JAKARTA, Bisnistoday- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Rabu (18/8) ditutup menguat 30,24 poin ke posisi 6.118,15. Sementara indeks LQ45 naik 17,07 poin ke posisi 869,92.
Rilis BPS yang menyatalam bahwa neraca perdagangan mengalami surplus sebesar 2,59 miliar dolar AS menjadi sentimen positif. “Hal tersebut mengindikasikan adanya perbaikan dari ekonomi dimana surplus terjadi selama 15 bulan secara berturut-turut,” tulis Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta, Rabu (18/8).
Selain itu, pelaku pasar juga mencermati revisi target penerimaan pajak yang cukup konservatif dalam RAPBN 2022. Penerimaan pajak pada tahun ini diproyeksikan hanya senilai Rp1.142,5 triliun atau 92,91 persen dari target APBN 2021 yang mencapai Rp1.229,6 triliun.
Dalam outlook sebelumnya, pemerintah memproyeksikan realisasi penerimaan pajak pada tahun ini mencapai 95,7 persen dari target APBN 2021. Jika dibandingkan dengan realisasi penerimaan pajak tahun lalu, outlook penerimaan pajak tahun ini hanya tumbuh 6,5 persen.
Pergerakan pasar saham Asia merespons positif penurunan dari harga minyak acuan yang menjadi kekhawatiran terkait naiknya inflasi lebih cepat dari pemulihan ekonomi.
Dibuka menguat, tak lama IHSG melemah namun kembali ke zona hijau pada sesi pertama perdagangan. Pada sesi kedua, IHSG terus bertahan di teritori positif hingga bursa saham ditutup.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tujuh sektor terkoreksi dimana sektor keuangan turun paling dalam yaitu minus 1,85 persen, diikuti sektor barang baku dan sektor perindustrian masing-masing minus 1,61 persen dan minus 1,04 persen.
Sedangkan empat sektor terkoreksi dimana sektor teknologi turun paling dalam yaitu minus 5,1 persen, diikuti sektor energi dan sektor barang konsumen non primer masing-masing minus 1,68 persen dan minus 1,11 persen
Penutupan IHSG diiringi aksi beli saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing sebesar Rp873,2 miliar.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.602.447 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 24,83 miliar lembar saham senilai Rp16,58 triliun. Sebanyak 213 saham naik, 304 saham menurun, dan 130 tidak bergerak nilainya.
Sementara itu, bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei menguat 161,44 poin atau 0,59 persen ke 27.585,91, indeks Hang Seng naik 121,14 poin atau 0,47 persen ke 25.867,01, dan indeks Straits Times meningkat 14,61 poin atau 0,47 persen ke 3.133,12.
Rupiah Stagnan
Sementara kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta ditutup stagnan atau sama dengan posisi penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.373 per dolar AS.
Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Rabu, mengatakan, dolar hari ini sedikit melemah terhadap mata uang lainnya, namun tetap diiringi oleh kekhawatiran akan pemulihan pertumbuhan ekonomi global yang disebabkan oleh wabah Covid-19.
“Investor sekarang mencari risalah dari pertemuan terbaru The Fed untuk mencari petunjuk waktu bank sentral untuk pengurangan aset dan kenaikan suku bunga,” ujar Ibrahim.
Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (Fed) juga diperkirakan akan memberikan lebih banyak petunjuk dalam simposium Jackson Hole karena banyak pelaku pasar mengharapkan The Fed mengumumkan rencana untuk mengurangi pembelian obligasi baik pada pertemuan kebijakan September atau November.
Dari domestik, sentimen positif datang dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyampaikan neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2021 tercatat surplus 2,59 miliar dolar AS dengan nilai total ekspor 17,70 miliar dolar AS dan impor 15,11 miliar dolar AS.
Dari surplus yang terjadi sepanjang 15 bulan, surplus tertinggi terjadi pada Oktober 2020 yang mencapai 3,58 miliar dolar AS. Sementara, jika diperhatikan hanya pada 2021, surplus tertinggi terjadi pada Mei 2021 yaitu sebesar 2,70 miliar dolar AS.
Dengan demikian surplus neraca perdagangan RI pada Januari-Juli 2021 mengalami surplus 14,42 miliar dolar AS./




