JAKARTA, Bisnistoday- Program gasifikasi batubara yang dicanangkan Presiden dapat memperkuat ketahanan energi nasional karena saat ini terjadi ketidakpastian harga minyak dan gas bumi serta batubara.
“Kepedulian keamanan pasokan dan antisipasi perubahan iklim menyebabkan perlu
adanya sumber bahan bakar alternatif yang bersih dan ekonomis,” ungkap Satya Widya Yudha, M.Sc, Anggota DEN ( Dewan Energi Nasional), di Jakarta, kemarin.
Satya mengakui besarnya potensi pasar terutama di Asia untuk merupakan dukungan untuk berdirinya pabrik pengolahan batubara untuk produk industri kimia ( methanol, polyprophylene, DME) merupakan pasar potensial terutama di Asia.
“Potensi berdirinya pabrik pengolahan batubara tersebut harus dimanfaatkan dengan baik oleh Indonesia dengan memberikan dukungan kepada investasi pabrik pengolahan batubara” ujar Satya.
Satya menilai harga batubara yang tinggi saat ini akan kembali normal sehingga hitungan kelayakan gasifikasi batubara kembali tercapai.
“Masalahnya dukungan pemerintah harus firm dan jangan bergerak mundur,” tegasnya.
Hendra Sinadia MBA Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBIICMA) mengatakan, pelaku usaha melihat proyek gasifikasi akan memberikan banyak nilai tambah. Namun, bagi pelaku usaha, kelayakan ekonomi dari suatu proyek juga merupakan hal yang penting.
“Manfaat dari Peningkatan Nilai Tambah Batubara Menjadi DME untuk Negara diantaranya adalah masuknya investasi asing (melalui technology provider), pemanfaatan sumberdaya batubara kalori rendah, adanya multiplier effect selama masa proyek (30 tahun atau lebih), penghematan devisa, mengurangi subsidi atas impor LPG Pemerintah,” terangnya.
Tidak hanya itu, lanjutnya, peningkatan nilai tambah, yakni menghemat cadangan devisa, dapat meningkatkan ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG serta memberdayakan industri nasional
dengan melibatkan tenaga lokal pada tahap konstruksi dan pada tahapan operasi.” ujar
hendra Sinadia.









































