www.bisnistoday.co.id
Minggu , 10 Mei 2026
Home OPINI Indepth Jejak Imigran dalam Wajah Baru New York
Indepth

Jejak Imigran dalam Wajah Baru New York

Social Media

BISNISTODAY- New York tidak dibentuk oleh satu kaum atau etnis semata, melainkan lahir dan dibesarkan oleh arus imigran yang tiada henti, yang menorehkan jejak dalam ekonomi, budaya, dan kehidupan sosialnya. Setelah lama terpinggirkan oleh rasisme struktural, kota di Amerika Serikat (AS) itu kini menapaki lembaran baru dengan terpilihnya Zohran Mamdani sebagai wali kota.

Menjelajahi sejarah ini penting untuk memahami bagaimana kota ini berkembang dan kemudian menghadapi tantangan, termasuk marginalisasi imigran oleh rasisme struktural, sebelum akhirnya memasuki babak baru politik dan identitas. Yuk, simak perjalanan imigran di kota New York!

*Akar Imigran*
Julukan The big apple disematkan pada kota New York, yang merujuk pada pusat ekonomi, hiburan, dan budaya yang besar dan menggiurkan seperti “apel besar” yang layak dipetik. Sejak awal abad ke‑19, kota ini telah menjadi pusat migrasi manusia dari seluruh penjuru dunia.

Melansir dari situs Museum of the City of New York (MNCY), New York pada awal abad ke-21 kembali seperti di awal abad ke-20, terutama dalam hal demografi. Meski telah mengalami perubahan besar dalam teknologi, budaya, dan tata kota, kota ini kembali menjadi rumah bagi para imigran, sebagaimana akar sejarahnya.

Namun, status New York sebagai kota imigran sempat terhenti. Dari akhir 1920-an hingga awal 1970-an, kota ini didominasi oleh penduduk kelahiran Amerika, akibat kebijakan kuota imigrasi tahun 1924 yang menutup “pintu emas” bagi pendatang baru. Pada 1950-an, lebih dari 80 persen warga New York lahir di dalam negeri.

Perubahan besar terjadi setelah Undang-Undang Hart-Celler disahkan pada 1965, membuka kembali arus imigrasi ke Amerika. Dalam dua dekade berikutnya, jutaan imigran masuk ke New York, membawa keragaman geografis yang jauh lebih luas dibandingkan gelombang imigrasi sebelumnya yang didominasi oleh orang Eropa.

Imigran datang dari berbagai penjuru dunia: Amerika Selatan, Uni Soviet, Asia Tenggara, Karibia, India, Afrika, Tiongkok, Meksiko, dan banyak negara lainnya. Mereka tertarik oleh kemakmuran baru kota ini dan janji lama akan peluang ekonomi yang kini kembali bersinar.

World Trade Center menjadi simbol nyata keberagaman ini, dengan pekerja dari puluhan negara yang mengisi berbagai peran, dari programmer hingga pembersih jendela. Restoran Windows on the World, misalnya, mempekerjakan staf dari 30 negara berbeda, mencerminkan wajah global kota ini.

Menjelang akhir 1990-an, New York menjadi contoh hidup dari masyarakat multikultural kompleks kompleks dan stabil. Dengan lebih dari 180 bahasa yang digunakan dan populasi yang melonjak lebih dari 700.000 dalam satu dekade, kota ini mencapai tonggak sejarah: lebih dari delapan juta penduduk pada tahun 2000, berkat kekuatan imigrasi.

*Kota Pelabuhan dan Pusat Ekonomi*
Dalam pameran New York at Its Core: Port City, MCNY menjelaskan bahwa New York lahir sebagai proyek komersial. Pada tahun 1609, penjelajah Inggris Henry Hudson, atas nama perusahaan Belanda, menemukan potensi ekonomi besar di wilayah tersebut, terutama sumber daya alam seperti bulu binatang dan ikan.

Tahun 1624, Dutch West India Company mengirim pedagang dan pemukim untuk memanfaatkan potensi koloni ini, yang kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan penting.

MCNY menyebut bahwa New York tumbuh di tepi pelabuhan tersibuk di Belahan Barat, yang menjadikannya pusat ekspor-impor nasional dan pintu gerbang utama bagi barang dan imigran. Pelabuhan ini menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi kota, yang kemudian berkembang menjadi ibu kota ekonomi dan budaya AS.

Seiring waktu, New York menjadi pusat perbankan, perdagangan internasional, dan industri manufaktur, terutama pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Peran ini diperkuat oleh infrastruktur pelabuhan, jaringan kereta api, dan tenaga kerja imigran yang mendukung sektor-sektor seperti tekstil, percetakan, dan barang konsumsi.

*Terpinggirkan oleh Rasisme Struktural*
New York menjadi pintu gerbang utama bagi jutaan imigran yang mencari kehidupan baru di AS. Namun, di balik peluang ekonomi yang ditawarkan kota pelabuhan ini, para imigran New York menghadapi tantangan berat berupa diskriminasi sistematis dan sentimen anti-imigran.

Museum of the City of New York mencatat bahwa kelompok nativis yang mengklaim sebagai “penduduk asli” Amerika mendirikan partai politik dan menyebarkan propaganda yang menolak pengaruh asing, terutama terhadap imigran Irlandia dan Katolik pada tahun 1835.

Diskriminasi ini tidak hanya bersifat sosial, tetapi juga tertanam dalam kebijakan publik yang membatasi akses imigran terhadap pekerjaan, pendidikan, dan hak politik. Sentimen anti-imigran dan sistem sosial yang tidak adil membuat mereka terpinggirkan, meskipun kontribusi mereka sangat besar dalam membangun ekonomi dan budaya AS.

Library of Congress menyoroti bahwa rasisme struktural terhadap imigran berlangsung melalui institusi hukum dan kebijakan yang secara tidak langsung meminggirkan mereka dari kehidupan sipil.

Imigran dari Eropa Timur, Asia, dan Karibia sering kali ditempatkan dalam lingkungan padat dan tidak sehat, bekerja dalam sektor-sektor berupah rendah, dan menghadapi hambatan dalam memperoleh kewarganegaraan atau perlindungan hukum.

Menurut laporan Indonesian Lantern (Februari 2025), kebijakan imigrasi federal yang keras, termasuk deportasi massal dan pemotongan dana kota suaka, berdampak langsung pada 1,8 juta imigran di Negara Bagian New York, termasuk 670.000 imigran tanpa dokumen

*Politik Identitas Baru Zohran Mamdani*
Zohran Mamdani resmi Wali Kota New York pada 1 Januari 2026. Dalam pidato kemenangannya pada 4 November 2025, Zohran menyuarakan identitasnya sebagai imigran dan menyulut api perlawanan terhadap kebijakan anti-imigran Presiden Donald Trump.

“New York akan tetap menjadi kota para imigran, dibangun oleh imigran, digerakkan oleh imigran, dan mulai malam ini, dipimpin oleh seorang imigran,” ujar Zohran disambut sorak pendukung seperti dikutip dari Investor.daily pada (6/11/2025).

Zohran juga mengkritik keras Perintah Eksekutif 14159 yang memperluas deportasi cepat dan memangkas dana federal untuk kota-kota suaka. Kebijakan itu, menurut Zohran, adalah bentuk diskriminasi sistematis yang menggerus nilai-nilai konstitusional Amerika.

Dalam laporan Media Indonesia, Zohran berjanji akan mempekerjakan kembali pegawai negeri kulit hitam dan imigran yang diberhentikan selama masa pemerintahan Trump, serta melindungi komunitas trans dan kelompok rentan lainnya.

Zohran terpilih dengan mandat untuk perubahan transformatif. Kemenangan bersejarahnya didukung oleh puluhan ribu warga New York yang meyakini kota yang lebih baik itu mungkin. Selain imigran, Zohran merupakan Muslim pertama yang memimpin kota tersebut.

Perjalanan imigran di New York mencerminkan dinamika sosial Amerika, terlebih terkait rasisme struktural. Terpilihnya Zohran Mamdani sebagai wali kota menjadi bagian dari perubahan lanskap politik dan identitas kota yang terus berkembang. ((E2-Novita Lestari)

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Sejumlah panel sulaman dari Permadani Genosida Gaza [Sumber: Museum Palestina AS]
GLOBALHumanioraIndepth

Menyulam Kesaksian di Permadani Genosida Gaza

JAKARTA, Bisnistoday - “Saya seorang jurnalis; bercerita adalah keahlian saya. Kata-kata adalah...

HUT ke-6 Bisnistoday.co.id
IndepthOPINI

Enam Tahun Perjalanan Bisnistoday.co.id Menjaga Muruah Jurnalisme

JAKARTA, Bisistoday - Perkembangan dunia digital telah mengubah cara masyarakat dalam mengakses...

Penyediaan Bendungan
Indepth

Infrastruktur Bukan Sekadar Beton: Menguji Arah Pertumbuhan Indonesia

AMBISI Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8% sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan...

Kelapa Sawit
Indepth

Menimbang Arah Industri Sawit di Tengah Gejolak Energi dan Geopolitik

INDUSTRI kelapa sawit Indonesia kembali berada di persimpangan strategis. Proyeksi lonjakan harga...