JAKARTA, Bisnistoday – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan akhir pekan, Jumat (22/03) ditutup menguat 11,79 poin ke posisi 7.350,14. Sementara indeks LQ45 ditutup naik 1,96 poin ke posisi 996,73.
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mengatakan, penutupan IHSG hari ini bergerak menguat setelah seharian berada di teritori negatif. Penguatan IHSG ini didukung oleh penguatan dari IDX Techno dan IDX Health serta beberapa emiten perbankan seperti BBTN yang mencatatkan penguatan cukup signifikan.
“Penguatan IHSG di akhir sesi ini berkebalikan dengan pergerakan bursa regional Asia yang cenderung tertekan, dan secara teknikal kami perkirakan pergerakan IHSG masih tertahan oleh MA20-nya,” kata Herditya yang akrab disapa Didit seperti dikutit Antara.
Dari dalam negeri, pada pekan ini Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate tetap 6 persen pada Maret 2024, suku bunga Deposit Facility tetap di posisi 5,25 persen dan Lending Facility sebesar 6,75 persen.
Dari mancanegara, The Fed dalam pernyataan resminya mengatakan pemangkasan suku bunga tidak layak dilakukan selama mereka belum meyakini apabila inflasi bergerak ke arah 2 persen.
Kebijakan baru The Fed ini menggambarkan inflasi masih berpotensi “meningkat”, sehingga para pengambil kebijakan mengindikasikan pemangkasan suku bunga pada akhir 2024.
Dibuka melemah, IHSG betah di teritori negatif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG bergerak ke zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, lima sektor meningkat yaitu dipimpin sektor kesehatan yang naik sebesar 1,53 persen, diikuti sektor teknologi dan sektor transportasi & logistik yang masing-masing naik 1,32 persen dan 1,24 persen.
Sedangkan lima sektor terkoreksi dimana sektor energi turun paling dalam minus 0,46 persen, diikuti sektor properti dan sektor industri yang masing-masing minus 0,33 persen dan 0,32 persen.
Baca juga: Pasar Merespon Positif Kebijakan BI Menahan Suku Bunga, IHSG Menguat
Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu IRRA, KAEF, BBTN, BIKE dan WAPO. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni RSCH, PTMP, LMAX, TINS, dan VISI.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.046.098 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 15,14 miliar lembar saham senilai Rp9,96 triliun. Sebanyak 243 saham naik, 267 saham menurun, dan 253 tidak bergerak nilainya.
Rupiah Merosot
Di pasar uang, kurs rupiah terhadap dolar AS menjelang akhir pekan ditutup merosot dipengaruhi kenaikan imbal hasil (yield) Pemerintah Amerika Serikat (AS).
Pada akhir perdagangan Jumat, kurs rupiah melemah 114 poin atau 0,73 persen menjadi Rp15.783 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp15.669 per dolar AS.
“Kenaikan ‘yield’ obligasi Pemerintah AS dan klaim pengangguran AS lebih rendah dari ekspektasi,” kata analis Bank Woori Saudara Rully Nova.
Rully menuturkan imbal hasil obligasi AS naik ke 4,27 persen. Sementara klaim pengangguran AS sebesar 210 ribu, lebih rendah dari proyeksi 215 ribu dan pekan sebelumnya 212 ribu.
Dari domestik, masih euforia pada hasil pemilihan presiden dan wakil presiden yg sudah diumumkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI.
Selain itu, likuiditas perekonomian RI atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Februari 2024 tumbuh 5,3 persen secara year on year (yoy) mencapai Rp8.739,6 triliun.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Jumat melemah ke level Rp15.773 per dolar AS dari sebelumnya Rp15.662 per dolar AS./









































