www.bisnistoday.co.id
Kamis , 2 Juli 2026
Home BURSA & KORPORASI Bursa IHSG Kembali Menguat di Tengah Pasar Tunggu Hasil Rapat FOMC The Fed
Bursa

IHSG Kembali Menguat di Tengah Pasar Tunggu Hasil Rapat FOMC The Fed

IHSG menguat
IHSG pada perdagangan Selasa (30/04) ditutup menguat
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (30/04) kembali ditutup menguat ditengah pelaku pasar menuggu hasil pertemuan The Feredal Open Market Committee (FOMC) The Fed. Kali ini, IHSG ditutup menguat 78,42 poin ke posisi 7.234,20. Sementara indeks LQ45 naik 11,37 poin ke posisi 926,72.

Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta, Selasa (30/04) menyebut, penguatan IHSG juga didukung menguatnya bursa regional Asia.

Dari mancanegara, katalis positif seiring dengan menguatnya bursa Amerika Serikat (AS) yang didukung oleh kinerja perusahaan yang positif dan juga laporan aktivitas manufaktur China yang tetap di jalur ekspansi.

National Bureau of Statistics of China melaporkan aktivitas pabrik China meningkat lebih cepat dari perkiraan prediksi pasar pada April 2024, dimana PMI Manufaktur berada di 50,4 dibandingkan dengan perkiraan konsensus pasar 50,3.

Sehingga, pasar menilai ekspansi aktivitas manufaktur di tengah upaya berkelanjutan dari Beijing untuk memacu peningkatan ekonomi.

Lebih lanjut, pelaku pasar sedang mencermati pertemuan The Federal Open Market Committee (FOMC) bank sentral AS The Fed pada Rabu (30/4) dan Kamis (1/5) pekan ini.

Dibuka menguat, IHSG betah di teritori positif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sembilan sektor meningkat dipimpin sektor transportasi & logistik yang naik 2,10 persen, diikuti sektor energi dan sektor barang baku yang masing-masing naik sebesar 1,61 persen dan 1,37 persen.

Sedangkan dua sektor terkoreksi yaitu sektor infrastruktur turun paling dalam minus 0,18 persen, diikuti sektor barang konsumen non primer yang minus 0,11 persen.

Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu HILL, PGAS, MHKI,DOOH dan BTPS. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni WIKA, SURI, ELTY, PBRX dan IOTF.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.151.714 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 22,19 miliar lembar saham senilai Rp15,98 triliun. Sebanyak 351 saham naik, 226 saham menurun, dan 202 tidak bergerak nilainya.

Baca juga: Pasar Sambut Positif Penetapan Prabowo-Gibran sebagai Pemenang Pemilu, IHSG Menguat

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain, indeks Nikkei menguat 470,89 poin atau 1,24 persen ke 38.405,69, indeks Hang Seng menguat 16,1 poin atau 009 persen ke 17.763,02, indeks Shanghai melemah 8,21 poin atau 0,26 persen ke 3.104,82, dan indeks Strait Times menguat 10,90 poin atau 0,33 persen ke 3.292,95.

Rupiah Kembali Melemah

Sementara itu, kurs rupiah melemah 4 poin atau 0,02 persen menjadi Rp16.259 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.255 per dolar AS.

“Indeks dolar naik sekitar 0,3 persen di perdagangan Asia, karena investor bersiap untuk pertemuan Fed (FOMC). Kekhawatiran akan suku bunga AS yang lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama menempatkan dolar pada jalur kenaikan 1,3 persen di bulan April,” kata Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi.

The Fed diperkirakan bakal mempertahankan suku bunga tetap stabil. Namun, Ketua The Fed Jerome Powell dinyatakan akan memberikan pernyataan hawkish terhadap suku bunga seiring adanya data inflasi AS yang kuat.Meninjau faktor dari ekonomi Tiongkok, data Purchasing Managers’ Index (PMI) menunjukkan aktivitas manufaktur sedikit melemah dari yang diperkirakan pada bulan April dibandingkan Maret, yakni 50,4 dari sebelumnya 50,8.

Selain itu, PMI non-manufaktur pada bulan April melemah lebih dari yang diperkirakan dengan angka aktual 51,2 dan perkiraan 52,3.

“Meskipun survei swasta memberikan gambaran yang lebih baik mengenai sektor manufaktur, data pada hari Selasa (30/4) masih menguraikan pelemahan berkelanjutan dalam perekonomian Tiongkok, meskipun kuartal pertama menunjukkan kinerja yang kuat,” ungkap dia./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Rully Arya Wisnubroto
Bursa

Mirae Asset Sekuritas: Investor Tetap Perlu Cermati Tantangan Domestik

JAKARTA, Bisnistoday - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pasar keuangan global...

Bursa

Intercontinental Exchange dan OKX Bentuk Joint Venture, Jembatani Pasar Aset Tradisional dan Digital

JAKARTA, Bisnistoday - Intercontinental Exchange (NYSE: ICE) dan OKX mengumumkan pembentukan joint...

Trading Saham
BursaHEADLINE NEWS

Investor Asing Mulai Berani Masuk Selektif ke Saham Perbankan

JAKARTA, Bisnistoday- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (17/6) kemarin...

Ilustrasi pergerakan saham (dok:Unsplash/jakub Żerdzicki)
Bursa

Dampak Perdamaian AS Iran: Harga Minyak Turun, Saham Naik

JAKARTA, Bisnistoday –Kesepakatan AS-Iran untuk mengakhiri perang berdampak pada melonjaknya harga saham...