JAKARTA, Bisnistoday – Pemerataan pertumbuhan ekonomi nasional semakin menunjukkan arah positif. Arus investasi asing (PMA) kini tidak lagi terpusat di Pulau Jawa, melainkan semakin kuat mengalir ke berbagai wilayah di luar Jawa, terutama pada sektor industri manufaktur. Pergeseran ini menjadi sinyal penting bahwa strategi industrialisasi pemerintah mulai menghasilkan dampak konkret bagi struktur perekonomian Indonesia.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa tahun 2026 akan menjadi momentum penting bagi penguatan industri manufaktur nasional. Menurutnya, data terbaru menunjukkan minat investor global terhadap industri logam, kimia, mesin, dan elektronik terus meningkat. “Kebijakan industrialisasi Presiden Prabowo berjalan pada jalur yang tepat. Investor semakin percaya bahwa Indonesia adalah basis produksi manufaktur yang kompetitif,” ujarnya.
Riset BRI Danareksa Sekuritas menunjukkan komposisi PMA ke sektor sekunder meningkat signifikan dari 35,3% pada 2018 menjadi 59,6% hingga kuartal III 2025. Lompatan ini menandai semakin matangnya ekosistem industrialisasi yang tidak lagi bergantung pada ekspor bahan mentah, tetapi telah bergerak menuju pengolahan berbasis klaster industri.
Pergeseran investasi ini juga mulai memperkuat pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di berbagai wilayah, khususnya Sulawesi, Maluku, dan Kalimantan. Pemerintah menegaskan akan terus menjaga momentum ini agar pembangunan semakin merata.
“Multiplier Effect” Lebih Besar di Luar Jawa
Salah satu temuan paling mencolok adalah besarnya dampak investasi manufaktur bagi ekonomi daerah. Untuk setiap PMA senilai Rp1 triliun di luar Jawa, aktivitas ekonomi mampu menciptakan tambahan pembentukan modal (PMTB) hingga Rp1,76 triliun. Angka ini jauh melampaui dampak investasi serupa di Jawa yang hanya menghasilkan tambahan sekitar Rp140 miliar.
Multiplier effect ini mencerminkan besarnya kebutuhan modal dan cepatnya percepatan pembangunan klaster industri baru di kawasan tersebut.
Chief Economist BRI Danareksa Sekuritas, Helmy Kristanto, menambahkan bahwa dominasi sektor manufaktur dalam PMA akan memperluas manfaat kesejahteraan secara geografis. “PMA di luar Jawa memiliki efek pengganda yang lebih kuat. Ini memperkuat pertumbuhan yang lebih seimbang antarwilayah,” jelasnya./




