www.bisnistoday.co.id
Rabu , 19 Agustus 2026
Home EKONOMI KKP Kembangkan Outlet Pentokolan Udang Windu
EKONOMIEkonomi & Bisnis

KKP Kembangkan Outlet Pentokolan Udang Windu

KKP mendorong pengembangan udang windu
Social Media

JAKARTA, Bisnistoda – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB), BBPBAP Jepara gencar mendorong pengembangan udang windu, salah satunya melalui pengembangan outlet pentokolan, terutama di tambak-tambak tradisional yang tersebar di Pantura Jawa Tengah, Jawa Timur dan Kalimantan Utara.

Sejak tahun 2022, Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara mengembangkan inovasi pentokolan benih udang windu dengan membangun outlet pentokolan di kawasan budidaya udang windu. Hingga saat ini setidaknya terdapat sebanyak 5 outlet pentokolan antara lain di Kabupaten Brebes, Sidoarjo, Gresik, Kalimantan Barat, dan di Kota Tarakan. Keberadaan outlet tersebut secara langsung berdampak signifikan terhadap produktivatas budidaya udang windu di kawasan tersebut dan akan jadi model untuk pengembangan di daerah lainnya.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Tb Haeru Rahayu menegaskan bahwa komoditas udang windu juga menjadi fokus perhatiannya. Oleh karena itu, ia menekankan untuk segera memetakan strategi pengembangannya.

“Saya sudah minta, UPT BBPBAP Jepara untuk mendorong pengembangan udang windu ini, mulai dari ketersediaan benih bermutu, hingga pengembangan budidayanya di masyarakat. Inovasi pengembangan outlet pentokolan, harus didorong secara masif di berbagai daerah, sebagai upaya merevitalisasi tambak tradisional,” tegas Tebe.

Kepala BBPBAP Jepara, Supito menambahkan bahwa pihaknya mempunyai tanggungjawab besar bagaimana mengembalikan kejayaan udang windu yang selama beberapa dekade terakhir masih terpuruk khususnya di Pantura Jawa. Padahal, udang windu adalah udang asli Indonesia.

“Tim kami berpikir keras supaya usaha udang windu ini bisa memasyarakat lagi, kesimpulannya perlu ada revitalisasi dari sisi manajemen produksi. Artinya bagaimana produktivitas naik, dan memberikan keuntungan lebih tinggi bagi pembudidaya,” ungkapnya.

Tambak Tradisional

Supito menjelaskan bahwa masalah utama  tambak tradisional adalah  kualitas lingkungan budidaya, seperti terjadinya pembusukan dasar tambak, sehingga menyebabkan Survival Rate (SR) rendah yang akhirnya  berdampak pada produksi yang rendah juga. Oleh karena itu, perlu pengendalian dengan aplikasi probiotik lactobacilus dan penggunaan benih yang berkualitas dan adaptif.

Adapun benih yang digunakan adalah ukuran tokolan  (panjang minimal 1,2 cm) dari outlet pentokolan di dekat lokasi tambak.  Salah satu kelebihan menggunakan benih hasil pentokolan yakni bisa lebih awal memprediksi SR. Artinya, sejak awal akan diketahui kejadian atau masalah yang muncul dalam waktu 1-2 minggu, karena umur pentokolan hanya selama 1-2 minggu, sehingga lebih mudah dalam melakukan risk management. Dari aspek bisnis, menurutnya dengan sistem pentokolan ini lebih efisien dibandingkan dengan tebar benur langsung.

“Jika kita menggunakan benur langsung (ukuran panjang 10 mm) dengan harga per ekor rata-rata sampai lokasi tambak sekitar Rp30,- per ekor, tetapi SR nya hanya 10%, artinya secara ekonomi sebenarnya harga benih yang dibeli mencapai Rp300,- per ekor. Tapi kalau kita menggunakan tokolan (ukuran panjang minimal 1,2 cm) dengan harga misalkan Rp60,- per ekor, dengan target SR misalkan 50%, maka harga benih sebenarnya hanya sekitar Rp120,-. Artinya sebenarnya harga tokolan ini lebih murah dibanding benur dengan tingkat SR yang sangat rendah,” imbuhnya.

Pengembangan Usaha

Supito menambahkan setidaknya ada 5 standard yang menentukan dalam pengembangan udang windu  yakni : benur yang bebas penyakit, Surat Keterangan Asal Benur (SKA), penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) pentokolan, SOP pembesaran, dan pendampingan teknis. Terkait masalah benih, pihaknya di tahun ini mulai merancang action plan untuk pemuliaan udang windu dengan menggandeng pakar genetik.

“Kami akan berkolaborasi, dan meminta masukan dari para pakar, sehingga tahun ini sudah ada protokol atau SOP baku untuk pemuliaan udang windu”, pungkasnya.

Sementara itu, Edi Supriyanto salah seorang pembudidaya udang windu di Kabupaten Sidoarjo, mengaku mendapatkan hasil yang signifikan setelah memakai benur hasil pentokolan.

“Dibanding dengan penebaran sebelumnya yang tidak menggunakan tokolan, setelah menggunaan tokolan panen kali ini jauh mendapatkan hasil yang lebih tinggi. Peningkatannya bisa 100 persen,” ujar Edi./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Motor Listrik
Ekonomi & BisnisHEADLINE NEWS

Industri Kecil dan Menengah Terbuka Peluang Jadi Pemasok Motor Listrik Nasional

JAKARTA, Bisnistoday - Pemerintah mendorong keterlibatan industri kecil dan menengah (IKM) dalam...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Peringati HUT ke-81 RI, Menkop Tegaskan Komitmen Kemerdekaan Ekonomi Kerakyatan

JAKARTA, Bisnistoday - Kementerian Koperasi (Kemenkop) menggelar Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun...

Kawasan Hunian
Ekonomi & Bisnis

KAI Bersiap Garap Penyediaan Hunian Terjangkau di Pusat Kota Jakarta

JAKARTA, Bisnistoday -  PT Kereta Api Indonesia (Persero) bakal menggarap penyediaan hunian...

EKONOMI

Garuda Indonesia Kembali Layani Penerbangan dari Bandara Husein Sastranegara Bandung

BANDUNG, Bisnistoday - Garuda Indonesia kembali melayani penerbangan menggunakan pesawat jet dari Bandara...