www.bisnistoday.co.id
Senin , 29 Juni 2026
Home EKONOMI Ekonomi Rakyat Nasi Gandul Pak Memet, Hidangan Nikmat dan Menggoda di Semarang
Ekonomi Rakyat

Nasi Gandul Pak Memet, Hidangan Nikmat dan Menggoda di Semarang

Nasi Gandul Pak Memet di Jalan Dr. Cipto No.12 Semarang.
Nasi Gandul Pak Memet di Jalan Dr. Cipto No.12 Semarang.
Social Media

SEMARANG (Bisnistoday) – Nasi gandul tidak bakal terlewatkan bagi pecinta kuliner untuk mencicipinya. Hidangan sederhana berisi daging, kuah manis dengan bumbu ringan. Sangat nikmat dan menggoda. Begitu dimakan akan merasakan sensasi rawon, pindang, dan gulai bercampur jadi satu.

Salah satunya warung Nasi Gandul Pak Memet di Jalan Dr. Cipto No.12 Semarang. Cita rasanya yang enak, menjadikan warung ini sebagai juara nasi gandul di Semarang.

Nasi gandul merupakan masakan berkuah berwarna kecoklatan. Dihidangkan sangat sederhana. Berisi nasi, irisan daging dan kuah dengan bumbu ringan. Sekilas mirip dengan gulai. Ciri khas lain dari nasi gandul adalah disajikan dengan alas piring dari daun pisang.

Warung Nasi Gandul Pak Memet sudah cukup melegenda dan banyak diminati pecinta kuliner. Biasanya dilengkapi dengan berbagai varian lauk. Daging suwir, jeroan, babat, iso, ati, paru, lidah, tahu bacem, perkedel, hingga beberapa macam gorengan.

“Kalau nasi gandul ya daging dengan kuah. Tetapi dilengkapi lauk yang bervariasi tinggal pembeli memilih sesuai selera,” jelas pemilik warung Nasi Gandul, Pak Memet.

Memetpun bercerita sedikit tentang nasi gandul. Sebenarnya nasi gandul dijual dengan dipikul. Nama ‘gandul’ berasal dari omongan para penjual yang menjajakan dengan cara dipikul.

Dalam bahasa Jawa, pikul memiliki arti gandul. Jadi disebut nasi gandul. Ada juga yang menganggap nasi gandul berasal dari dunak (wadah nasi dan kuah) yang dipikul penjual.

Saat berjalan kedua wadah terlihat gondal-gandul. Penyajian dengan daun pisang memiliki fungsi tertentu. Yaitu agar kuah tidak terlalu panas, dan tidak cepat dingin. “Saya jualan nasi gandul di sini sejak tahun 1990,” ujarnya Kamis (14/5).

Memet menjaga cita rasa makanan khas Pati tersebut. Untuk bahan dan kecap yang digunakan didatangkan dari Pati. Warung ini selalu ramai pembeli. Biasanya buka jam 16.30 wib sudah habis pukul 21.00.

Untuk satu porsi nasi hanya dipatok harga Rp 7 ribu. Seporsi kuah untuk dua orang Rp 7 ribu. Sementara untuk lauk Rp 11 ribu, kecuali telur Rp 5 ribu.

“Ya cita rasa nomor satu, biar ada rasa khas di lidah. Ini kan makanan dari Pati, tanpa meninggalkan cita rasa tetapi bisa dinikmati semua kalangan,” tambahnya.

Seorang pecinta kuliner Semarang, Yuli mengaku sering menikmati makanan khas Pati itu. Daging yang lembut dipadu dengan kuah yang cenderung manis membuatnya ketagihan. Ketika menikmati ia selalu melengkapi dengan tempe dan jeroan.

“Cita rasa bikin nagih, kalau sudah coba pasti akan kembali lagi,” akunya.

Saking nikmatnya, semua pelanggan selalu menghabiskan pesanan dan tidak jarang nambah.

“Biasanya setiap satu minggu sekali kesini bareng keluarga,” tutupnya. (Puri)

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Ekonomi Rakyat

Bertahan Lewat Inovasi dan Digitalisasi, Kisah Eka Mengembangkan Usaha Telur Gabus Keju

BANDUNG, Bisnistoday - Ketergantungan pada penjualan musiman membuat Engkar Kardiah harus memutar...

Ekonomi Rakyat

KUR Dorong UMKM Tumbuh Lewat Akses Permodalan yang Mudah dan Aman

BANDUNG, Bisnistoday - Bagi banyak pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM),...

Pelaku UMKM
Ekonomi Rakyat

Awalnya Kebutuhan Sendiri, Akhirnya Mampu Ekspor Produk Anti Hama

BOGOR, Bisnistoday - Di tengah ramainya Campuspreneur Expo, stan SanGreat Natural Indonesia...

Ekspor perdana lidi sawit ke Tiongkok.(dok:Aspekpir/BPDP)
Ekonomi Rakyat

Ekspor Lidi Sawit Miliki Prospek yang Menjanjikan

JAKARTA, Bisnistoday –  Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) melepas...