www.bisnistoday.co.id
Kamis , 20 Agustus 2026
Home OPINI Gagasan Tantangan Geopolitik Global Bagi Jasa Maritim Nasional
Gagasan

Tantangan Geopolitik Global Bagi Jasa Maritim Nasional

Kapal Kargo
KAPAL Angkutan kontainer./
Social Media

SURABAYA, Bisnistoday – Ekonomi maritim global termasuk nasional akan dipengaruhi adanya gangguan termasuk resiko permintaan jasa maritim. Utamanya akibat resiko tensi geopolitik, menurunnya ekonomi (resesi) global. Ditambah dengan berbagai kebijakan perdagangan negara besar USA, China, Eropa, Timur Tengah dan Asia termasuk ASEAN yang melakukan proteksi sert penyesuaian yang membatasi interaksi ekonomi dan perdagangan lewat laut yang menjadi oksigen baru ekonomi maritim global dan nasional.

Sementara dari sisi suplai terjadi persoalan turunan seperti gangguan (disrupsi) rantai suplai maritim. Karena adanya perang di wilayah Timur Tengah, Eropa dan potensi di Asia. Termasuk adanya over suplai ruang muat kapal, pelabuhan di berbagai pelabuhan utama dunia. Termasuk masih belum terutilisasinya terusan Suez dalam perdagangan Asia-Eropa dan sebaliknya. Sehingga rute tetap masih panjang dan lama serta relatif mahal.

Di dalam negeri sepertinya berbagai faktor yang mempengaruhi seperti: menurunnya konsumsi barang dan jasa pemerintah, daya beli masyarakat yang menurun mengakibatkan menurunnya produksi dan konsumsi masyarakat. Yang secara agregat kemudian berimbas pada menurunnya permintaan angkutan laut (pelayaran), level trafik kapal dan kargo pelabuhan. Permintaan akan armada kapal baru cenderung untuk menggantikan armada yang sudah tua.

Namun penambahan armada baru nampaknya relatif sulit dilakukan. Hal ini memang tidak menggembirakan bagi ekosistem industri galangan kapal nasional. Walau tentu potensi jasa reparasi atau perawatan akan tetap tinggi. Termasuk ada potensi volume kegiatan pembesituaan yang mungkin akan mulai menggeliat akibat kebutuhan perubahan atau modifikasi kapal tua dari tipe eksis menjadi tipe kapal baru.

Rencana penerapan PPN 12 persen, diperkirakan juga akan memberikan pengaruh tambahan bagi proses manufaktur, produksi dan konsumsi termasuk secara internal menambah biaya operasi kapal perusahaan pelayaran, pelabuhan serta operator logistik nasional. Walau besaran PPN ini tentunya akan dipindahkan kepada pemesan jasa. Jadi dampak akhir dari PPN 11 ke 12 persen, cenderung dirasakan penambahannya kepada konsumen akhir. Khususnya kita para pembeli atau pengguna kargo/komoditas. Penerapan 12 persen, akan menggerus profit penyedia jasa.

Termasuk bagi pengguna akhir. Plus ditambah permintaan secara makro yang berkurang akibat meningkatnya indeks risiko usaha dengan berbagai faktor di atas. Akibatnya volume perdagangan akan berkurang. Termasuk pendapatan para pemilik/penerima barang (shipper/consignee).

Beban Produksi Bertambah

Penerapan pajak pertambahan nilai 12 persen jelas akan menambah beban produksi dan konsumsi shipper/consignee. Dampaknya rasionalnya tentu membuat daya saing komoditas nasional menurun dibanding dengan negara Asia atau ASEAN dengan tingkat PPN lebih rendah. Dampaknya komoditas nasional sulit untuk dapat masuk ke pasar internasional. Semakin sulitnya penetrasi kargo nasional akibat PPN 12 persen, secara tidak langsung berpotensi mengurangi potensi trafik maritim. Jadi penerapan 12 persen secara tidak langsung tidak produktif bagi sektor maritim nasional

Semua faktor yang mempengaruhi di atas, secara praktis mendorong respon baru para pelaku maritim nasional lewat diversifikasi suplai, partner bisnis dan proses bisnis baru. Termasuk proses bisnis yang terdigitalisasi, dan usaha dekarbonisasi yang menjadi tuntutan regulasi IMO serta kebijakan tidak langsung sejumlah negara yaitu proteksi perdagangan internasional mereka untuk kepentingan domestiknya masing-masing.

Kondisi semua ini mendorong semakin menurunnya permintaan atau volume jasa serta semakin rendahnya utilitas kapasitas jasa pelayaran,pelabuhan, operator logistik maritim (forwarder) dan galangan kapal. Perang dagang dan divergensi politik dunia dalam banyak diskusi akademik 2023-2024 memang secara faktual mempengaruhi pola perdagangan global maritim. Khususnya atas komoditas yang intensitas teknologinya tinggi, komoditas energi, logam mulia, logam industri, pertanian dan peternakan.

Perang dagang kedua negara adidaya lewat pengaturan tarif atau bea masuk, nilai mata uang dollar dan yuan, serta pengaruh politik kedua negara ini secara faktual mendorong banyak sikap politik yang mempengaruhi kebijakan perdagangan tidak hanya di Eropa, dan Timur Tengah, namun juga di Asia termasuk ASEAN. Dan secara generik, fenomena yang dasarnya diakibatkan divergensi politik yang akhirnya menimbulkan risiko geopolitik hingga perang dagang mengakibatkan risiko maritim global termasuk di Indonesia semakin membesar.

Dalam banyak fakta, berbagai perusahaan besar pemilik/penerima barang, manufaktur skala besar dan menengah global (di Eropa misalnya dan Timur tengah) telah telah merelokasi fasilitas produksi mereka. Meletakan pusat distribusi/konsolidasi dekat dengan pusat permintaan utama. Dengan tujuan mendapatkan kemudahan akses terhadap pasar lokal dan internasional. Serta mengeksplorasi potensi keuntungan dalam mencari efisiensi (biaya yang terkait dengan perkiraan penundaan di pelabuhan, hambatan tarif dan non-tarif).

China sebagai salah satu barometer ekonomi Asia termasuk ASEAN dan Indonesia juga mendapatkan tekanan domestik yang akan semakin mempengaruhi perdagangan internasional Indonesia ke China. Pertumbuhan ekonomi China yang menurun, tingginya biaya tenaga kerja dan menurunnya tingkat konsumsi dalam negeri China ditambah dengan menurunnya animo perdagangan luar negeri menjadi faktor-faktor yang akan menimbulkan turunnya permintaan importasi termasuk eksportasi dari dan ke Indonesia. Namun, dibalik kondisi ini masih ada harapan dan potensi positif bagi Indonesia.

Kiblat Perdagangan Berubah

Potensi perdagangan internasional Indonesia secara logis akan mengarah ke wilayah nearshoring dan friendshoring (khususnya bagi negara yang orientasi politik luar negeri yang memahami posisi politik Indonesia). Industri manufaktur Eropa, Timur tengah, Amerka Selatan dan Asia termasuk China yang terimbas kuat akibat menurun drastis permintaan ditambah gangguan olah gerak rantai suplai akan melakukan relokasi ke negara yang dekat dengan potensi lokasi pasar termasuk Indonesia.

Berbagai dinamika kondisi global ini, diperkirakan bagi Indonesia, intensitas trafik kapal dan kargo atau permintaan angkutan maritim Indonesia akan didominasi oleh angkutan laut yang berada pada rute jarak pendek-menengah. Khususnya berorientasi pada wilayah Asia Selatan, Asia Timur dan ASEAN. Termasuk di dalam negeri. Hal ini diakibatkan oleh rekayasa penetapan rute dan pelabuhan baru secara global, regional dan lokal.

Berbagai pelabuhan utama nasional dan pusat konsolidasi nasional berpotensi untuk menjadi opsi baru bagi pemilik serta penerima komoditas global. Untuk itu, investasi baru mungkin dibutuhkan untuk mendukung potensi relokasi serta rekayasa rute dan pelabuhan baru ini.

Dukungan digitalisasi, kebijakan pemerintah, serta sokongan keuangan lewat asuransi dan reasuransi maritim kapal, dan kargo serta logistik maritim perlu dieksplorasi atau disediakan. Termasuk pengembangan SDM dalam konteks kerjasama internasional (regional) antar SDM asing dan lokal perlu dipertimbangkan untuk kesiapan investasi, operasi bersama dengan dukungan operator, investasi asing dan dalam negeri.

Jadi untuk ke depannya, mungkin langkah praktis bagi pelaku usaha maritim nasional adalah sebagai berikut: melakukan penilaian risiko operasi dan bisnis akibat geopolitik, penurunan pangsa pasar serta disrupsi rantai suplai. Dan dampaknya terhadap operasi internal dan eksternal seperti apa; dan mempersiapkan respon kolaborasi antar partner untuk sharing aset: ruang muat, ruang terminal, peralatan serta kontrak pemanfaatan aset bersama.

Dan selanjutnya, mendapatkan pola kontrak permintaan (kargo, kapal, penumpang, kendaraan dan ternak) dalam jangka panjang, dengan pola tarif /freight yang dinamik. Termasuk diversifikasi jasa atas wilayah, tipikal kargo, jasa tradisional ke jasa yang dibutuhkan pasar dengan dukungan digitalisasi dan keberlanjutan lingkungan.

Surabaya, Januari 2025

Oleh : Dr.Saut Gurning, Guru besar risiko logistik maritim, Departemen Teknik Sistem Perkapalan, Fakultas Teknologi Kelautan – Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Email: sautg@its.ac.id

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

PosIND Pelembang
Gagasan

Ekonomi Belah Ketupat, Mimpi Besar Prabowo Memperkuat Kelas Menengah

JAKARTA, Bisnistoday - Tujuan bangsa ini berdiri, seperti dinyatakan dalam konstitusi oleh...

Logo BI
Gagasan

Independensi Bank Indonesia dan Arah Angin Politik

INDEPENDENSI Bank Indonesia (BI) sering kali disalahpahami sebagai kebebasan untuk berjalan tanpa...

Gianni Infantino (dok:AFP/LATimes)
GagasanSport & Health

Pelajaran dari Krisis Kepemimpinan FIFA

FIFA, Federasi Sepak Bola Internasional, saat ini sedang diterpa masalah, terutama terkait...

Karhutla (Ilustrasi: Unsplash/Matt-Palmer)
GagasanLingkungan

Amuk Api di Lahan Kerontang

SEJUMLAH peristiwa kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terjadi sepanjang pekan ini, yakni...