www.bisnistoday.co.id
Senin , 26 Oktober 2026
Home OPINI Gagasan Reshuffle Kabinet : Promosi, Mutasi, tapi Sepertinya Demosi
Gagasan

Reshuffle Kabinet : Promosi, Mutasi, tapi Sepertinya Demosi

Social Media

Reshuffle kabinet di era Presiden Prabowo Subianto rupanya belum benar-benar usai. Ini seperti drama seri yang terus dinantikan lanjutannya. Kali ini, Rabu (17/9), beberapa kursi kosong yang ditinggalkan pada reshuffle sebelumnya akhirnya terisi. Nama-nama baru tapi lama kembali muncul ke permukaan.

Salah satunya Letjen (Purn) Djamari Chaniago, seorang pensiunan jenderal bintang tiga yang lama malang-melintang di dunia militer. Ia didapuk sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan. Kehadiran Djamari jelas memperlihatkan kecenderungan Prabowo untuk kembali merangkul kalangan militer senior, sebuah pola yang sebenarnya sudah terbaca sejak awal.

Selain itu, ada nama yang benar-benar baru, namun ada juga yang sudah dikenal masyarakat sebagai tokoh publik maupun profesional. Hanya saja satu nama tampaknya lebih menyita perhatian masyarakat dibanding yang lainnya ketika dalam daftar terselip nama Erick Thohir.

Erick , komandan tertinggi kementerian BUMN yang dalam beberapa tahun menjabat begitu powerful, dialah yang berkuasa atas kementerian basah nan seksi, ternyata digeser menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga. Saya tidak sedang menyebut Kemenpora sebagai tong sampah, tapi sangat sulit untuk tidak berpikir apakah ini promosi, mutasi, atau justru demosi buat Erick?

Jujur saja, dua kementerian itu punya peran yang jauh berbeda, secara gengsi pun tentu bisa diukur, ini bukan perbandingan yang seimbang. Maka jangan salahkan publik jika pada akhirnya mencium aroma turun kelas dalam pergeseran jabatan ini.

Di era Jokowi, reshuffle sering dibungkus dengan narasi manis: peremajaan, penyegaran, bahkan kadang dibumbui alasan kinerja. Jarang ada menteri yang digeser turun. Sofyan Djalil bisa berpindah kursi berkali-kali, tapi tetap di wilayah kementerian strategis. Begitupun dengan Luhut Binsar Panjaitan.

Di era SBY, reshuffle lebih mirip ritual politik untuk memelihara koalisi. Menteri yang “bermasalah” biasanya langsung dicopot, bukan diturunkan ke kementerian pinggiran.

Di sini, Prabowo tampaknya punya gaya berbeda. Ia memperlakukan kabinet bak papan catur, semua bidak bisa digeser ke mana saja, tanpa peduli apakah menteri merasa naik, turun, atau sekadar tersingkir ke pinggir. Ini memberi kesan presiden ingin menegaskan siapa pemegang kendali sesungguhnya. Tapi, konsekuensinya, publik bisa membaca langkah ini sebagai bentuk “hukuman halus” untuk tokoh yang terlalu menonjol.

Apakah dosa-dosa Erick? Entah ini termasuk dosa politik atau bukan, yang jelas publik tentu ingat bagaimana namanya sempat naik daun sebagai kandidat calon wakil presiden. Saat itu, negeri ini heboh ketika wajah dan senyuman khasnya membanjiri ATM di seluruh Indonesia. Beberapa kali Prabowo pun menyinggung BUMN yang merugi dalam setiap pidatonya. Belum lagi sentilan pak Presiden terhadap para komisaris BUMN yang hidup bagai sultan meski kinerja pas-pasan.

Bisa jadi ini merupakan akumulasi dari semua hal itu hingga Erick seperti sedang diparkir di kementerian yang tidak punya akses sebesar BUMN. Sungguh ironi, dari mengatur puluhan triliun rupiah aset negara, ke mengurus bonus atlet dan persiapan SEA Games.

Tapi, mungkin saja Prabowo ingin menempatkan Erick di jalur olahraga untuk memoles citra anak muda dan prestasi atlet, demi kebutuhan politik jangka panjang. Mengingat di canang sepak bola maupun bola basket nama sang pemilik beberapa klub olah raga ini sangat dikenal.

Hanya saja di mata masyarakat yang sinis, langkah ini tetap terlihat seperti demosi. Dan di politik, persepsi sering kali lebih berisik daripada fakta. Pada akhirnya, lagi-lagi reshuffle ini bukan sekadar soal siapa duduk di kursi apa, tapi lebih ke sinyal politik apa yang hendak dikirimkan.

Dhany Bagja (Wartawan Senior)

Arsip

Beritasatu Network




BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

IHSG Anjlok
Gagasan

Pasar Modal Bisa Runtuh Ketika Kepercayaan Punah

JAKARTA, Bisnistoday.co.id - Pasar modal bukan sekadar tempat bertemunya penjual dan pembeli...

OJOL beroperasi di jalan raya.
Gagasan

Dilema Sepeda Motor: Antara Perjuangan Hidup dan Ancaman Keselamatan

JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Setiap pagi, jutaan sepeda motor menyerbu jalanan Indonesia. Di balik...

SUMUR MIGAS
Gagasan

Hulu Migas Nasional di Persimpangan: Produksi Bertahan, Investasi dan Perizinan Jadi Ujian

JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Ditengah meningkatnya ketegangan geopolitik Timur Tengah yang berpotensi mengguncang harga...

Layanan Transportasi
Gagasan

Integrasi Transportasi Jakarta: Satu Aplikasi, Bukan Banyak Aplikasi

JAKARTA, Bisnistoday.co.id- Integrasi transportasi publik Jakarta memasuki babak penting menjelang 2027. Namun, di...