JAKARTA, Bisnistoday- Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Kamis (4/3/2026) menyetujui pemberian kredit karbon pertama untuk sebuah perusahaan Korea Selatan yang mendistribusikan kompor kayu di Myanmar. Proyek di bawah pasar global ini bertujuan untuk mengurangi emisi sesuai perjanjian iklim Paris.
Hal ini memungkinkan perusahaan dan negara untuk mengimbangi emisi berlebih mereka. Caranya antara lain dengan membiayai proyek-proyek yang dapat mengurangi gas rumah kaca di negara lain.
Selama ini para kritikus khawatir jika pengelolaannya buruk, skema semacam ini dapat merusak upaya dunia untuk mengurangi pemanasan global. Pasalnya, langkah ini memungkinkan negara atau perusahaan untuk melakukan greenwashing, atau melebih-lebihkan, pengurangan emisi mereka.
Badan iklim PBB menyebut kredit pertama yang di bawah pasar karbon baru ini melibatkan proyek di Myanmar. Mereka mendistribusikan kompor kayu bakar efisien yang mengurangi polusi udara rumah tangga yang berbahaya.
Proyek ini bermitra dengan perusahaan Korea Selatan. Nantinya, perhitungannya sesuai dengan target iklim Korea Selatan dan Myanmar.
Badan iklim PBB mengatakan pemberian kredit 40 persen lebih rendah daripada skema sebelumnya. Penerapan perhitungan yang lebih konservatif ini di bawah Mekanisme Kredit Perjanjian Paris (PACM) yang baru.
“Fokus kami adalah membangun kepercayaan di pasar ini sejak awal, dan penerbitan kredit pertama ini menunjukkan bahwa sistem ini bekerja sesuai tujuan,” kata Jacqui Ruesga, wakil ketua badan PBB yang mengawasi PACM, dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip France24.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). lebih dari dua miliar orang di seluruh dunia memasak menggunakan api terbuka atau kompor yang tidak efisien. “Mereka umumnya menggunakan bahan bakar minyak tanah, batu bara, atau biomassa seperti kayu, limbah tanaman, atau kotoran hewan.
Memasak bersih
Penggunaan kompor dalam proyek di Myanmar ini membakar biomassa kayu dengan lebih efisien. Artinya mereka membutuhkan lebih sedikit bahan bakar dan mengeluarkan lebih sedikit asap di dalam rumah.
“Memasak dengan cara ini dapat melindungi kesehatan, menyelamatkan hutan, mengurangi emisi, dan membantu memberdayakan perempuan,” kata kepala iklim PBB, Simon Stiell.
Perjanjian Paris 2015, yang mewajibkan dunia untuk membatasi pemanasan global hingga jauh di bawah 2°C dan idealnya pada 1,5°C, juga menyarakankan semua negara dapat berpartisipasi dalam perdagangan lintas batas pengurangan karbon./



