JAKARTA, Bisnistoday – Kebijakan Bank Indonesia (BI) menaikkan tingkat bunga acuan sebesar 25 basis poin ke level 6,25 persen disambut positif pelaku pasar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan, Rabu (24/04) ditutup menguat 63,71 poin ke posisi 7.174,52. Sementara indeks LQ45 naik 3,71 poin ke posisi 931,35.
Tim Riset Phillip Sekuritas Indonesia dalam kajiannya di Jakarta, Rabu (24/04) menyebutkan, hari ini BI secara mengejutkan menaikkan suku bunga acauan BI Rate sebesar 25 basis poin , tertinggi sejak 2016 dengan tujuan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Selain itu juga untuk menghadapi risiko memburuknya ekonomi global dan untuk memastikan bahwa tingkat inflasi tetap berada di dalam kisaran target 2,5 plus minus 1 persen di 2024 dan 2025,” sebut Tim Riset Phillip Sekuritas Indonesia dalam kajiannya, di Jakarta, Rabu.
Sementara itu, dari mancanegara, pelaku pasar menunggu reaksi Bank Sentral Jepang atau Bank of Japan (BOJ) dalam pertemuan kebijakan mereka yang dimulai besok mengenai pelemahan nilai tukar yen yang berkepanjangan.
Selasa (23/4) kemarin, Menteri Keuangan Jepang Shunichi Suzuki mengeluarkan peringatan keras tentang peluang intervensi dengan mengatakan kesepakatan tiga pihak dengan AS dan Korea Selatan pada pekan lalu, telah membuka jalan bagi Pemerintah Jepang untuk mengambil langkah melawan pergerakan nilai tukar yen yang terlalu liar.
Dari Australia, tingkat inflasi dilaporkan turun menjadi 3,6 persen year on year (yoy) pada kuartal I-202424 dari 4,1 persen (yoy) pada kuartal IV- 2023, namun masih lebih tinggi dari ekspektasi pasar 3,4 persen.
Angka tersebut adalah tingkat inflasi paling rendah sejak kuartal IV-2021, seiring dengan kenaikan harga barang-barang jadi yang melambat selama enam kuartal beruntun sementara inflasi kenaikan harga di sektor Jasa (Services) mencatatkan perlambatan selama tiga kuartal beruntun.
Dibuka menguat, IHSG betah di teritori positif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, enam sektor meningkat dipimpin sektor teknologi yang minus 2,36 persen, diikuti sektor kesehatan dan sektor infrastruktur yang masing-masing naik sebesar 0,88 persen dan 0,82 persen.
Sedangkan lima sektor terkoreksi, yaitu dipimpin sektor industri yang minus 0,65 persen, diikuti sektor transportasi dan logistik dan sektor energi yang masing-masing turun sebesar 0,28 persen dan 0,27 persen.
Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar, yaitu KOKA, MHKI, ATLA, MPXL, dan HYGN. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni VISI, PTMP, PYFA, TINS, dan BTPS.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 972.923 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 21,93 miliar lembar saham senilai Rp14,40 triliun. Sebanyak 255 saham naik, 304 saham menurun, dan 220 tidak bergerak nilainya.
Baca juga: Pasar Sambut Positif Penetapan Prabowo-Gibran sebagai Pemenang Pemilu, IHSG Menguat
Bursa saham regional Asia Rabu sore ini, antara lain indeks Nikkei menguat 907,90 poin atau 2,42 persen ke 38.460,10, indeks Hang Seng menguat 372,33 poin atau 2,21 persen ke 17.201,26, indeks Shanghai menguat 22,62 poin atau 0,76 persen ke 3.044,82, dan indeks Strait Times menguat 20,40 poin atau 0,62 persen ke 3.293,12.
Rupiah Menguat
Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akhir perdagangan Rabu (24/04) menguat 65 poin atau 0,40 persen menjadi Rp16.155 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.220 per dolar AS.
“Kenaikan suku bunga yang dilakukan BI pada hari ini merupakan langkah yang tepat karena saat ini rupiah sedang dalam titik terlemahnya sejak tahun 2020,” kata Analis Finex Brahmantya Himawan seperti dikutif Antara.
Brahmantya menuturkan peningkatan BI-Rate didasari atas sentimen penundaan penurunan suku bunga Fed Funds Rate (FFR) oleh bank sentral Amerika Serikat atau The Fed dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
“Sebelum itu terjadi dampak-dampak dari luar yaitu dampak geopolitik dan suku bunga dijeda, terlebih dahulu Indonesia untuk menstabilkannya harus menaikkan suku bunga agar orang-orang juga lebih sadar,” tuturnya.
Penguatan rupiah juga didukung oleh pengukuhan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) bahwa tidak ada kecurangan dalam pemilihan presiden (piplres) 2024. Pelaku pasar memandang presiden dan wakil presiden RI yang terpilih dalam Pemilihan Umum 2024 mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dari Presiden RI Joko Widodo.
Di samping itu, penguatan rupiah juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, yakni beberapa rilisan angka Purchasing Managers Index (PMI) Jasa dan Manufaktur.
PMI Jasa turun menjadi 50,9 pada April 2024 dari angka periode sebelumnya sebesar 52,1. Sementara PMI manufaktur turun menjadi 49,9 pada April 2024 dari 51,9 pada angka periode sebelumnya, lebih lemah dari perkiraan sebesar 52. Penurunan PMI manufaktur mengindikasikan permintaan konsumen sedang melemah.
PMI Jasa melemah menjadi 50,9, dibandingkan sebelumnya 51,7, lebih buruk dari perkiraan 52. Data yang suram membebani dolar AS.
Selain itu, potensi de-eskalasi perang Israel dan Iran memberi angin segar sehingga permintaan akan safe haven mata uang yaitu dolar AS menurun. Oleh karenanya, aspek penguatan dolar AS dari sisi geopolitik yang memanas telah berkurang.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Rabu naik ke level Rp16.161 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.244 per dolar AS./








































