www.bisnistoday.co.id
Rabu , 29 Juli 2026
Home EKONOMI Ekonomi & Bisnis Indonesia Harus Antisipasi Kebijakan Trump Yang Proteksionis
Ekonomi & Bisnis

Indonesia Harus Antisipasi Kebijakan Trump Yang Proteksionis

Donald Trump
Presiden AS, Donald J Trump./ant
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Pemeritah seharusnya dapat mengantisipasi adanya dampak dari strategis perekonomian Amerika Serikat (AS) dibawah kepemimpinan Donald J Trump yang cenderung proteksionis.

“Pengambil kebijakan di dalam negeri (Kemenkeu, BI dan OJK) harus mencermati dan mengkaji arah kebijakan pemerintah AS di bawah Pres. Trump yang cenderung proteksionis dan chauvinistis (cinta tanah air berlebihan),” tutur Ekonom Senior & Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Ryan Kiryanto, kepada Bisnistoday, di Jakarta, Senin (20/1)./

Dibawah kendali Trump, lanjut Ryan, ekonomi AS memang akan tumbuh menguat dengan konsekuensi inflasi naik. Dengan begitu, mempersempit ruang the Fed menurunkan bunga acuan.

“Ini sudah terasa akhir-akhir ini ketika mata uang global, termasuk Rupiah, tertekan terhadap dolar AS (fenomena US Dolllar Strong).”

Karena itu, Ryan Kiryanto mengungkapkan, kebijakan fiskal dan moneter harus selaras dan sinkron untuk menjadi benteng pertahanan dari efek Trump dengan “Trump 2.0 Policy” sehingga ekonomi tetap tumbuh konsisten dengan inflasi terkendali serta kurs rupiah stabil sesuai asumsi APBN 2025.

The Fed Rate Bakal Digoyang

Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas memperkirakan, pasar negara berkembang seperti Indonesia akan lebih volatile dibanding masa sebelumnya. Bahwa kecenderungan menaikkan FFR (Fed Rate) akan lebih berpeluang pada masa Trump ini. “Tentu saja, hal ini akan mendapat reaksi pasar di Indonesia, baik saham maupun obligasi,” ujarnya kepada Bisnistoday, Senin (20/1).

Apalagi, The Fed juga masih memiliki ruang untuk menaikkan rate sekitar 50% lagi, tentu akan menjadi tantangan bagi negara berkembang. Diperkirakan juga pada periode hingga Desember 2025 ini, The Fed berpeluang untuk menaikkan sekitar 2,7% menjadi 2,9%. Tentu kebijakan ini, akan mempertimbangkan seberapa pulihnya daya beli konsumsi domestic AS recovery./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Menteri LH Ajak Koperasi Masuk Pasar Karbon

JAKARTA, Bisnistoday — Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto secara konsisten...

Rupiah Melemah
Ekonomi & Bisnis

Rupiah Alami Tekanan Mental Respon Pengunduran Diri Gubernur BI

JAKARTA, Bisnistoday – Nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dollar AS, kembali...

Ekonomi & Bisnis

Lakon Store Bersamai Empat Brand di JF3 Fashion Festival 2026

JAKARTA, Bisnistoday - Tahun 2026 ini, Lakon Store mengusung Plesir, sebuah presentasi...

Bank Indonesia
Ekonomi & Bisnis

Stabilitas Nilai Tukar : Gubernur Bank Indonesia Baru Mesti Mampu Melakukan Orkestrasi Kelembagaan

JAKARTA, Bisnistoday – Gubernur Bank Indonesia yang baru nanti selayaknya harus memimpin...