JAKARTA, Bisnistoday – Ribuan nalayan di Pasir Putih, Karawang, Jawa Barat mengeluhkan adanya dampak tumpahan minyak di pesisir pantai Karawang. Zona tangkap para nelayanan ini terganggu sehingga tidak bisa melaut dan semakin menyulitkan kehidupannya.
“Tumpahan ini, sudah beberapa hari lalu, membuat kehidupan nelayan makin berat ditengah kondisi pandemi. Karena tidak bisa melaut, dikasih solusi dengan mencari ceceran minyak yang tertumpah untuk ditukarkan ke Pertamina,” ungkap Ahmad Fanani, Koordinator Kawali Indonesia wilayah Karawang, serta perwakilan nelayan, dalam pengakuannya melalui telepon seluler di Jakarta, Senin (26/4).
Menurut Fanani, nelayan yang terdampak di daerah pelelangan Pasir Putih ini ribuan warga nelayan. Tidak semua, dari mereka juga mencari ceceran tumpahan minyak tersebut di pesisir laut. Menurutnya, nelayan yang mampu mengantongi ceceran minyak dengan karung ukuran 5 kg, dapat ditukarkan dengan uang senilai Rp20.000 per kantong.
Baca juga : PHE ONWJ Tangani Sisa Ceceran Minyak
“Persoalannya, bukan menangkap ceceran minyak tetapi bagaimana ekologi, biota laut dan lainnya. Belum lagi, pembuktian ceceran minyak tersebut apakah mengandung limbah berbahaya bagi kehidupan masyarakat pesisir?” tukasnya.
Puput TD Putra, Ketua Kawali Indonesia mengatakan, pencemaran minyak mentah sudah sampai ke Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. PT Pertamina maupun Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kep. Seribu sudah merespon bahaya ini.
“Terakhir kabar untuk Pulau Lancang sudah dibersihkan, sedangkan Pulau Untung Jawa masih dalam progress. Sample material minyak sudah diambil untuk fingerprint, namun butuh waktu,” tutur Puput.
Menurut Ketua Kawali Indonesia ini, kemungkinan penyebaran ceceran minyak ini bukan berasal dari Sumur YYA 1, milik PT PHE ONWJ yang sempat bocor beberapa waktu lalu. Berdasarkan laporan tim Kawali Indonesia di lapangan, ceceran minyak bukan berasal dari Sumur PT PHE ONWJ. ”Kalau dilihat dari trajectory dan Motum, tampaknya bukan berasal dari ONWJ,” tuturnya.
Lakukan Site Survey
Puput juga mengatakan, berdasarkan surat yang ditujukan ke Lurah Pulau Pari, Kep. Seribu beberapa waktu lalu, dari PT Pertamina Patra Niaga melakukan survey terhadap ceceran minyak di Kepulau Seribu khususnya di Pulau Pari dan Pulau Burung. Didalam surat tersebut merujuk pemulihan pasca insiden Sumur YYA-1 ONWJ dan selaku kontraktor, PT Pertamina Patra Niaga melakukan suvei.
Sesuai dengan permintaan, site survey dilakukan pada 21-23 April 2021, baru-baru ini. Nah ini apakah berkaitan dengan kejadian serupa lagi, minggu lalu atau bukan masih menjadi pertanyaan. “Sepertinya tim Pertamina, melalui kontraktornya pemulihan lingkungan telah mensurvei kedua area pulau tersebut, belum tahu hasilnya seperti apa,” tuturnya./



