JAKARTA, Bisnistoday- Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis (3/11) melemah 48 poin ke posisi Rp15.695 per dolar AS dibandingkan penutupan perdagangan hri sebelumnya yang berada di posisi Rp15.647 per dolar AS.
Analis DCFX Futures, Lukman Leong mengatakan, pelemahan rupiah dipicu oleh penguatan dolar AS pasca bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed menaikkan suku bunga acuan 75 basis poin menjadi 3,75-4 persen seperti yang diperkirakan secara luas. Dolar awalnya sempat jatuh karena petunjuk dalam pernyataan The Fed tentang kenaikan yang lebih kecil ke depan.
Ketua The Fed Jerome Powell mengisyaratkan suku bunga AS kemungkinan akan naik lebih jauh dari yang diperkirakan, mengecewakan harapan para investor untuk perubahan nada, dan kini investor mengalihkan fokus ke data pekerjaan Jumat (4/11) besok.
Seperti diketahui bahwa bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) pada Rabu (2/11) menerapkan kenaikan suku bunga sebesar tiga perempat poin untuk kali keempat secara beruntun di tengah inflasi terburuk dalam empat dekade.The Fed menaikkan suku bunga pinjaman jangka pendek sebesar 0,75 poin persentase ke level tertinggi sejak Januari 2008.
The Fed akan mempertimbangkan pengetatan kumulatif kebijakan moneter, kelambatan dari kebijakan moneter yang memengaruhi aktivitas ekonomi dan inflasi, serta perkembangan ekonomi dan keuangan.
Kenaikan suku bunga tersebut diperkirakan akan sedikit mengurangi pendapatan konsumen, memaksa warga AS untuk membayar lebih mahal guna melunasi utang atau memperoleh hipotek.
Dari internal, lanjut Lukman, terjadinya deflasi pada Oktober justru semakin membebani rupiah, dengan ekspektasi kenaikan suku bunga Bank Indonesia yang semakin rendah.
“Hal ini mirip yang terjadi pada yen yang dimana inflasi juga tidak terlalu tinggi dan BoJ (Bank of Japan) yang enggan menaikkan suku bunga,” kata Lukman.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat deflasi sebesar 0,11 persen (month-to-month/mtm) pada Oktober 2022 atau adanya penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 112,87 pada September menjadi 112,75.
Penyumbang deflasi pada Oktober utamanya berasal dari penurunan harga komoditas cabai merah, telur ayam ras, daging ayam ras, cabai rawit, minyak goreng, tomat dan bawang merah.
Dengan terjadinya deflasi pada Oktober, maka inflasi tahun kalender Oktober 2022 terhadap Desember 2021 sebesar 4,73 persen dan inflasi tahun ke tahun (yoy) Oktober 2022 terhadap Oktober 2021 sebesar 5,71 persen.
Rupiah pada pagi hari dibuka melemah ke posisi Rp15.655 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp15.655 per dolar AS hingga Rp15.699 per dolar AS.
Sementara itu kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Kamis melemah ke posisi Rp15.681 per dolar AS dibandingkan posisi hari sebelumnya Rp15.652 per dolar AS./

