JAKARTA, Bisnistoday – Pemerintah diminta segera mengevaluasi kebijakan penetapan tarif awal serta kenaikan berkala prasarana jalan tol di Indonesia. Tarif tol yang tinggi menyebabkan biaya ekonomi tinggi. Hal ini diungkapkan oleh Anang Prihantoro, pemerhati infrastruktur dalam media sosialnya, baru-baru ini.
Sebagai contoh nyata, lanjut Anang Prihantoro, tarif tol Ruas Tebanggi Besar-Bakahueni mengalai kenaikan 62,5% dari sebelumnya tarifnya Rp844 per km menjadi Rp1350 per km. Kenaikan tarif ini direspon masyarakat yang memilih menggunakan jalan arteri ketimbang tol.
“Sebelumnya ruas tol ini sangat padat. Sejak kenaikan tarif tol, jauh sepi dari sebelumnya. Sementara ruas non tol sangat padat sekali,” terangnya.
Kondisi ini, menurut Anang, sudah dikeluhan oleh para sopir travel, sopir angkutan barang, bahkan sopir pribadi. “Kami berharapkan pemerintah segera mengambil langkah strategis. Jalan tol malah menyebabkan ekonomi biaya tinggi, harga barang yang diangkuta melalui tol juga tinggi.Biaya atau ongkos angkutan orang juga tinggi.”
Anang mengharapkan pemerintah segera turun tangan, dengan mengevaluasi dan mengambil langkah strategis. Semoga hal serupa juga didegar dari keluhan para pengguna jalan lainnya. Semoga cita-cita pembangunan jalan tol untuk mendorong perekonomi terwujud.
“Berharap besar pemerintah turun tangan. Semoga cita-cita jalan tol secara nasional bisa tercapai.”/


















![Seorang petugas pemadam kebakaran menyemprotkan air ke hutan yang terbakar di wilayah Lege-Cap-Ferret, Prancis barat, pada 24 Juli 2026 [Caroline Blumberg/AP]](https://bisnistoday.co.id/wp-content/uploads/2026/07/Karhutla-680x533.jpg)






















