JAKARTA, Bisnistoday- Surplus neraca perdagangan dan kabar Vaksin Merah Putih yang ditargetkan dapat digunakan pada semester II-2022 menjadi sentimen positif pada perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (15/12).
Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) ditutup menguat 10,62 poin ke posisi 6.626,26. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 4,14 poin ke posisi 944,49.
Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam ulasannya di Jakarta menyebutkan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada November 2021 mengalami surplus sebesar 3,51 miliar dolar AS dengan nilai ekspor 22,84 miliar dolar AS dan impor 19,33 miliar dolar AS.
Secara tren, neraca perdagangan telah membukukan surplus selama 19 bulan secara beruntun.
Sementara itu, pemerintah menargetkan Vaksin Merah Putih dapat digunakan pada semester II-2022. Tentunya hal itu akan menambahkan daftar persediaan vaksin nasional sehingga menopang secara luas pemberian vaksin.
Pasar saham Asia hari ini berfluktuasi di mana pasar cenderung menanti hasil pertemuan The Fed dan juga hubungan Amerika Serikat dan China.
Pemerintah AS sedang mempertimbangkan untuk menjatuhkan sanksi kepada salah satu perusahaan China yaitu Semiconductor Manufacturing International Corp. Hal itu tentunya akan menambah daftar perusahaan China yang masuk dalam daftar hitam investasi AS.
Kondisi tersebut berpotensi memunculkan ketegangan kedua negara. Pelaku pasar mengkhawatirkan akan timbul gesekan geopolitik.
Dibuka menguat, IHSG terus berada di zona hijau hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah berada di teritori positif sampai penutupan bursa saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tujuh sektor meningkat dimana sektor keuangan naik paling tinggi yaitu 0,46 persen, diikuti sektor perindustrian dan sektor barang konsumen non primer masing-masing 0,39 persen dan 0,37 persen.
Sedangkan empat sektor terkoreksi dimana sektor teknologi turun paling dalam yaitu minus 1,31 persen, diikuti sektor infrastruktur dan sektor kesehatan masing-masing minus 0,66 persen dan minus 0,08 persen.
Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi jual saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah jual bersih asing atau “net foreign sell” di seluruh pasar sebesar Rp595,08 miliar.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.330.643 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 22,59 miliar lembar saham senilai Rp12,85 triliun. Sebanyak 237 saham naik, 284 saham menurun, dan 153 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei menguat 27,08 poin atau 0,1 persen ke 28.459,72, indeks Hang Seng turun 215,19 poin atau 0,91 persen ke 23.420,76, dan indeks Straits Times meningkat 6,21 atau 0,2 persen ke 3.114,88.
Rupiah Melemah
Sementara itu, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu sore ditutup melemah 9 poin atau 0,07 persen ke posisi Rp14.334 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.325 per dolar AS.
“Pergerakan rupiah memang masih lebih didominasi oleh faktor eksternal oleh kekhawatiran inflasi yang tinggi yang memicu ekspektasi besar pada kenaikan suku bunga menjelang hasil pertemuan bank sentral AS The Fed pada Kamis (16/12) dini hari,” kata analis DC Futures, Lukman Leong seperti dikutif Antara. Dari domestik, sentimen datang dari surplus neraca perdagangan November yang mencapai 3,5 miliar dolar AS, lebih rendah dari perkiraan pasar 4,5 miliar dolar AS. Hal itu disebabkan oleh penurunan harga komoditas, terutama batu bara.
Sedangkan, terkait varian Omicron, lanjut Lukman, masih belum mereda meski pelaku pasar saat ini tengah fokus pada hasil pertemuan The Fed.
“Pertemuan central bank yang terakhir untuk tahun ini menjadi sangat penting di tengah harapan pasar pada The Fed untuk bisa memberikan kepastian. Isu Omicron masih akan kembali setelah itu,” ujarnya./




