www.bisnistoday.co.id
Rabu , 26 Agustus 2026
Home EKONOMI Pemulihan Ekonomi Masih Sulit Dicapai
EKONOMI

Pemulihan Ekonomi Masih Sulit Dicapai

KEUANGAN DAERAH: Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, Keuangan pemerintah daerah (pemda) hingga saat ini masing sangat bergantung pada pemerintah pusat, termasuk dalam masa pandemi Covid-19
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday- Pemulihan ekonomi akan sulit tercapai jika sektor keuangan masih bergantung terhadap kinerja perbankan. Saat ini perbankan masih mendominasi sektor keuangan di Indonesia hingga mencapai 70 persen.

Hingga saat ini sektor keuangan belum dapat berkontribusi optimal untuk mendorong pemulihan ekonomi. Apalagi sektor yang lain seperti pasar modal, asuransi hingga dana pensiun, penetrasinya masih terlalu dangkal.

“Dominasi sektor perbankan, ini berarti kita sangat tergantung vulnerable pada kesehatan dan kinerja perbankan. Padahal mayoritas perbankan juga masih tertekan dan tak dapat menyalurkan kredit di tengah pandemi Covid-19,” kata Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati saat acara Virtual Opening Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (Like IT), Selasa (3/8).

Menurut Sri Mulyani, jika hanya mengandalkan sektor perbankan maka pemulihan ekonomi menjadi lebih berat. Sebab masa pandemi Covid-19 perbankan dituntut melakukan restrukturisasi kepada nasabahnya.

Hal ini membuat pertumbuhan kredit melambat, bahkan negatif. Sedangkan salah satu indikator ekonomi mulai pulih adalah kredit bisa tumbuh signifikan.

“Ini berarti Kredit growth kita negatif. Akan sangat sulit memulihkan ekonomi sebelum sektor keuangan juga memulihkan kredit growth-nya, sektor keuangan dalam situasi yang belum berkontribusi pemulihan secara kuat,” ucapnya.

Bahkan menurutnya, meskipun pemerintah menaikkan anggaran penanggulangan pandemi, pemulihan ekonomi akan tetap sulit dicapai. Apalagi jika saat ini pertumbuhan kredit tercatat negatif, maka pemulihan ekonomi menjadi lebih lambat karena hanya mengandalkan satu mesin pertumbuhan saja, yaitu pemerintah.

“Kita harap perbankan terus secara bertahap mengembalikan fungsi intermediasi terutama dari sisi kredit channeling,” ucapnya.

Namun dari sisi lain, Sri Mulyani mengakui kondisi ini menjadi refleksi bagi pemerintah untuk memperdalam sektor keuangan dan tidak hanya bergantung pada perbankan saja. Menurutnya indikator aset sektor keuangan terhadap GDP Indonesia masih rendah.

Hal tersebut terjadi semua sektor seperti aset perbankan, kapitalisasi pasar modal aset industri asuransi, hingga dana pensiun rasio terhadap GPD masih rendah. Bahkan Indonesia berada di bawah Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina.

“Ini harus kita sikapi dengan oh ternyata kita perlu dan masih memiliki pekerjaan rumah untuk memperdalam sektor keuangan. Kita harus menemukan cara untuk meningkatkan pasar keuangan dan literasinya. Karena orang tidak akan bisa terjun tanpa memiliki basic literasi dan pemahaman,” tandasnya./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

EKONOMI

OJK Sebut Kota Bandung Layak Jadi Role Model Pemberdayaan UMKM dan Pemberantasan Rentenir

BANDUNG, Bisnistoday - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Barat menilai Kota Bandung layak...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

LPDB Koperasi Komitmen Tingkatkan Kapasitas Usaha Pengrajin Lurik Prasojo

JAKARTA, Bisnistoday - Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi berkomitmen terus meningkatkan...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Kemenkop Anugerahkan Koperasi Award kepada Gen Z hingga Tokoh Nasional

JAKARTA, Bisnistoday - Kementerian Koperasi (Kemenkop) menganugerahkan Koperasi Award kepada sejumlah tokoh...

Dirut KAI
EKONOMI

Dirut KAI Fokus Optimalkan Area Pertumbuhan Ekonomi Wilayah TOD

JAKARTA, Bisnistoday – PT Kereta Api Indonesia (KAI) bakal lebih fokus pengembangan...