JAKARTA, Bisnistoday- Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat tersendat di awal 2026. Setelah mencetak reli impresif, IHSG terkoreksi dan kembali ditutup di bawah level psikologis 9.000, dipicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap rencana perubahan metodologi free float Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Meski demikian, analis menilai koreksi tersebut masih tergolong sehat dan bersifat teknikal, tanpa mengubah arah tren utama pasar saham Indonesia yang tetap positif.
Analis Senior PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan bahwa pelemahan IHSG dalam dua hari terakhir lebih mencerminkan fase penyesuaian setelah kenaikan yang berlangsung sangat cepat. Menurutnya, tekanan yang muncul bukan sinyal pembalikan arah, melainkan bagian dari konsolidasi jangka pendek.
“IHSG masih berada dalam tren positif di awal 2026. Koreksi ini wajar setelah reli yang agresif dan lebih bersifat teknikal,” ujar Rully di Jakarta, Senin (26/1).
Pada penutupan perdagangan 24 Januari 2026, IHSG berada di level 8.951, melemah 0,46 persen dengan pergerakan harian di kisaran 8.838–9.040. Secara teknikal, struktur tren naik masih terjaga kuat. Dalam periode 100 hari, indeks mencatat r-squared 0,933 dengan slope 12,19, menandakan kekuatan tren jangka menengah masih solid.
Pelembahan Jangka Pendek
Namun demikian, indikator momentum menunjukkan pelemahan jangka pendek. Nilai Z-Score berada di -1,84 yang mengindikasikan IHSG berada di bawah rata-rata historisnya, sementara indikator MACD dan histogram masih mencerminkan tekanan jual. Meski begitu, indikator likuiditas justru menguat. Volume transaksi tercatat sekitar 587 juta saham, jauh di atas rata-rata volume harian, menandakan minat pelaku pasar tetap tinggi meski indeks terkoreksi.
Analis teknikal PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Tasrul Tanar, menilai IHSG saat ini berada dalam fase konsolidasi dengan potensi technical rebound. Resistance terdekat berada di level 9.000 hingga 9.050, sementara area support kuat berada di kisaran 8.875–8.825. Level kritis 8.800 menjadi batas kunci yang menentukan arah pergerakan selanjutnya.
“Selama IHSG bertahan di atas 8.800, koreksi cenderung bersifat teknikal dan peluang kelanjutan tren naik masih terbuka,” jelas Tasrul
Dari sisi makroekonomi, Rully menambahkan bahwa kebijakan Bank Indonesia yang tetap menjaga bias akomodatif menjadi penopang sentimen pasar. Namun, ruang pelonggaran moneter tetap harus dijalankan secara hati-hati agar tidak menimbulkan tekanan berlebih pada nilai tukar rupiah.
Secara keseluruhan, prospek ekonomi Indonesia pada 2026 dinilai berpotensi lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan stabilitas makro yang terjaga dan partisipasi investor yang masih tinggi, pasar saham domestik dinilai memiliki fondasi yang cukup kuat untuk melanjutkan tren positifnya setelah fase konsolidasi mereda./




