Jakarta, Bisnistoday – Sadli Karim, seorang kreator konten asal Sulawesi Tengah yang aktif membahas perkembangan sepak bola nasional, mencuri perhatian publik melalui program Komunikasi Malam (Komal) di akun TikTok @sadlikarim.
Dalam sesi Komal, Sadli kerap memperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya sebagai bentuk penghormatan kepada bangsa dan negara.
Langkah ini sekaligus menjadi simbol semangat nasionalisme di tengah diskusi hangat tentang perjalanan Tim Nasional Indonesia di kualifikasi Piala Dunia 2026.
Ketika diwawancarai mengenai keputusannya tersebut, Sadli menuturkan bahwa menyanyikan lagu Indonesia Raya sudah menjadi tradisi setiap kali Timnas Indonesia berlaga.
“Menyanyikan lagu Indonesia Raya adalah tradisi ketika timnas Indonesia bermain, dan ini memberikan semangat berdialog,” ujar Sadli, Kamis 9 Januari 2025.
Sadli secara tegas, semua nara sumber yang berasal dari nitizen pecinta sepak bola nasional dilarang menebar kebencian, menyampaikan kata kasar, dan menyerang personal.
“Ya semua kritik kita tampung, kita hargai, tapi jika ada yang menebar kebencian, mencaci maki peserta komal lainnya, saya tak segan menurunkan dan mem-black list,” timpalnya.
Sebagai seorang penggemar sepak bola yang kerap menampung analisis dan opini tentang performa Timnas, Sadli juga mengedepankan dialog yang konstruktif.
“Sekali lagi, lagu Indonesia Raya mengingatkan kita bahwa tujuan utama adalah kemajuan sepak bola Indonesia. Kritik memang penting, tetapi harus disampaikan dengan semangat membangun, bukan menjatuhkan,” tutur Sadli Karim lewat sambungan telepon.
Dalam sesi Komal tersebut, Sadli mengajak para pengikutnya untuk berdiskusi mengenai peluang Timnas Indonesia di kualifikasi Piala Dunia 2026.
Ia menyoroti strategi pelatih, performa pemain, serta dukungan dari masyarakat dan pemerintah yang diperlukan untuk mengantarkan Indonesia ke pentas dunia.
Sadli juga memanfaatkan platformnya untuk mempromosikan nilai-nilai kebangsaan dan menyebarkan pesan positif di tengah atmosfer diskusi yang sering kali memanas.
Tradisi Nasionalisme di Dunia Digital
Langkah Sadli memperdengarkan lagu Indonesia Raya di platform digital mendapat banyak apresiasi dari netizen.
Banyak yang merasa bahwa tindakan ini berhasil membangkitkan semangat patriotisme di kalangan penggemar sepak bola, terutama generasi muda yang aktif di media sosial.
“Terima kasih, Bang Sadli. Kami jadi ingat bahwa mendukung Timnas bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi juga soal cinta kepada Tanah Air,” ujar Awak Awan yang ikut berdiskusi.
Komentar-komentar serupa mengalir deras, menunjukkan bahwa tradisi nasionalisme masih relevan, bahkan di era digital.
Sadli Karim sendiri mengungkapkan harapannya agar Timnas Indonesia terus mendapat dukungan penuh dari masyarakat.
“Semangat kita, doa kita, dan kritik membangun kita adalah energi tambahan bagi para pemain. Bersama-sama, kita bisa membawa Indonesia lebih maju di kancah sepak bola internasional,” tutupnya.
Terpisah, mantan wartawan olahraga Jawa Pos Group Syaiful Amri menuturkan, akun Tiktol Sadli Karim memang tampil dengan gaya berbeda.
Sadli mampu membuktikan bahwa media sosial dapat menjadi wadah produktif.
Wahana positif dalam menyatukan beragam prespektif nitizen khususnya pecinta sepak bola yang belakangan terbelah pasca lengsernya Shin Tae-yong.
“Saya beberapa kali datang ke komal bang Sadli Karim ya, terkejut juga, awalnya iseng, eh serius sekali ternyata dialognya,” mantan Redaktur Pelaksana Disway.id itu.
Yang menakjubkan, sambung Mas Ipul-sapaan akrab pria asal Lampung itu pembahasan tentang timnas Indonesia beragam.
“Siang tadi saya sempat ngobrol sama Bang Sadli via telp, ia rencananya akan mengupas tentang kombinasi Alex Pastoor, dan Denny Landzaat calon asisten pelatih Timnas Indonesia,” jelasnya.
Artinya, sambung Mas Ipul, komal di akun TikTok Sadli Karim, punya nilai lebih dibandingkan beberapa aku tiktok lainnya yang membahas hal sama.
“Ini keren. Minimal memberi edukasi. Perdebatannya juga berbobot. Dari formasi pemain, transfermarkt, sampai isu-isu sepakbola media luar negeri juga dikulik dengan data dan fakta yang dimilik,” paparnya.








































