JAKARTA, Bisnistoday – Pakar pertanian dan perkebunan dari IPB University menepis tudingan, bahwa kejadian bencana banjir dan longsor di Sumatera dan Aceh dipicu oleh perkebunan kelapa sawit. Dugaan tersebut dinilai tidak berlandaskan data akurat sehingga tidak menawarkan solusi yang matang.
Hal tersebut, seperti yang diungkapkan oleh Guru Besar Kebijakan Kehutanan, Prof. Sudarsono Soedomo dan Kepala Pusat Studi Sawit Prof. Budi Mulyanto. Kedua pakar dari IPB University itu menyesalkan adanya cara pandang yang tergesa-gesa menghubungkan bencana sebagai dampak perkebunan kelapa sawit.
“Saya tidak sependapat dengan adanya tudingan bahwa pembukaan hutan untuk kebun sawit sebagai pemicu terjadinya banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera,” ujar Prof. Budi Mulyanto ketika dihubungi media, Selasa (2/12).
Lebih lanjut Prof. Budi Mulyanto menegaskan, keberadaan perkebunan kelapa sawit bukan menjadi penyebab terjadinya bencana banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera. Sebaliknya, intensitas hujan yang sangat deras yang menjadi penyebab utama terjadinya bencana di Sumbar dan Sumut serta Aceh.
Sepertihalnya dengan pernyataan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani dalam rapat bersama Komisi V DPR RI di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (1/12).
Bahwa menurut BMKG, ujarnya, intensitas hujan yang turun pada akhir November lalu mencapai tingkat yang sangat ekstrem, bahkan setara dengan akumulasi hujan selama satu setengah bulan yang turun hanya dalam satu hari.
Kondisi ini, menyebabkan tanah tidak mampu menampung volume air yang begitu besar dalam waktu singkat yang pada akhirnya memicu bencana hidrometeorologi masif di wilayah tersebut.
“Dalam ekosistem apapun, kalau hujannya sudah segitu itu, kecepatan infiltrasi air itu tidak bisa tertampung ke dalam tanah,” katanya. “Run off-nya atau aliran permukaannya itu pasti besar. Walaupun itu terjadi di hutan belantara,” papar Budi.
Data BMKG Perlihatkan Curah Hujan Tinggi
Karena itu, menurut Budi, bencana ini jangan dijadikan momentum untuk membunuh karakter land use (penggunaan lahan) yang ada di Indonesia. “Kalau itu terus dilakukan yang rugi kita sendiri,” katanya.
Apalagi, kalau melihat bencana banjir bandang dan tanah longsor ini tidak hanya terjadi di Indonesia (Sumatera) saja, namun juga terjadi di Malaysia, Thailand dan Vietnam yang waktunya bersamaan. Sama dengan Indonesia, banjir di Malaysia, Thailand dan Vietnam juga dipicu oleh tingginya curah hujan akibat badai siklon tropis senyar.
Menurut Prof. Sudarsono Soedomo, gambaran tentang kehutanan Indonesia hari ini jauh lebih kompleks daripada sekadar persoalan ekspansi sawit. Banyak kawasan hutan telah mengalami degradasi parah jauh sebelum kelapa sawit menjadi komoditas dominan, baik akibat pembalakan liar, tata kelola yang lemah, maupun ketidaktegasan negara dalam menegakkan hak menguasai untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Dengan kata lain, problem terbesar kehutanan Indonesia bukan hanya alih fungsi menjadi perkebunan, tetapi runtuhnya sistem pengelolaan hutan itu sendiri. Di banyak tempat, menurutnya, hutan rusak bukan karena diganti sawit, tetapi karena dibiarkan menjadi “open access”, tanpa kepastian hukum, tanpa pengelola, tanpa strategi pemulihan.//

