JAKARTA, Bisnistoday – Menteri PUPR diingatkan agar jangan sampai terperosok dalam “jebakan batman” pengadaan jasa sarana modernisasi transaksi tol atau transaksi nirsentuh Multi Lane Free Flow (MLFF). Kementerian PUPR, dalam hal ini Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) harus mengambil sikap obyektif dalam pengadaan sarana transaksi tol dengan total anggaran Rp4,5 triliun ini.
“Kami mengharapkan Pak Menteri PUPR atau Kementerian PUPR dalam hal BPJT, jangan sampai terjebak dengan proyek MLFF ini. Kembali kami ingatkan, barang yang disediakan harus sesuai dengan dengan spek, dan tidak boleh lebih rendah,” tegas Musfihin Dahlan mantan Direktur PT RITS di Jakarta, Sabtu (10/9).
Musfihin sangat menyayangkan apabila memang Kementerian PUPR tetap menerima permintaan tagih dari pihak PT Roatex Indonesia Toll System (RITS) dengan tidak sesuai kualitas. Sebab, penagihan ini akan dilayangkan RITS, setelah launching penyediaan transaksi nirsentuh.
“Ternyata belum mampu mengcover transaksi 100%, atau kemampuannya baru sekitar 80% saja. Banyak sarana yang bolong-bolong, sehingga jangan sampai BPJT terima barang tidak sesuai dengan kualitas,” tuturnya.
Keterangan Musfihin ini, juga mengacu laporan konsultan pengawas independent, terdapat beberapa persoalan mendasar dalam penyediaan sarana transaksi nir sentuh jalan tol. Konsultan Pengawas Independent Praisindo Teknologi menyebut kontraktor rekayasa, pengadaan dan konstruksi (Engineering-Procurement-Construction/EPC) untuk pengerjaan sistem transaksi tol nontunai nirsentuh atau Multi Lane Free Flow (MLFF) mangkir dari kewajiban.
“Malah dalam laporan konsultan ini, pihak PT RITS direkomendasikan untuk meminta penagihan kembali kepada kontraktor yang telah dibayar, lho,” terangnya.
Persoalan Investasi
Menurut Musfihin, proyek transaksi nirsentuh yang diinisiasi oleh BPJT kementerian PUPR ini bernilai sekitar 309 juta Dollas AS setara Rp 4,5 triliun. Dari jumlah tersebut sebanyak 200 juta dolas AS untuk capital expenditure (Capex) sedangkan 109 juta dollar AS untuk operational expenditure (Opec). Sedangkan untuk Internal Rate of Return (IRR) proyek MLFF sekitar 12,5%.
“Selama beberapa waktu berjalan, pihak RITS diperkirakan telah mengeluarkan dana sekitar 100,5 juta dolar AS dari total investasi termasuk pajak, dengan mekanisme turnkey project. Disediakan terlebih dahulu baru dibayarkan.”
Nantinya, tambah Musfihin, dana investasi total sesuai rencana sebesar 309 juta dollar AS setara dengan Rp4,5 triliun tersebut akan dibayarkan secara bertahap oleh pemerintah melalui Badan Pengatur Jalan Tol dengan tahapan per tahun sekitar Rp1,2 triliun per tahun selama periode 9 tahun./




