www.bisnistoday.co.id
Minggu , 28 Juni 2026
Home OPINI Profile Indra Gunawan : Komunikasi Jadi Kunci Kelancaran Persoalan Tanah
Profile

Indra Gunawan : Komunikasi Jadi Kunci Kelancaran Persoalan Tanah

Persoalan tanah mudah diselesaikan apabila semua pihak saling percaya, dan kepercayaan tidak bisa muncul tiba-tiba, tetapi itu hadir dengan cara dibangun waktu demi waktu.  

KEPALA BPN Kota Depok, Indra Gunawan, disela-sela kegiatanya, di Depok.
Social Media

Sosok Indra Gunawan, bagi kalangan awak media yang berkecimpung dalam informasi pertanahan, sudah tidak asing lagi. Pria asal dari pelosok perkampungan di Kabupaten Lampung Timur ini, terkenal akrab dengan jurnalis. Maklum, karena sebelum didapuk sebagai Kepala BPN Kota Depok, Indra menduduki jabatan penting sebagai Kabag Humas dan Hubungan Antar Lembaga (HAL), di Kementerian ATR/BPN.

Pria yang terlihat muka serius dan galak ini, juga ternyata cukup humoris apabila diajak berdialog. Apa saja temanya, Indra senang menceritakan berbagai pengalaman kerjanya di bidang pertanahan, bahkan pengalaman pribadinya suka celetuk. “Saya itu orangnya terbuka, dan senang bertemu siapa aja,” ujarnya.

Didalam hidupnya, Indra selalu memegang wejangan dari para sesepuhnya di kampung halaman. Indra yang kebetulan dilahirkan dalam keluarga sederhana di Kota Kecamatan ini, sudah sejak dari kecil ditempa kehidupan keras, serta ‘diracuni’petuah para moyangnya.

“Orang tua saya pegawai dan petani, orang tua saya galak, tak mau menampakan sayangnya dihadapan umum, bahkan dihadapan anaknya sendiri.”

Berangkat dari situasi yang minus kasih sayang inilah, membuat dirinya justeru serasa sebagai menusia pemberani, mandiri dan disiplin. Bahkan, Indra terkadang, kelihat bersikap nyeleneh, diluar nalar, suka ambil risiko. Terkadang, orang luar melihat sosok Indra sebagai ‘risk taker.’ Hal tersebut tidak dapat disembunyikan, karena terlihat mewarnai dalam pilihan sikapnya dalam berbagai hal.

“Seperti saya mimilih tempat tinggal di Depok ini, saya tidak pikir habis berapa membetulkan rumah, walau ini rumah teman saya! Umumnya orang, pilih beli rumah, nanti milik sendiri, tapi saya memilih tidak. Dan, saya rombak begitu aja sesuai keinginan sendiri,” cetusnya.

Bagi orang umumnya, menganggap sikap indra ini seperti orang kurang waras. Tetapi ya itulah Indra Gunawan, pria asal kampung di Lampung ini. “Saya selalu berpikir optimis, apapun yang saya lakukan. Orang lihat sebagai ‘risk taker’, tapi bagi saya pribadi itu biasa-biasa saja.”

Sikap mandiri Indra Gunawan ini, ternyata bukan tiba-tiba saja muncul. Indra meyakini aura tersebut merupakan sinar yang memancar, muncul dari tempaan kehidupan pribadinya sehari-hari  sejak kecil.

Wajar, sejak masa kecil, Indra dihadapkan situasi lingkungan premanisme, sekalagus kehidupan agamis, begitupula lingkungan terpelajar. Tiga hal inilah, yang mewarnai masa-masa kecil hidupnya di Desa, pinggiran Lampung ini. “Suatu ketika saya masih kecil disuruh panggil kerabat yang jadi jawara, bertato, ya layaknya preman. Takut setengah mati, beneran. Kehidupan keras, seperti dibentak orang sudah biasa. Ini dekat dengan kehidupan kecil saya,” ucapnya.

Bukan lantas, hal ini menjadikan minder, takut atau rendah diri, namun Indra malah membuat situasi itu menjadi lebih dewasa, pemberani serta terbiasa mandiri, jauh rasa ketakutan. “Saya dibilang nakal, sejak kecil. Berlari diatas atap rumah sudah biasa.”

Ibu adalah seorang guru ngaji, merasa dirinya malu punya anak yang tak bisa diam seperti Indra Gunawan. Lantas, ibunya memindahkan sekolah SMP ke Kota Bandar Lampung. “Itulah saya, dari SD sudah disuruh naik bus dan angkot sendirian, dari Kota Kecamatan, ke Kota Bandar Lampung. Jalan sendiri sudah tak takut-takut.”

Indra menginjak usia dewasa sudah mengenyam pendidikan SMA di perkotaan, menjadikanya tambah banyak mengenal dan dikenal teman sejawat. Rasa percaya dirinya tumbuh pesat, dan muncul ketika pertama kali berbicara dihadapan podium sebagai Ketua OSIS di SMA Bandar Lampung.

“Kaki saya, gemeteran, ketika itu. Pertama kali berbicara di hadapan publik walau hanya temen sendiri. Ternyata tidak mudah, dan Itu tak terlupakan.”

Kebetulan saja, mertua Indra juga mantan gurunya sendiri ketika di bangku SMA. Anak dari gurunya sendiri malah menjadi labuhan cintanya terakhir sampai sekarang. Lalu, masa hidup remaja di SMA sudah mulai ditinggalkan ketika Indra memasuki pergaulan mahasiswa di Universitas Lampung  (Unila).

Setelah lulus, tidak lama berselang waktu, bekerja di Aceh, maupun di Papua, sosok Indra Gunawan akhirnya mampu berguru lagi di Yogyakarta, dan lulus sebagai Sarjana di UGM. “Setelah lulus, saya kembali pulang ke Lampung ketemu Orang Tua. Ayah tanya alasan pulang, bahkan saya diusir lagi, karena dianggap pengalaman hidupnya belum cukup,” cetusnya.

Hingga akhirnya, berlabuh di pekerjaan yang tengah digelutinya sampai sekarang di Kementerian ATR/BPN, yang awalnya merupakan Badan Pertanahan Nasional (BPN). Kehidupan yang dilakonniya membuat Indra Gunawan selalu tawaduk, tabah, serta pantang menyerah, bahkan menghadapi persoalan yang rumit sekalipun.

Prinsipnya, sebagai profesional pegawai pemerintah harus berdarmabakti sebaiknya-baiknya. Modal utama sebagai ASN adalah tiga hal, menguasai bidang teknis, bidang hukum serta administrasi. “Bagi ASN tiga hal ini harus punya skill dasar. Karena akan bertemu tiga hal ini, setiap hari,” ucapnya.

Selain itu, setelah mampu mengendalikan tiga hal tersebut harus dilengkapi dengan kemampuan manajemen dan leadership. Kedua hal ini, juga sangat penting dalam melengkapi pekerjaan sebagai pengangungjawab atau koordinator pekerjaan. “Nah dalam tingkatan pemimpin, dimana saja, harus melengkapi lagi dengan kemampuan komunikasi dan politik,” tuturnya.

Dengan berbekal tujuh hal tersebut secara bertahap didapatkannya, maka persoalan yang ruwet seperti pembebasan tanah di proyek strategis nasional di Kota Depok dapat diselesaikan dengan mulus.”Apa yang menjadi persoalan? Kalau dikomunikasi dengan baik, semua tentu berjalan lancar bukan?”

Tidak hanya itu, program pertanahan di Kota Depok dengan pelaksanaan Program Pendafataran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) hampir rampung. Dari 114 ribu bidang tanah, program PTSL tinggal tersisa 1.400 an bidang yang belum tuntas.

“Walau kecil, tapi hal ini harus diselesaikan. Dan, kami buka diri, silahkan datang ke kantor untuk diselesaikan dan gratis kok. Ini semua dapat berjalan, karena ikhlas dan dengan penuh rasa percaya diri pada kemampuan diri sendiri,” tuturnya./

Jakarta, Juli 2023

Redaksi

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Wamendagri
HEADLINE NEWSProfile

Kepemimpinan Berlandaskan Nilai, Harapan, dan Merawat Dukungan Masyarakat

JAKARTA, Bisnistoday – Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto, Ph.D. menegaskan...

H Agus Edy
Profile

Kisah Sukses Agus Edy Membesarkan Rumah Makan Lamun Ombak

PADANG, Bisnistoday - MAMPU bertahan walau dihadang gelombang ombak besar, itulah makna...

Victor Hartono
Profile

Belajar dari Jejak Panjang Keluarga Hartono: Ketika Bisnis Bukan Sekadar Warisan, Tapi Perjuangan Zaman

JAKARTA, Bisnistoday - Kepergian Bambang Hartono beberapa waktu lalu bukan sekadar kehilangan...

Profile

Ini Isi Surat Megawati ke  Pemerintah Iran, Pasca Tewasnya Ali Khamenei

JAKARTA, Bisnistoday - Dengan hati terkejut dan sangat berduka, saya Prof.Dr. Megawati...