www.bisnistoday.co.id
Jumat , 10 April 2026
Home EDITOR'S VIEW Media Massa dan Tanggung Jawab Perdamaian: Jangan Menjadi Genderang Perang
EDITOR'S VIEW

Media Massa dan Tanggung Jawab Perdamaian: Jangan Menjadi Genderang Perang

Iran Israel
MISIL Persenjataan Perang diluncurkan./
Social Media

KETEGANGAN antara Iran dan Israel pasca penyerangan AS/Israel ke Teheran, pada 28 Februari 2026, menjadi sorotan genting dunia. Setiap hari media internasional maupun nasional menampilkan perkembangan terbaru: ancaman serangan, respons militer, hingga spekulasi geopolitik yang semakin memanas. Di tengah arus informasi yang deras tersebut, muncul satu pertanyaan penting: apakah media massa masih menjalankan fungsi utamanya sebagai penjaga akal sehat publik dan juru damai umat manusia?

Alih-alih meredakan ketegangan, sebagian media justru tampak terseret dalam arus pemberitaan yang memperkuat narasi konflik. Judul-judul bombastis, analisis yang mengedepankan potensi perang besar, serta visualisasi kekuatan militer seolah menjadikan konflik sebagai tontonan dramatis. Dalam situasi seperti ini, media tidak lagi berdiri sebagai penyeimbang, melainkan berisiko berubah menjadi pengeras suara bagi atmosfer perang.

Padahal dalam tradisi jurnalistik, media memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran publik yang rasional dan damai. Media bukan sekadar penyampai fakta, tetapi juga institusi sosial yang memiliki tanggung jawab moral terhadap masa depan kemanusiaan.

Perang dan Harga yang Dibayar Manusia

Sejarah telah berulang kali menunjukkan bahwa perang tidak pernah membawa kebaikan jangka panjang bagi umat manusia. Di balik jargon kemenangan dan kepentingan geopolitik, yang paling banyak menanggung penderitaan justru rakyat biasa.

Perang selalu meninggalkan jejak kehancuran: kota-kota yang hancur, ekonomi yang runtuh, serta generasi yang kehilangan masa depan. Infrastruktur yang dibangun puluhan tahun dapat lenyap dalam hitungan hari. Anak-anak kehilangan sekolah, keluarga tercerai-berai, dan kemiskinan menyebar dengan cepat.

Pengalaman berbagai konflik dunia menunjukkan bahwa perang juga memicu krisis kemanusiaan yang luas, mulai dari pengungsi massal hingga kelaparan. Ketika peluru berhenti ditembakkan pun, luka sosial dan ekonomi sering kali membutuhkan puluhan tahun untuk pulih.

Karena itulah, narasi yang menormalisasi perang sebagai sesuatu yang wajar atau bahkan heroik merupakan bentuk kegagalan moral dalam komunikasi publik.

Media dan Godaan Sensasi Konflik

Tidak dapat dipungkiri bahwa konflik dan perang memiliki nilai berita yang tinggi. Dramatis, penuh ketegangan, dan menarik perhatian publik. Dalam logika industri media yang kompetitif, konflik sering kali menjadi komoditas yang mudah menarik klik, rating, atau pembaca.

Namun justru di sinilah tantangan etika jurnalistik diuji.

Ketika media lebih menonjolkan aspek dramatis perang dibandingkan upaya diplomasi, dialog, dan perdamaian, maka secara tidak langsung media ikut membentuk persepsi publik bahwa konflik bersenjata adalah sesuatu yang tak terelakkan.

Padahal realitas geopolitik tidak pernah sesederhana itu. Di balik layar konflik selalu terdapat jalur-jalur diplomasi, negosiasi, dan komunikasi antarnegara yang berupaya mencegah eskalasi lebih besar. Sayangnya, upaya-upaya damai tersebut sering kali tidak mendapatkan porsi pemberitaan yang seimbang.

Akibatnya, publik lebih sering disuguhi gambaran dunia yang penuh ancaman, bukan dunia yang sedang berusaha mencari jalan damai.

Media sebagai Penjaga Perdamaian

Media massa seharusnya memiliki posisi yang unik dalam menjaga stabilitas sosial global. Dalam ilmu komunikasi dikenal konsep peace journalism atau jurnalisme damai, yakni pendekatan pemberitaan yang menekankan penyelesaian konflik secara konstruktif, bukan memperkeruh suasana.

Jurnalisme damai bukan berarti menyembunyikan fakta konflik, tetapi menyajikannya secara lebih bertanggung jawab. Fokusnya tidak hanya pada siapa yang menyerang dan siapa yang membalas, tetapi juga pada akar konflik, dampak kemanusiaan, serta peluang resolusi damai.

Media dapat menyoroti suara para diplomat, tokoh agama, akademisi, dan masyarakat sipil yang mendorong dialog. Media juga dapat mengangkat kisah-kisah kemanusiaan yang menunjukkan bahwa korban perang tidak mengenal batas negara, agama, maupun ideologi.

Dengan cara itu, media membantu publik memahami bahwa perdamaian bukanlah utopia, melainkan kebutuhan mendesak bagi seluruh umat manusia.

Menjaga Netralitas dan Akal Sehat

Dalam konflik internasional yang kompleks, media juga harus menjaga sikap proporsional dan tidak terjebak dalam keberpihakan emosional. Netralitas bukan berarti tidak memiliki nilai moral, melainkan menjaga jarak dari propaganda yang dapat memperkeruh situasi.

Ketika media terlalu larut dalam narasi satu pihak, publik berpotensi kehilangan perspektif yang utuh. Hal ini tidak hanya berbahaya bagi kualitas informasi, tetapi juga dapat memicu polarisasi opini masyarakat global.

Media seharusnya menjadi ruang dialog, bukan arena propaganda.
Dunia Tidak Membutuhkan Perang Baru

Dalam situasi global yang penuh tantangan, mulai dari krisis ekonomi, perubahan iklim, hingga ketimpangan sosial, dunia sebenarnya tidak membutuhkan perang baru. Yang dibutuhkan adalah kerja sama, diplomasi, dan solidaritas internasional.

Perang hanya akan memperparah kesulitan yang sudah ada. Harga energi melonjak, rantai pasok terganggu, dan ketidakstabilan ekonomi meluas ke berbagai negara, termasuk negara-negara yang tidak terlibat langsung dalam konflik.

Dengan kata lain, perang selalu memiliki efek domino yang luas.

Karena itu, media massa memiliki tanggung jawab besar untuk tidak ikut meniupkan bara konflik. Sebaliknya, media harus menjadi pengingat bahwa setiap peluru yang ditembakkan selalu membawa konsekuensi kemanusiaan yang berat.

Seruan untuk Jurnalisme yang Berhati Nurani

Pada akhirnya, jurnalisme bukan sekadar profesi, tetapi juga panggilan moral. Di tangan media, opini publik dunia dapat diarahkan menuju ketegangan atau menuju perdamaian.

Jika media memilih sensasi konflik, maka dunia akan semakin mudah terjerumus ke dalam spiral kekerasan. Namun jika media memilih pendekatan yang bijak dan humanis, maka media dapat menjadi salah satu kekuatan penting dalam menjaga perdamaian global.

Di tengah ketegangan antara Iran dan Israel, dunia membutuhkan suara yang menenangkan, bukan genderang perang.

Media massa seharusnya berdiri di tengah, menjadi penjaga akal sehat, pelindung kemanusiaan, dan juru damai bagi semua umat manusia. Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat siapa yang paling keras meniupkan konflik, tetapi siapa yang paling berani memperjuangkan perdamaian.

Jakarta, Maret 2026

Redaksi Bisnistoday

Arsip

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

PERTAMINA IS THE ENERGY

TRADE EXPO INDONESIA 2025

SOROTAN BISNISTODAY

Beritasatu Network

Related Articles

Bendungan Budong
EDITOR'S VIEW

Mundurnya Dirjen PU Berpolemik, Pakar Tekankan Transparansi dan Integritas Audit

JAKARTA, Bisnistoday – Pejabat Kementerian PU akhir-akhir ini menjadi sorotan masyarakat yakni...

Proyek Bendungan
EDITOR'S VIEW

Misteri Mundurnya Dua Dirjen PU: Audit BPK, Timeline Jabatan, dan Pertanyaan tentang Pengambilan Keputusan

PENGUNDURAN diri dua pejabat eselon I di Kementerian Pekerjaan Umum menimbulkan gelombang...

naga
EDITOR'S VIEW

Menapak Bumi, Menyembur Api: Filosofi Naga dalam Strategi Bisnis Modern

DITENGAH  hiruk-pikuk dunia usaha yang bergerak cepat, para pemimpin sering mencari simbol...

Kemiskinan
EDITOR'S VIEW

Anak Sudah Meninggal, Negara Harus Malu

JAKARTA, Bisnistoday - Seorang anak sekolah dasar di Ngada, Nusa Tenggara Timur,...