www.bisnistoday.co.id
Selasa , 30 Juni 2026
Home EKONOMI Harlah APKLI : Pedagang Kaki Lima Bukan Onggokan Sampah
EKONOMI

Harlah APKLI : Pedagang Kaki Lima Bukan Onggokan Sampah

HARLAH APKLI : Ketua Umum APKLI, Ali Mahsun Atmo M.Biomed saat perayaan Harlah APKLI ke-29, di Jakarta, Senin (31/1).
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Kelompok komunitas masyarakat ekonomi kecil, menyerukan Pedagang Kaki Lima (PKL) bukan onggokan sampah, tetapi memiliki peran penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional. Keberadaan PKL semestinya menjadi berkah dan ditata lebih baik, bukan lantas malah dimatikan. 

“Tatkala krisis ekonomi tahun 1998, para pedagang menjandi tumpuan. Krisis juga tahun 2008, para PKL juga masih bertahan serta sekarang ini, kita selama dua tahun terakhir, krisis pandemic, para pedagang tetap berupaya hidup, menopang kehidupan rumah tangganya. PKL bukan sampah, tetapi jantungnya Idonesia,”tukas Ali Mahsun Atmo, Ketua Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) dalam kegiatan Hari Lahir (Harlah) ke-29 APKLI di Jakarta, Senin (31/1).

Turut Hadir tokoh NU, Lily Khodidjah Wahid, cucu Kyai Haji Hasyim Asy’ari, Ketua Harian APKLI, Hery Haryanto Azumi, Ketua Koperasi Beujek, Eka Maulana, Ketua Asosiasi Pedagang Perantau Minang Chaniago, Dedi Hartono Chaniago, Ketua Perkumpulan Pengusaha Warteg Mandiri, Hasan, Ketua Lingkar Merah Putih, Eka Rahayu, dan dihadiri oleh berbagai perwakilan cabang wilayah APKLI. 

Ketika ekonomi Indonesia hampir bangkrut, lanjut Ali Mahsun, para PKL inilah mampu menyelamatkannya. Sekarang ini, para pedagang ini sudah mencapai sekitar 25 juta pedagang kaki lima dengan menopang konstribusi perputaran usaha sekitar Rp1200 triliun per tahun, dan seharusnya bisa ditingkatkan perannya.  

Ali Mahsun juga mengakui, adanya gesekan kepentingan antar pelaku usaha kecil seperti Warteg. Jarak antar Warteg yang berdekatan membuat persaingan kian memanas, sehingga perlu adanya koordinasi pengaturan. “Namun tatkala, ada Warteg bertuliskan Subsidi menjadi persaingan rumit. Kita bukan anti asing, dan kapitalis, tapi keberadaan PKL tidak boleh direnggut.”

Pada kesempatan itu, Ali juga meminta para pejabat wilayah berwenang tidak semena-mena terhadap pedagang. Pemimpin memiliki kewenangan tetapi tidak boleh menjadi sewenang-wenang. 

‘Seluruh pemangku kepentingam, Lurah, Camat, Walikota dan lainnya. Pemimpin punya segala kewenangan tapi tak boleh sewenang-wenang. Ingat ada yang membatasi semua itu, adalah konstitusi.”Para pemimpin semua, mari kembali ke khitah masing-masing. Mari berpihak kepada nasib bangsa,” ujarnya. 

Ali menegaskan, tidaklah punya mimpi sedikitpun tentang masyarakat adil dan makmur seperti yang dicita-citakan dalam UUD 1945, kalau rakyat kecil tidak dirangkul bersama. Karena itu, tidak ada upaya lainnya kecuali menyatukan ekonomi rakyat kecil. 

“Mereka butuh perhatian khusus, kalau masih ada yang menjajah maka mari kita lawan, dan saya akan pimpin perjuangan rakyat kecil ini,” tukasnya. 

Eka Maulana, Ketua Koperasi Beujek asli buatan lokal, mengatakan, peran usaha mikro asli Indonesia kurang mendapat dukungan. Seperti yang dia lakukan yakni membentuk starup bidang transportasi motor, bernama BEUJEK. Sekarang, Beujek sudah berkembangan di beberapa wilayah perkotaan di Jawa dan Sumatera.”Transaksi digital di Indonesia, sudah puluhan ribu triliun keluar ke asing melalui transaksi digital. Saya bisa buktikan itu, semua harus sadar,” tuturnya. 

Kehadiran Beujek juga memberikan kesempatan pada produk para pedagang asongan, untuk berjualan melalui platformnya. Didalam hymne APKLI sendiri, dinyanyikan pedagang tanpa Lelah, panas kepanasan, hujan kehujanan untuk perjuangan hidupnya.”Program APKLI, akan kita dukung untuk kesejahteraan pedagang,” tuturnya. 

Butuh Legitimasi

Ketua Pelaksana Harian APKLI, Hery Haryanto Azumi menyatakan, keberadaan masyarakat pedagang sangat penting bagi kepentingan pemerintah sekarang. Gerakan masyarakat kecil ini lahir karena munculnya jurang pemisah antara elit dan rakyat. “Tanpa kehadiran rakyat melalui APKLI ini, akan menurunkan legitimasi pemerintah.”

APKLI sudah menginjak masa 29 tahun, menurut Hery, sebagai organisasi yang sudah matang dan dewasa. Wadah ini mampu mempersatukan kepentingan masyarakat kecil atau kawula alit. “Waktunya sekarang, APKLI mempelopori gerakan untuk menyejahterakan ekonomi rakyat kecil.Tanpa pedagang kecil, pemerintah kehilangan legitimasi. Sejarah membuktikan, kuncinya ada persatuan,” tukasnya./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Kementerian UMKM Sinergikan Tiga Program untuk Capai Target 10 Juta Wirausaha Baru

JAKARTA, Bisnistoday – Lembaga inkubator berperan strategis untuk mencetak wirausaha baru yang...

Komponen Otomotif
EKONOMIEkonomi & Bisnis

Menperin Menepis Tudingan Adanya Relokasi Sejumlah Perusahaan Komponen Otomotif

JAKARTA, Bisnistoday -Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita memerintahkan Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin,...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Aturan Baru: Platform E-commerce Wajib Cantumkan Seluruh Biaya Dalam Perjanjian Kemitraan

  JAKARTA, Bisnistoday - Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) resmi...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Gandeng ID Food, Koperasi Ekspor Gambir ke India dan Pakistan

JAKARTA, Bisnistoday - Koperasi Produsen Syariah Gambir Anam Koto Mandiri asal Sumatera...