JAKARTA, Bisnistoday- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan akhir pekan, Jumat (7/5) kembali terkoreksi 41,93 poin ke posisi 5.928,31, sementara indeks LQ-45 turun 8,22 poin ke posisi 880,73. Pelemahan ini seiring dengan kekhawatiran pelaku pasar terhadap peningkatan kasus Covid-19 secara global.
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mengatakan, meskipun pergerakan bursa global dan rilis data ekonomi dalam negeri cenderung membaik, namun IHSG masih tertekan.
“Kami perkirakan memang secara teknikal IHSG masih memiliki sedikit ruang koreksi dan kalau dari sisi sentimen yaitu meningkatnya kasus Covid global sehingga menyebabkan beberapa negara, bahkan negara tetangga kita kembali menerapkan lockdown,” kata dia di Jakarta, Jumat (7/5).
Dibuka menguat, IHSG hanya bertahan di zona hijau pada satu jam pertama perdagangan. IHSG kemudian menghabiskan waktu di teritori negatif hingga penutupan perdagangan saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sepuluh sektor terkoreksi dimana sektor perindustrian turun paling dalam yaitu minus 1,02 persen, diikuti sektor keuangan dan sektor barang baku masing-masing minus 0,92 persen dan minus 0,9 persen. Sedangkan satu sektor naik yaitu sektor kesehatan sebesar 0,45 persen.
Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi beli saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing atau net foreign buy sebesar Rp146,62 miliar.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 970.525 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 14,42 miliar lembar saham senilai Rp8,7 triliun. Sebanyak 164 saham naik, 308 saham menurun, dan 161 saham tidak bergerak nilainya.
Sementara itu bursa saham regional Asia sore ini antara lain Indeks Nikkei menguat 26,4 poin atau 0,09 persen ke 29.357,8, indeks Hang Seng turun 26,8 poin atau 0,09 persen ke 28.610,7, dan Indeks Straits Times meningkat 26,76 poin atau 0,84 persen ke 3.199,76.
Rupiah Menguat
Sementara itu, nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta ditutup menguat 34 poin atau 0,24 persen ke posisi Rp14.285 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.319 per dolar AS.
“Ini murni risk appetite, di mana ekspektasi bagus dari data-data tenaga kerja AS dan pemulihan ekonomi melemahkan dolar AS,” kata analis Valbury Asia Futures, Lukman Leong.
Klaim tunjangan pengangguran AS tercatat di angka 498.000 pekan lalu, angka terendahnya di masa pandemi dan lebih baik dari perkiraan 527.000.
Sementara itu pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam pada kuartal I 2021 mencapai 6,4 persen (yoy).
Dari domestik sentimen datang dari perekonomian Indonesia pada triwulan I-2021 masih tumbuh negatif atau mengalami kontraksi 0,74 sebesar persen (yoy).
Pertumbuhan tersebut mulai memperlihatkan adanya perbaikan karena adanya tren yang menanjak sejak ekonomi triwulan II-2020 terkontraksi 5,32 persen. “Ada pengaruh dari sentimen ini. Namun tidak besar efeknya,” ujar Lukman./


