www.bisnistoday.co.id
Sabtu , 4 Juli 2026
Home BURSA & KORPORASI Bursa IHSG Awal Pekan Melemah, Rupiah Menguat Tipis
BursaBURSA & KORPORASI

IHSG Awal Pekan Melemah, Rupiah Menguat Tipis

IHSG pada perdagangan awal pekan, Senin (24/1) ditutup melemah
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan awal pekan, Senin (24/1) ditutup melemah 71,21 poin ke posisi 6.655,17 poin, sementara indeks LQ 45 turun 10,7 poin ke posisi 949,49. Pelaku pasar masih menunggu pengumuman kebijakan moneter bank sentra Amerika Serikat, The Fed pekan ini.

Tim riset Phillip Sekuritas dalam kajiannya menyebutkan, indeks saham di Asia pun ditutup variatif dengan kecenderungan turun. Investor menimbang dampak terhadap pasar dari pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral AS.

Pergeseran kebijakan moneter The Fed yang dinilai akan berdampak pada pasar obiligasi masih menjadi tanda tanya besar bagi pelaku pasar, karena kurva imbal hasil (yield curve) justru semakin landai dan imbal hasil surat utang Pemerintah AS bertenor 10 tahun tertahan di 1,76 persen atau hampir sama dengan level pada awal tahun ini.

Sementara itu, ada sekelompok investor yang berspekulasi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan kebijakan mereka minggu ini meskipun probabilitas hal itu terjadi cukup kecil.

Mayoritas investor masih mempunyai ekspektasi kenaikan suku bunga pertama sebesar 0,25 persen akan terjadi pada Maret dan ditambah 3 kali kenaikan lagi hingga suku bunga mencapai 1 persen pada akhir tahun ini.

Dari sisi korporasi, investor minggu ini menunggu rilis laporan keuangan dari sejumlah emiten besar seperti Apple, Boeing, General Electric, 3M, Microsoft, Tesla, Samsung Electronics dan Deutsche Bank.

Dari sisi makroekonomi, investor mencerna rilis data perhitungan awal (Flash) Purchasing Managers’ Index (PMI) Jepang di mana Manufacturing PMI naik ke level 54.,6 pada Januari, tertinggi sejak Januari 2018, dari perhitungan akhir Desember yang sebesar 54,3.

Selain Jepang, Australia juga merilis data perhitungan awal (Flash) PMI dengan Composite PMI turun tajam ke level 45,3 pada Januari dari level 54,9 pada bulan sebelumnya sehingga menandakan kontraksi pertama dalam empat bulan terakhir.

Dibuka melemah, IHSG terus bergerak di zona merah hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih nyaman berada di teritori negatif sampai penutupan bursa saham.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sembilan sektor terkoreksi dimana sektor teknologi turun paling dalam yaitu minus 2,89 persen, diikuti sektor keuangan dan sektor infrastruktur masing-masing minus 1,42 persen dan minus 1,27 persen.

Sedangkan dua sektor meningkat yaitu sektor energi dan sektor transportasi & logistik masing-masing sebesar 0,68 persen dan 0,6 persen.

Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi jual saham oleh investor asing di seluruh pasar yang ditunjukkan dengan jumlah jual bersih asing atau net foreign sell di seluruh pasar sebesar Rp6,17 miliar. Sedangkan di pasar reguler tercatat aksi beli asing dengan jumlah beli bersih Rp27,21 miliar.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.259.765 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 19,71 miliar lembar saham senilai Rp10,4 triliun. Sebanyak 175 saham naik, 358 saham menurun, dan 148 tidak bergerak nilainya.

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei menguat 66,11 poin atau 0,24 persen ke 27.588,37, indeks Hang Seng turun 309,09 poin atau 1,24 persen ke 24.656,46, dan indeks Straits Times terkoreksi 11,51 atau 0,35 persen ke 3.283,35.

Rupiah Menguat Tipis

Sementara itu, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta ditutup menguat tipis 1 poin ke posisi Rp14.335 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.336 per dolar AS.

“Investor saat ini terus bersiap untuk keputusan kebijakan terbaru The Federal Reserve,” kata analis sekaligus Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi.

The Fed akan mengumumkan kebijakan moneternya pada Rabu (24/2) waktu AS. The Fed diperkirakan akan memperketat kebijakan moneter lebih cepat dari yang diprediksi guna mengekang inflasi yang terus tinggi.

Inflasi yang terus meningkat dikhawatirkan akan menjadi ancaman bagi ekonomi AS pada 2022 setelah mulai pulih dari dampak pandemi.

Dolar sendiri diperdagangkan relatif stabil di sesi Asia pada awal pekan ini jelang pertemuan kebijakan bank sentral AS.

Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) akan memulai pertemuan dua hari pada Selasa (25/1) dengan beberapa analis mulai berspekulasi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak pandemi dimulai.

Rupiah pada pagi hari dibuka melemah ke posisi Rp14.319 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp14.303 per dolar AS hingga Rp14.351 per dolar AS.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Senin menguat ke posisi Rp14.327 per dolar AS dibandingkan posisi hari sebelumnya Rp14.347 per dolar AS./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Rully Arya Wisnubroto
Bursa

Mirae Asset Sekuritas: Investor Tetap Perlu Cermati Tantangan Domestik

JAKARTA, Bisnistoday - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pasar keuangan global...

Bursa

Intercontinental Exchange dan OKX Bentuk Joint Venture, Jembatani Pasar Aset Tradisional dan Digital

JAKARTA, Bisnistoday - Intercontinental Exchange (NYSE: ICE) dan OKX mengumumkan pembentukan joint...

BURSA & KORPORASIKorporasi

BRI Life Dukung Kegiatan Kementerian UMKM Dalam Penguatan Ekosistem UMKM

JAKARTA, Bisnistoday - PT Asuransi Jiwa BRI Life (BRI Life) menegaskan komitmennya...

Trading Saham
BursaHEADLINE NEWS

Investor Asing Mulai Berani Masuk Selektif ke Saham Perbankan

JAKARTA, Bisnistoday- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (17/6) kemarin...