www.bisnistoday.co.id
Kamis , 13 Agustus 2026
Home OPINI Gagasan Kalender Seharga Rp6,6 miliar, Serius?
Gagasan

Kalender Seharga Rp6,6 miliar, Serius?

Bank Indonesia
GEDUNG Bank Indonesia di Jakarta, belum lama ini.
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Ingat kelender, ingat Gus Dur yang pernah berlucu – lucu ria tentang Kelender. Buat Gus Dur, bila ingin kenyang selama satu tahun, belilah kelender yang seharga sepuluh ribu.Dengan memiliki satu kelender saja, sudah cukup memenuhi kebutuhan selama satu tahun. Tetapi kalau duit hanya sepuluh ribu untuk membeli Nasi atau lauk pauk tidak akan cukup untuk kebutuhan satu tahun.

Nah ! Dalam tahun ini seperti BI (Bank Indonesia) ingin menjadikan guyonan Gus dur menjadi sebuah kenyataan, sebuah Program bagi BI. Tidak malu – malu, tidak mau tanggung – tanggung, BI akan cetak kelender Tahun 2024 sebesar Rp6.6 miliar.

Cetak kelender seharga Rp.6.6 miliar, anggap saja sama dengan irama goyunan ala Gus Dur. Duit sepuluh ribu atau Rp.6.6 miliar, anggap tidak ada perbedaan, sama sama duit, sama – sama dicetak BI. Dan Gus Dur atau  Pejabat BI seperti Gubernur BI, Perry Warjiyo beserta jajarannya deputinya, ternyata sama – sama punya selera humor tinggi.

Makanya, jangan katakan “Wow”, karena jengkel, atau jangan katakan ini terlalu mahal,  atau BI dituduh suka pemborosan uang negara. Tetapi, sekali lagi anggap saja Gubernur BI, Perry Warjiyo sedang “Stand up comedy” alias berlucu – lucuan ria di depan Publik sambil menghambur – hamburkan duit BI.

Cukup Untuk Setahun

Dengan mengikuti humor Gus dur, dengan membeli kelender sampai Rp.6.6 miliar, Gubernur BI barangkali tidak usah lagi menerima gaji yang katanya bisa mencapai Rp199 juta per bulan atau hampir Rp 2,4 miliar per tahun. Cukup dengan mendapat satu pengadaan kalender saja dari BI yang dia pimpin, sudah cukup atau lebih untuk kebutuhan makan selama satu tahun.

Atau bisa bisa juga, dengan cetak kelender Rp.6.6 miliar seperti sebagai obat untuk karyawan BI. Obat mengantisipasi masalah Yang sedang heboh di kalangan rakyat menengah dan rakyat kecil tentang Beras mahal dan membeli beras di ritel harus dibatasi.

Artinya dengan memiliki satu buah kelender tiap karyawan BI, maka anggap saja sudah mencukupi kebutuhan makan selama satu tahun. Dan para karyawan tidak usah lagi beli beras yang dibatasi seperti rakyat kecil diatas. Namun hal ini, Benar benar tidak masuk akal sama sekali.

Makanya untuk itu, kami dari CBA (Center For Budget Analysis) meminta kepada Gubernur BI, Perry Warjiyo agar cetak kelender seharga Rp.6.6 miliar dibatalkan saja. Dan lebih baik duit sebanyak Rp.6.6 miliar dialokasikan saja, misalnya untuk beli beras, sebanyak 461.105  Kg, ketika harga beras sekitar Rp.14.500

Dengan beras sebanyak 461,105 Kg ini bisa di bagi bagikan untuk orang – orang miskin, fakir miskin, orang Jompo, dan para janda – Janda tua yang seharusnya dipelihara Negara, tetapi kini sudah dipelihara oleh Bank Indonesia.

Akan tetapi, bila BI tetap ngotot mencetak kelender sampai Rp.6.6 miliar, maka Kami dari CBA meminta aparat hukum harus mengawasi dan menyidiknya. Cetak kelender patut dicurigai, tidak pantas cetak kelender bisa sampai ke angka Rp.6.6 miliar bagi orang orang yang waras.

Jakarta, 6 Oktober 2023

Oleh : Uchok Sky Khadafi, Direktur CBA (Center For Budget Analysis)

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Logo BI
Gagasan

Independensi Bank Indonesia dan Arah Angin Politik

INDEPENDENSI Bank Indonesia (BI) sering kali disalahpahami sebagai kebebasan untuk berjalan tanpa...

Gianni Infantino (dok:AFP/LATimes)
GagasanSport & Health

Pelajaran dari Krisis Kepemimpinan FIFA

FIFA, Federasi Sepak Bola Internasional, saat ini sedang diterpa masalah, terutama terkait...

Karhutla (Ilustrasi: Unsplash/Matt-Palmer)
GagasanLingkungan

Amuk Api di Lahan Kerontang

SEJUMLAH peristiwa kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terjadi sepanjang pekan ini, yakni...

Pagar (ilustrasi by Unsplash/Jake Nackos)
Gagasan

Makna di Balik Pagar

AkHIR-akhir ini, di threads dan instagram, ramai perbincangan soal pembangunan pagar di...