www.bisnistoday.co.id
Minggu , 19 Juli 2026
Home LIFESTYLE Sport & Health Waspada! Alergi Susu Sapi Pada Anak Dapat Menyebabkan Stunting
Sport & Health

Waspada! Alergi Susu Sapi Pada Anak Dapat Menyebabkan Stunting

Medical and Scientific Affairs Director Sarihusada, Ray Wagiu Basrowi
Medical and Scientific Affairs Director Sarihusada, Ray Wagiu Basrowi
Social Media

Jakarta, Bisnistoday – Alergi protein susu sapi (APSS) merupakan salah satu kondisi alergi yang cukup sering dialami anak dan perlu dikenali sejak dini. Berdasarkan studi dalam Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition (2025), prevalensi global alergi susu sapi berkisar antara 2% hingga 7,5%.

Sementara di Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat angka kejadiannya dapat mencapai hingga 7,5%. Kondisi ini menjadi perhatian penting, terutama pada anak usia dini yang berada dalam masa penting pertumbuhan dan perkembangan.

Gejala alergi susu sapi sering kali menyerupai kondisi umum lainnya, seperti ruam kulit, gangguan pencernaan, atau perubahan perilaku anak setelah mengonsumsi susu, sehingga kerap tidak disadari sejak dini.

Medical and Scientific Affairs Director Sarihusada, Ray Wagiu Basrowi mengatakan bahwa alergi susu sapi bukan hanya berdampak pada fisik, tetapi dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan anak.

“Tata laksana alergi susu sapi yang tidak tepat dapat memengaruhi kecukupan asupan yang dibutuhkan anak untuk tumbuh kembang secara optimal. Dalam jangka panjang, hal ini dapat berujung pada stunting,” ujarnya di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut Ray mengungkapkan bahwa, studi menemukan risiko stunting mencapai hingga 24% pada kelompok anak alergi protein susu sapi.

“Selain itu, dampak alergi susu sapi juga dapat dirasakan pada kualitas hidup anak secara keseluruhan, termasuk aspek psikologis, sosial, finansial serta memberikan tantangan tersendiri bagi keluarga dalam proses pengelolaan sehari-hari,” ujarnya.

Untuk penanganannya, dokter Spesialis Anak Konsultan Alergi Imunologi, Molly Dumakuri Oktarina menjelaskan bahwa penanganan alergi susu sapi perlu dilakukan secara terarah dan berdasarkan evaluasi medis yang tepat.

“Setiap anak memiliki kondisi yang berbeda, sehingga pendekatan penanganannya pun tidak bisa disamaratakan. ASI merupakan nutrisi terbaik bagi anak, termasuk pada anak dengan alergi protein susu sapi, namun Ibu perlu menghindari konsumsi susu sapi dan produk turunannya sebagai bagian dari penanganan,” imbuhnya.

Sedangkan pada anak yang membutuhkan asupan tambahan karena indikasi medis tertentu, pemilihan nutrisi perlu disesuaikan berdasarkan rekomendasi dan pemantauan dokter anak seperti formula terhidrolisa ekstensif (EHF) untuk alergi ringan-sedang.

Untuk amino acid formula (AAF) diberikan pada kondisi alergi yang lebih berat atau apabila alergi tidak bisa ditangani dengan EHF, dan formula soya sebagai alternatif pada alergi ringan-sedang apabila terdapat kendala biaya atau ketersediaan EHF.

“Sedangkan susu terhidrolisat parsial (PHF) bukan pilihan untuk terapi alergi susu sapi. Karena tidak semua formula cocok untuk setiap anak, sehingga seluruh proses mulai dari diagnosis serta pemilihan nutrisi perlu dilakukan di bawah pengawasan dokter anak agar kebutuhan nutrisi dan tumbuh kembang anak tetap terjaga,” ungkap Molly.

Berdasarkan beberapa studi, formula terhidrolisa ekstensif (eHF), khususnya berbasis whey, diketahui memiliki tingkat toleransi yang tinggi serta rasa yang lebih dapat diterima, sehingga dapat mendukung kepatuhan konsumsi anak. Sedangkan formula berbasis asam amino (AAF) ditemukan dapat membantu meredakan gejala alergi secara cepat dengan risiko reaksi alergi yang sangat minimal.

“Formula berbasis soya juga dapat menjadi alternatif dengan tetap memastikan nutrisi penting seperti omega 3 dan 6, AA:DHA, minyak ikan tuna, zat besi dan vitamin C tetap terpenuhi untuk tumbuh kembang optimal,” imbuhnya

Sarihusada perkuat inisiatif SADAR Alergi

Dalam rangka menyambut World Allergy Week 2026 yang diinisiasi oleh World Allergy Organization dengan tema “Allergy Care is Essential Care”, Sarihusada terus memperkuat inisiatif SADAR Alergi (Skrining Awal dan Asupan Rekomendasi Alergi), guna mendorong pentingnya edukasi, konsultasi dengan dokter spesialis anak, serta dukungan nutrisi yang tepat bagi anak dengan alergi susu sapi.

Healthcare Nutrition Director Sarihusada, Vera Saw mengatakan bahwa melalui inisiatif SADAR Alergi, Sarihusada ingin menghadirkan dukungan untuk membantu orang tua mendapatkan akses terhadap informasi yang kredibel dan relevan dengan kebutuhan mereka.

“Kami menghadirkan edukasi berbasis sains melalui berbagai kanal digital dan komunitas untuk membantu orang tua mendapatkan informasi yang tepat. Kami juga mendukung kebutuhan nutrisi anak dengan alergi susu sapi melalui berbagai pilihan nutrisi, mulai dari formula ekstensif terhidrolisis, formula asam amino, hingga formula berbasis soya yang telah disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan anak di Indonesia yang dapat ditemukan berdasarkan rekomendasi dokter,” pungkasnya./E2

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Kapten Timnas Inggris Harry Kane (dok:x.com/Fabrio Romano)
Sport & Health

Piala Dunia 2026 : Inggris Ganjal Kiprah Timnas Prancis dengan Mengunci Gol Skor 6-4 di Akhir Laga

JAKARTA, Bisnistoday – Timnas Inggris akhirnya meraih peringkat ketiga setelah membungkam kiprah...

Suporter Portugal (dok: Unsplash/Omar Ramadan)
OPINISport & Health

Melihat Sepak Bola dari Kacamata Ilmu Budaya

PADA umumnya, masyarakat memandang Piala Dunia sebatas rivalitas antarnegara.  Yang ingin orang...

Kylian Mbappe (10) bersama timnas Prancis (dok:FFF/Iconsport)
Sport & Health

Duel Inggris-Prancis, Ajang Pembuktian Terakhir Mbappe

JAKARTA, Bisnistoday –Tidak ada satu tim pun yang menargetkan untuk menjadi juara...

Piala Dunia 2026 (Unsplash/Anthony Maw)
GagasanSport & Health

Menguji Konsistensi FIFA

SEPAK bola bukan cuma pentas unjuk kelihaian para pemain. Olahraga ini seringkali...