahan Rupiah kerap beriringan dengan kenaikan premi risiko makro, membuat reli pasar saham menjadi lebih rapuh dan bersifat kondisional
Euforia yang Perlu Diwaspadai
Menurut Rully, rekor baru IHSG menjadi sinyal optimisme investor terhadap prospek jangka pendek pasar saham Indonesia. Namun, tekanan Rupiah, kenaikan imbal hasil SBN, serta meningkatnya ketidakpastian global menjadi pengingat bahwa euforia pasar belum sepenuhnya ditopang fondasi ekonomi yang kokoh.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati arah kebijakan fiskal dan moneter pemerintah, serta dinamika geopolitik global. Tanpa penguatan fundamental domestik, reli IHSG berisiko menghadapi volatilitas yang lebih tinggi, terutama jika arus modal asing berbalik arah./




