BANDUNG BARAT, Bisnistoday – Ancaman longsor susulan masih membayangi Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi dan durasi panjang kembali mengguyur kawasan tersebut.
Bencana gerakan tanah yang terjadi pada Sabtu, 24 Januari 2026 dipicu oleh curah hujan tinggi yang menyebabkan lereng kehilangan kestabilannya. Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa air hujan yang meresap ke dalam tanah meningkatkan tekanan air pori, sehingga menurunkan kekuatan geser tanah dan berujung pada kegagalan lereng.
Sementara, akibat peristiwa Polda Jawa Barat menyebutkan sebanyak 25 jenzah menjadi korban. Pada hari kedua, Minggu, 25 Januari 2026 petang Tim SAR berhasil mengevakuasi 14 jenazah dari lokasi.
“Kami melakukan sinkronisasi data dengan seluruh tim yang ada di lokasi. Hingga pukul 17.00 WIB, jumlah kantong jenazah yang dikirim ke posko DVI sebanyak 25 kantong,” ujar Kabid Humas Polda Jawa Barat, Kombes Pol Hendra. di Puskesmas Pasirlangu, Minggu, (25/1).
Menurut data korban, yang telah teridenfikasi antara lain Suryana (57), Jajang Tarta (35), Dadang Apung, (60), Nining (40), Nurhayati (42) Lina Lismayanti (43) A.I. Sumarni (35) Koswara (40), Koswara (26), dan Ayu Yuniarti (31) dan juga M. Kori (30).
“Curah hujan tinggi menjadi faktor pemicu utama. Kondisi ini membuat tanah tidak lagi mampu menahan beban di atasnya,” ujar Lana dalam keterangan resmi.
Pelapukan dan Sesar Geologi
Tak hanya faktor cuaca, kondisi geologi setempat turut memperbesar risiko bencana. Wilayah Pasirlangu didominasi batuan gunung api tua yang telah mengalami pelapukan, dengan kemiringan lereng curam serta keberadaan rekahan dan sesar geologi. Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah (ZKGT), kawasan terdampak masuk kategori kerentanan menengah, yang berpotensi mengalami longsor terutama pada lereng yang telah terganggu.
Aktivitas manusia turut memperparah situasi. Pemotongan lereng untuk permukiman dan akses jalan, ditambah sistem drainase permukaan yang belum memadai, dinilai menurunkan kestabilan lereng di kawasan perbukitan tersebut. Kombinasi antara kondisi alam dan tekanan pembangunan menjadikan wilayah ini rawan bencana berulang.
“Peristiwa ini menunjukkan keterkaitan kuat antara morfologi curam, batuan vulkanik lapuk, struktur geologi, dan curah hujan tinggi dalam memicu longsor berskala luas,” tegas Lana.
Tim Tanggap Darurat Diterjunkan
Pascakejadian, Badan Geologi langsung mengerahkan Tim Tanggap Darurat (TTD) ke lokasi bencana. Tim yang terdiri dari 10 personel—lima teknis dan lima nonteknis—melakukan pemeriksaan lapangan di area terdampak seluas sekitar 30 hektare.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Hadi Wijaya, menyatakan bahwa tim akan mengkaji penyebab gerakan tanah sekaligus menyiapkan rekomendasi teknis penanganan bencana. Selain itu, sosialisasi kepada masyarakat dilakukan sebagai langkah mitigasi agar risiko kejadian serupa dapat ditekan.
Wilayah terdampak merupakan kawasan perbukitan dengan kepadatan permukiman dan aktivitas pemanfaatan lahan yang cukup tinggi. Kondisi ini membuat potensi korban dan kerugian semakin besar jika longsor susulan terjadi./Ant/




